Lampu kristal di ruang kerja pribadiku membiaskan cahaya yang tajam, hampir menyakitkan mata. Aku duduk di balik meja m***ni yang berat, menatap tumpukan dokumen yang baru saja dikirimkan oleh detektif swasta independen yang kusewa di luar sepengetahuan firma hukum perusahaanku. Jemariku mengetuk permukaan meja dengan irama yang tak beraturan, mencerminkan detak jantungku yang mulai kehilangan sinkronisasinya.
Pintu jati besar itu berderit pelan. Bima, asisten kepercayaanku selama sepuluh tahun terakhir, melangkah ma**k dengan secangkir espresso ganda di atas nampan perak. Wajahnya setenang air telaga—topeng yang selama ini kuanggap sebagai bentuk profesionalisme tertinggi.
"Ini kopi Anda, Pak Arkan. Jadwal rapat dengan dewan komisaris besok pagi sudah saya siapkan," ucap Bima dengan nada datar yang sopan.
Aku tidak menyentuh cangkir itu. Mataku tetap terpaku pada lembar laporan di hadapanku. "Bima, ingatkah kau malam saat ayahku melompat dari lant** dua puluh gedung ini?"
Gerakan Bima terhenti sejenak saat ia meletakkan cangkir. "Tentu, Pak. Itu adalah malam yang paling kelam bagi Adiguna Group."
"Dan kau yang memberikan berkas bukti bahwa Surya Pratama—ayah Alya—adalah orang yang memalsukan tanda tangan ayahku dalam transaksi penggelapan dana itu, bukan?" suaraku merendah, hampir berupa bisikan yang mengancam.
Bima menegakkan punggungnya. Ada kilatan aneh di matanya, sesuatu yang menyerupai rasa bangga yang tersembunyi. "Saya hanya menjalankan tugas saya untuk membongkar kebenaran, Pak."
Aku melemparkan sebuah amplop cokelat besar ke tengah meja. Isinya berhamburan—foto-foto pertemuan rahasia, rekaman transkrip bank lama, dan surat pernyataan dari mantan akuntan perusahaan yang telah lama menghilang.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan ini?" tuntutku. Aku berdiri, memutari meja, dan mendekatinya hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang mahal—parfum yang kubelikan sebagai bonus kesetiaannya tahun lalu. "Ini adalah bukti aliran dana dari rekening ayahku ke rekening pribadimu, dua hari setelah Surya Pratama dijebloskan ke penjara. Dan ini... surat ini membuktikan bahwa Surya sebenarnya mencoba menghentikan penggelapan itu, tapi kau memanipulasi bukti agar dia terlihat seperti dalangnya."
Wajah Bima yang semula tenang perlahan retak. Sudut bibirnya berkedut. Ia tidak mundur. Sebaliknya, ia justru mengulas senyum tipis yang terasa sangat asing di mataku.
"Anda terlalu pintar untuk dibodohi selamanya, Arkan," suara Bima berubah, tak lagi ada nada hormat. "Tapi Anda juga terlalu buta karena dendam. Sangat mudah mengarahkan amarah Anda pada seorang pria yang sudah hancur. Anda membutuhkan kambing hitam untuk rasa sakit Anda, dan saya menyediakannya."
Rasa panas menjalar dari dadaku ke seluruh tubuh. Aku mencengkeram kerah kemejanya, menyentakkannya hingga punggungnya menghantam meja. "Mengapa? Ayahku memercayaimu seperti anaknya sendiri!"
Bima tertawa, sebuah tawa kering yang menusuk telinga. "Percaya? Ayahmu memperlakukanku seperti an**** yang setia! Dia memiliki segalanya, sementara aku yang bekerja di balik bayang-bayang hanya mendapatkan remah-remah. Aku ingin melihat dinasti Adiguna hancur dari dalam. Dan lihat dirimu sekarang... kau telah menghancurkan hidup putri dari orang yang sebenarnya mencoba menyelamatkan ayahmu."
Tanganku gemetar. Bayangan Alya melintas di kepalaku. Wajahnya yang pucat saat pertama kali menandatangani kontrak itu, air matanya yang tumpah saat aku merendahkannya di depan umum, dan tatapan penuh luka setiap kali aku memperlakukannya seperti barang milik yang bisa kusakiti sesuka hati.
Semua kebencian yang kupupuk selama belasan tahun ini... semuanya ternyata dibangun di atas fondasi kebohongan yang diciptakan oleh orang yang berdiri tepat di depanku.
"Kau memanipulasiku untuk membenci orang yang salah," desisku. Suaraku parau, tertahan oleh sesak yang tiba-tiba menghimpit paru-paruku. "Kau membiarkan aku menjadi monster bagi seorang gadis yang tidak bersalah."
"Monster?" Bima menatapku dengan tatapan mengejek. "Jangan salahkan aku sepenuhnya. Kau menikmati peranmu sebagai algojo, Arkan. Kau mencint** kekuasaan yang kau miliki atas Alya. Aku hanya memberikan alasan, kau yang memilih untuk menjadi kejam."
Aku melepaskan cengkeramanku dengan kasar hingga ia terhuyung. "Keluar. Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu membusuk di penjara malam ini juga."
Bima merapikan jasnya, sama sekali tidak terlihat takut. "Saya akan pergi. Tapi ingat satu hal, Pak Arkan. Alya Putri bukan hanya sekadar anak musuh yang kau siksa. Jika kau membaca halaman terakhir berkas itu dengan teliti... kau akan tahu siapa dia sebenarnya dalam silsilah kekayaan ini."
Bima melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang m****akkan telinga di ruangan itu. Aku segera menyambar lembaran terakhir yang ia maksud. Mataku memindai baris demi baris dokumen wasiat rahasia yang selama ini disembunyikan dalam b**nkas berlapis.
Duniaku serasa runtuh seketika.
Dokumen itu menyatakan dengan jelas: saham mayoritas Adiguna Group bukan milik mendiang ayahku, melainkan milik Surya Pratama yang diberikan sebagai kompensasi atas penemuan teknologi yang menjadi tulang punggung perusahaan ini. Dan karena Surya telah tiada, seluruh imperium yang kupimpin—gedung ini, rumahku, uangku—secara hukum adalah milik Alya Putri.
Aku terduduk lemas di kursiku. Napasku memburu. Aku bukan hanya telah menyiksa seorang gadis tak berdosa; aku telah memperbudak pemilik sah dari semua yang aku banggakan. Selama ini, aku adalah pencuri yang berpura-pura menjadi raja, sementara ratu yang sebenarnya sedang menangis di kamarku, menungguku memberikan luka baru.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Bukan ketukan Bima yang tegas, melainkan ketukan ragu-ragu yang sangat kukenal.
"Arkan? Kau di dalam? Aku... aku membawakanmu teh hangat," suara Alya terdengar lirih dari balik pintu.
Aku menatap dokumen di tanganku, lalu menatap pintu. Bagaimana aku bisa menatap matanya sekarang? Bagaimana aku bisa menyembunyikan kenyataan bahwa aku telah mencuri hidupnya, hartanya, dan martabatnya demi sebuah dendam yang ternyata hanya fatamorgana?
Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Alya dengan balutan gaun tidur tipis, terlihat begitu rapuh namun bersinar di bawah remang lampu koridor. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat hatiku yang beku terasa teriris sembilu.
"Ada apa? Wajahmu pucat sekali," tanyanya lembut sambil melangkah mendekat.
Tanganku tanpa sadar meremas dokumen itu, menyembunyikannya di bawah tumpukan kertas lain. Aku harus memutuskan sekarang: memberitahunya dan kehilangan segalanya, atau tetap menjadi monster demi mempertahankan imperium ini.
"Alya..." suaraku tercekat di tenggorokan. "Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
Namun, sebelum aku sempat melanjutkan, ponsel di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan singkat ma**k dari nomor tak dikenal yang membuat darahku berhenti mengalir: *'Jangan coba-coba mengaku padanya, atau ibunya tidak akan pernah keluar dari rumah sakit itu hidup-hidup.'*
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!