Udara di dalam ruang kerja Arkan terasa begitu tipis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar oleh tumpukan buku tua dan aroma kayu m***ni yang berat. Aku berdiri mematung di tengah ruangan, mendengarkan detak jantungku sendiri yang berpacu liar, beradu dengan detak jam dinding antik yang terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran.
Arkan sedang berada di Singapura untuk pertemuan mendesak dengan investor, memberiku celah yang tidak mungkin kusia-siakan. Selama berbulan-bulan, aku hidup di bawah bayang-bayang pria ituβmenjadi pemuas dahaganya, menjadi pion dalam permainan dendam yang tidak sepenuhnya kupahami. Namun, sorot mata Arkan yang terkadang rapuh di tengah kekejamannya selalu membuatku bertanya-tanya: apa sebenarnya yang ia sembunyikan di balik topeng emas ini?
Tanganku yang gemetar meraba deretan buku di rak dinding yang paling pojok. Aku ingat pernah melihatnya berdiri di sini terlalu lama, jarinya berhenti pada sebuah buku tebal tanpa judul. Saat aku menarik buku itu, suara klik mekanis yang halus terdengar. Sebuah panel kayu bergeser, menyingkap sebuah b**nkas digital yang tertanam di dinding.
Napas kutersekat. Kode apa? Aku mencoba tanggal lahirnya. Gagal. Aku mencoba tanggal kematian ibunya. Gagal. Pikiranku berputar cepat, mencari kepingan informasi yang pernah ia lepaskan di saat-saat paling intim. Lalu, sebuah angka terlintas: tanggal kecelakaan ayahku. Tanggal yang Arkan sebut sebagai awal dari kebenciannya.
*0-7-1-1.*
Lampu indikator berubah hijau. Pintu b**nkas terbuka dengan desisan pelan.
Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau batangan emas. Hanya ada satu map biru tua yang tampak kusam dan sebuah kotak beludru hitam. Dengan tangan dingin, aku menarik map itu. Di sampulnya tertulis: *Wasiat Terakhir dan Testamen β Surya Adiguna.*
Ayah Arkan.
Aku duduk di kursi kebesaran Arkan, merasa seperti penyusup di singgasana i****. Lembar demi lembar kubaca dengan teliti. Kalimat-kalimat hukum yang kaku itu mulai menari-nari di depan mataku, namun maknanya menghantamku seperti godam baja.
"...dengan ini menyatakan bahwa seluruh aset utama, terma**k enam puluh persen saham pengendali di Adiguna Group, tidak diwariskan kepada putra kandung saya, Arkan Adiguna, melainkan kepada putri dari sahabat saya, Baskoro Putri, yang bernama Alya Putri."
Duniaku serasa jungkir balik. Aku membaca ulang kalimat itu, meyakinkan diri bahwa aku tidak salah lihat. Namun, baris berikutnya bahkan lebih menghancurkan.
"Hibah ini diberikan sebagai bentuk restitusi dan pengakuan atas kesalahan besar yang saya lakukan terhadap Baskoro. Jika pada saat wasiat ini dibuka Alya Putri belum mencapai usia dewasa atau belum ditemukan, maka Arkan Adiguna hanya bertindak sebagai wali amanat sementara yang wajib menyerahkan seluruh hak tersebut saat Alya Putri ditemukan."
Tanganku gemetar hebat hingga kertas di genggamanku berderik keras. Jadi, selama ini... aku bukan sekadar anak musuh yang ia benci. Aku adalah pemilik sah dari semua kemewahan ini. Arkan tidak sedang menghukumku demi keadilan keluarganya; dia sedang menahanku agar aku tidak pernah tahu siapa aku sebenarnya.
Kontrak 'sugar baby' itu, beasiswa yang ia tawarkan, biaya rumah sakit ibuku... semuanya bukan berasal dari kemurahhatian atau bahkan sekadar alat balas dendam. Itu adalah umpan. Dia mengikatku dengan utang budi palsu agar aku tetap kecil, tetap terhina, dan tetap berada di bawah kendalinya sehingga aku tidak akan pernah memeriksa sejarah hukum ayahku.
Dia tidak membalaskan dendam keluarganya. Dia sedang merampok hak lahirku.
"Begitu rupanya cara kerja otakmu yang cerdas, Alya."
Suara bariton yang dingin itu menyambar dari arah pintu, membuatku tersentak hingga map di tanganku terjatuh ke lant**. Di sana, berdiri Arkan Adiguna. Jasnya sedikit berantakan, matanya gelap dan tajam, memancarkan aura predator yang baru saja menemukan mangsanya sedang mengob**k-abrik sarangnya.
Dia tidak di Singapura. Dia menjebakku.
"Arkan..." suaraku tercekat di tenggorokan. "Apa maksud semua ini? Wasiat ini... ayahmu memberikan perusahaan ini kepadaku?"
Arkan melangkah ma**k, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi dentum yang final. Langkah kakinya yang berat di atas lant** kayu terdengar seperti vonis mati. Dia berhenti tepat di depan meja, menatap dokumen yang berantakan di lant**, lalu beralih menatapku dengan senyum miring yang tidak sampai ke mata.
"Ayahku adalah pria tua yang lemah dan penuh rasa bersalah di akhir hayatnya," ucap Arkan, suaranya rendah dan mengancam. "Dia ingin memberikan hasil kerja keras seluruh generasi Adiguna kepada anak dari pria yang hampir menghancurkannya. Menurutmu, apa aku akan membiarkan itu terjadi?"
Aku berdiri, mencoba mencari sisa-sisa keberanian di balik rasa mual yang mengaduk perutku. "Jadi kau memanfaatkanku? Kau membuatku merasa seperti sampah, memaksaku menandatangani kontrak itu, hanya untuk memastikan aku tetap menjadi budakmu sementara kau duduk di kursi yang seharusnya milikku?"
Arkan condong ke depan, telapak tangannya menekan meja, mengurungku dalam ruang sempit di antara tubuhnya dan kursi. Aroma parfumnya yang maskulin kini terasa mencekik.
"Kau salah satu hal, Alya," bisiknya tepat di telingaku, hembusan napasnya membuat bulu kudukku berdiri. "Aku tidak hanya ingin hartanya. Aku ingin menghancurkan benih yang ditinggalkan Baskoro sampai tidak ada yang tersisa. Tapi ternyata, melihatmu memohon padaku jauh lebih memuaskan daripada sekadar menyingkirkanmu."
Dia meraih daguku, memaksaku menatap matanya yang berkilat penuh obsesi dan kegelapan. "Sekarang kau sudah tahu rahasianya. Jadi, mari kita buat kesepakatan baru. Kau bisa mencoba menuntutku dan kehilangan biaya pengobatan ibumu malam ini juga, atau kau tetap diam, kembali ke tempat tidurku, dan berpura-pura tidak pernah melihat kertas itu."
Aku menatapnya dengan kebencian yang mendidih, namun di balik itu, ada rasa sakit yang luar biasa karena menyadari bahwa pria yang sempat membuatku luluh adalah arsitek dari seluruh penderitaanku.
Tepat saat itu, ponsel Arkan bergetar di atas meja. Sebuah pesan muncul di layar yang bisa kulihat dengan jelas: *'Target dipindahkan ke unit isolasi. Eksekusi penghentian bantuan medis siap dilakukan jika tidak ada instruksi lanjut.'*
Arkan melirik ponselnya, lalu kembali menatapku dengan seringai kemenangan. "Pilihan ada di tanganmu, Alya. Ingin menjadi pemilik perusahaan yang bangkrut karena proses hukum yang lama, atau tetap menjadi milikku dan membiarkan ibumu tetap bernapas?"
Darahku mendingin. Aku terjepit di antara kebenaran yang membebaskan dan kenyataan yang membunuh. Di dalam b**nkas itu, aku menemukan kekayaanku, namun di hadapanku, aku melihat penjara yang lebih gelap dari sebelumnya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!