Kesunyian di dalam penthaus mewah milik Arkan Adiguna selalu terasa mencekik, seolah-olah dinding-dinding marmer yang dingin ini ikut mengawasi setiap gerak-geriku. Malam ini, keheningan itu terasa berlipat ganda. Arkan belum pulang dari pertemuan bisnisnya di Singapura, atau setidaknya begitulah yang dikatakan Bi Sumi padaku sebelum wanita tua itu pamit tidur.
Aku berjalan menyusuri lorong panjang yang remang-remang, hanya diterangi oleh lampu-lampu dinding bergaya minimalis. Langkah kakiku yang te******* nyaris tak bersuara di atas lant** kayu ek yang mahal. Jantungku berdegup dengan ritme yang tidak beraturan—efek samping dari kecemasan yang terus-menerus menggerogoti jiwaku sejak aku menandatangani kontrak terkutuk itu.
Tujuanku sebenarnya adalah dapur untuk mengambil segelas air hangat, namun langkahku terhenti di depan sebuah pintu ganda berwarna obsidian di ujung lorong. Ruang kerja pribadi Arkan. Tempat yang secara eksplisit dilarang untuk aku injaki.
"Jangan pernah ma**k ke sana, Alya. Kecuali kau ingin melihat sisi dariku yang jauh lebih mengerikan daripada yang sudah kau tahu," bisikan dingin Arkan di awal kepindahanku kembali terngiang, membuat bulu kudukku meremang.
Biasanya, pintu itu selalu terkunci dengan sistem keamanan biometrik yang canggih. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Daun pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah tipis, tidak lebih dari satu inci, yang membiarkan seberkas cahaya remang dari dalam ruangan merayap keluar.
Apakah dia lupa menguncinya? Arkan Adiguna yang perfeksionis tidak pernah lupa akan hal sekecil apa pun.
Rasa ingin tahuku mulai berperang dengan rasa takut. Sebagai mahasiswi kedokteran, aku dididik untuk mencari tahu, menganalisis, dan membedah misteri. Namun, sebagai 'milik' Arkan, aku tahu rasa ingin tahu adalah racun yang bisa membunuhku. Aku teringat tagihan rumah sakit ibu yang baru saja dilunasi olehnya kemarin. Aku adalah pion yang sudah dibeli.
Tanganku terulur, gemetar hebat. Ujung jariku menyentuh permukaan pintu yang dingin. *Hanya sebentar, Alya. Lihat saja apa yang ada di sana, lalu pergi.*
Pintu itu berayun terbuka tanpa suara, seolah-olah mengundangku ma**k ke dalam sarang pemangsa. Bau aroma kayu cendana dan tembakau mahal—aroma khas Arkan—langsung menyerbu indra penciumanku. Ruangan itu luas, dipenuhi dengan rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. Di tengahnya, sebuah meja kerja dari kayu jati tua yang solid berdiri angkuh.
Aku melangkah ma**k, merasa seperti penyusup di wilayah terlarang. Mataku menyapu meja kerja yang tertata rapi. Tidak ada dokumen yang tercecer, hanya sebuah laptop yang tertutup dan lampu meja yang masih menyala redup. Namun, perhatianku teralih pada sebuah laci di sisi meja yang tidak tertutup sempurna.
Mungkin karena terburu-buru mengejar penerbangan, Arkan tidak sempat merapikan semuanya.
Aku mendekat, nafasku terasa sesak. Di dalam laci itu, aku melihat sebuah map kulit berwarna cokelat tua tanpa label. Dengan tangan yang masih gemetar, aku menarik map itu keluar. Di dalamnya terdapat tumpukan berkas-berkas lama, beberapa di antaranya tampak menguning dimakan usia.
"Hanya berkas bisnis..." gumamku lirih, mencoba menenangkan debaran jantungku yang kian mengg***.
Namun, saat aku membalik lembaran ketiga, duniaku seolah berhenti berputar. Sebuah foto terjatuh dari selipan kertas. Aku membungkuk untuk mengambilnya, dan seketika itu juga oksigen di sekitarku seolah lenyap.
Itu adalah foto seorang pria paruh baya yang sangat aku kenali. Pria dengan senyum hangat yang dulu selalu menjemputku di sekolah sebelum badai menghancurkan keluarga kami. Itu adalah ayahku.
Tetapi, foto itu tidak lagi murni. Di wajah ayahku, terdapat tanda silang besar yang digoreskan dengan tinta merah pekat, begitu tekanannya hingga kertas foto itu nyaris sobek. Di bawah foto itu, tertulis sebuah catatan dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas—tulisan tangan Arkan yang sangat aku hafal.
*“Utang nyawa dibayar nyawa. Penghancur harus dihancurkan sampai ke akarnya.”*
Tanganku lemas, membuat foto itu terlepas dari genggamanku dan meluncur jatuh ke lant**. Kepalaku terasa berdenyut hebat. Kenapa Arkan memiliki foto ayahku? Dan kenapa ada kebencian yang begitu murni terpancar dari coretan merah itu?
Tiba-tiba, ingatanku ditarik kembali pada malam-malam di mana Arkan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara gairah yang membara dan kebencian yang dingin. Aku selalu mengira itu hanyalah sifat kasarnya, namun sekarang semuanya mulai ma**k akal dengan cara yang mengerikan.
Aku bukan sekadar pemuas nafsu atau alat untuk meringankan beban finansialnya.
Aku melihat sebuah amplop lagi di dalam map yang sama. Di sana tertulis namaku: *Alya Putri - Target Subjek.*
Aku baru saja akan membuka amplop itu ketika suara denting lift yang terbuka di lant** ini memecah kesunyian malam. Jantungku mencelos. Itu Arkan. Dia sudah pulang.
Panik mulai menguasai diriku. Aku buru-buru mema**kkan kembali foto itu ke dalam map, mencoba menyusunnya kembali sebisaku. Tanganku berkeringat, membuat kertas-kertas itu terasa lengket. Aku menutup laci itu dengan sekali dorongan pelan, lalu berbalik untuk melarikan diri dari ruangan itu.
Namun, langkahku terhenti tepat di ambang pintu.
Sosok tinggi besar dengan setelan jas hitam yang sedikit berantakan berdiri di sana, menghalangi jalan keluar. Cahaya dari lorong menyinari punggungnya, membuat wajahnya jatuh dalam kegelapan yang mengancam. Aroma alkohol tipis dan parfum mahal menguar darinya.
Arkan berdiri mematung, matanya yang tajam bak elang langsung terkunci pada mataku, lalu perlahan turun ke tanganku yang masih memegang pinggiran meja kerjanya.
"Sudah kubilang, Alya," suaranya rendah, berat, dan mengandung ancaman yang membuat tulang-tulangku terasa seperti es. "Ada pintu yang seharusnya tidak pernah kau buka."
Dia melangkah maju ke dalam ruangan, menutup pintu ganda di belakangnya dengan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan, mengunci kami berdua dalam kegelapan yang penuh dendam. Aku terperangkap. Dan kali ini, tidak ada kontrak yang bisa menyelamatkanku dari apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!