Udara di lant** teratas gedung Adiguna Group terasa begitu tipis, atau mungkin itu hanya perasaan di dadaku saja yang kian menyempit. Aku melangkah menyusuri lorong marmer yang dingin, suara ketukan tumit sepatuku bergema, memantul di dinding-dinding kaca yang memamerkan kemegahan Jakarta di bawah sana. Dahulu, aku merasa seperti semut kecil yang bisa diinjak kapan saja saat berada di sini. Namun sekarang, folder hitam yang kupeluk erat di dada adalah senjata pemusnah massal yang siap kuruntuhkan ke atas kepala mereka semua.
Dua orang petugas keamanan di depan pintu ruang rapat besar mencoba menghalangiku. "Maaf, Nona Alya. Pak Arkan sedang mengadakan rapat tertutup dengan jajaran direksi. Anda tidak diperkenankan ma**k."
Aku berhenti tepat di depan mereka. Aku menarik napas dalam, merasakan keberanian yang asing mengalir di nadiku. Aku bukan lagi mahasiswi beasiswa yang memohon-mohon uang operasi. Aku bukan lagi 'peliharaan' yang harus patuh pada setiap perintah Arkan.
"Buka pintunya," ucapku datar, suaraku tidak bergetar sedikit pun. "Atau kalian akan kehilangan pekerjaan sebelum matahari terbenam hari ini."
Kedua pria itu saling lirik, tertegun melihat kilat di mataku yang biasanya hanya tertunduk layu. Sebelum mereka sempat memprotes lebih jauh, aku mendorong pintu ganda kayu m***ni itu dengan seluruh tenagaku.
Keheningan seketika menyergap ruangan. Belasan pria paruh baya berjas mahal menoleh ke arahku dengan raut wajah terganggu. Di ujung meja panjang itu, Arkan duduk dengan postur tegak yang dominan. Rahangnya mengeras saat melihatku. Matanya yang tajam seperti elang itu menatapku penuh peringatan, seolah-olah menyuruhku pergi sebelum dia kehilangan kesabaran.
"Alya? Apa yang kau lakukan di sini? Keluar sekarang," suara Arkan rendah, berat, dan mengandung ancaman yang tak terbantahkan.
Aku tidak bergeming. Alih-alih mundur, aku melangkah maju menuju pusat ruangan, mengabaikan tatapan merendahkan dari para pemegang saham. Aku meletakkan folder hitam itu tepat di tengah meja, di hadapan seorang notaris tua yang tampak bingung.
"Rapat ini tidak sah tanpa kehadiran pemilik saham mayoritas yang sebenarnya," kataku lantang. Suaraku menggema di ruangan yang luas itu.
Arkan berdiri, kursinya berderit kasar di atas lant**. "Jangan membuat lelucon di sini, Alya. Kau sedang tidak berada di apartemen. Pulanglah, kita bicara nanti."
Dia mendekat, mencoba meraih lenganku untuk menyeretku keluar, tapi aku menepis tangannya dengan kasar. Rasa panas menjalar di bekas sentuhannyaβcampuran antara benci dan kerinduan yang memuakkan.
"Buka folder itu, Pak Danu," perintahku pada sang notaris, mengabaikan Arkan.
Notaris itu, dengan tangan gemetar, membuka ikatan folder tersebut. Ia mulai membaca lembar demi lembar dengan kacamata yang melorot di hidungnya. Ruangan itu kembali hening, begitu sunyi hingga suara napas Arkan yang memburu terdengar jelas di telingaku.
Wajah Pak Danu perlahan memucat. Ia menatap Arkan, lalu menatapku, seolah baru saja melihat hantu. "Ini... ini tidak mungkin. Akta penyerahan aset rahasia dari mendiang Pak Adiguna Senior... dan hasil tes DNA yang disahkan pengadilan..."
"Apa maksudnya?" salah satu direksi menyela dengan nada tidak sabar.
Pak Danu berdehem, suaranya parau. "Berdasarkan dokumen ini, Alya Putri adalah putri tunggal dari almarhum Bapak Baskoro, yang secara sah memegang hak opsi atas lima puluh satu persen saham Adiguna Group melalui wasiat tersembunyi yang dititipkan pada firma hukum di Singapura. Arkan Adiguna... selama ini hanya bertindak sebagai pengelola sementara sampai pewaris sah ditemukan."
Guntur seolah meledak di dalam ruangan itu. Bisik-bisik panik mulai pecah. Arkan mematung. Wajahnya yang biasanya tidak terbaca kini menunjukkan retakan emosi yang dalamβkaget, tidak percaya, dan kemarahan yang membara.
"Kau mencuri berkas itu dari b**nkasku," desis Arkan, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dariku. Aku bisa mencium aroma parfum kayunya yang maskulin, aroma yang biasanya membuatku luluh, namun kini hanya mengingatkanku pada setiap pengkhianatan yang ia susun rapi di balik dendamnya.
"Aku tidak mencuri milikmu, Arkan. Aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milik ayahku yang kau hancurkan namanya," balasku, menatap tepat ke dalam manik matanya yang gelap. "Kau menggunakan aku sebagai pion untuk membalas dendam pada orang mati, tanpa menyadari bahwa kau hanyalah penjaga takhta bagi anak dari orang yang kau benci itu."
Arkan terdiam, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Di sekeliling kami, para direksi mulai bereaksi. Mereka adalah hiu yang mencium bau darah. Jika Arkan bukan lagi pemilik sah, posisinya sangat rentan. Terutama karena belakangan ini beberapa proyek besarnya sedang dalam pengawasan ketat akibat dugaan manipulasi dana yang sengaja disabotase oleh rivalnya.
"Nona Alya," salah satu pemegang saham berdiri dengan senyum menjilat. "Jika dokumen ini benar, maka Anda berhak memberikan mosi tidak percaya pada kepemimpinan Pak Arkan saat ini. Perusahaan sedang berada dalam posisi sulit karena kebijakan agresifnya. Kita bisa melakukan voting sekarang untuk melengserkannya."
Aku menoleh pada pria itu, lalu kembali menatap Arkan. Arkan tampak hancur, namun ia tetap berdiri tegak, menolak untuk terlihat lemah di hadapanku. Di matanya, aku melihat kerapuhan yang selama ini ia sembunyikanβseorang anak laki-laki yang hanya ingin membela kehormatan keluarganya, namun tersesat dalam kebenciannya sendiri.
Pilihannya ada di tanganku. Aku bisa membalas dendamnya detik ini juga. Aku bisa menendangnya keluar dari gedung ini, membiarkannya kehilangan segalanya, persis seperti yang ia rencanakan padaku. Aku bisa menghancurkan Arkan Adiguna dengan satu kalimat saja.
"Nona Alya? Keputusan Anda?" desak direktur tadi.
Arkan menatapku, matanya seolah menantangku untuk menghabisinya. "Lakukan, Alya. Hancurkan aku seperti aku menghancurkanmu."
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku. Bayangan ibuku di rumah sakit, kontrak 'sugar baby' yang merendahkan itu, dan setiap ciuman yang ia berikan di antara kalimat-kalimat kasarnya berputar di kepalaku. Aku memegang kendali sekarang. Aku adalah ratu di papan catur ini.
Aku menarik napas panjang, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sebelum kembali ke wajah Arkan yang pucat.
"Rapat ini ditunda satu jam," kataku tegas, mengejutkan semua orang. "Saya perlu bicara berdua dengan Pak Arkan. Di kantornya. Sekarang."
Aku berbalik tanpa menunggu jawaban, berjalan menuju kantor pribadi yang selama ini menjadi penjara sekaligus tempat perlindunganku. Aku bisa merasakan tatapan Arkan yang membakar punggungku saat ia mengikutiku. Saat pintu kantor tertutup rapat, aku berbalik dan mendapati Arkan sudah berdiri di hadapanku, napasnya memburu.
"Kenapa kau tidak melakukannya?" tuntutnya, suaranya serak. "Kau punya kesempatan untuk membuangku ke jalanan. Kenapa kau ragu?"
Aku mendekat, menyentuh kerah jas mahalnya, merapikannya dengan gerakan yang lambat dan menyiksa. "Karena jika aku langsung menghancurkanmu, itu terlalu mudah, Arkan. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Bergantung pada belas kasihan orang yang kau benci."
Aku mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai mataku. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana. Kau akan tetap menjadi CEO, tapi kau akan bekerja untukku. Setiap napasmu, setiap keputusanmu, harus atas izin dariku. Aku adalah pemilikmu sekarang, Arkan. Bukankah itu kontrak yang kau sukai?"
Rahang Arkan mengatup rapat, matanya berkilat antara amarah dan obsesi yang gelap. Dia menyambar pinggangku, menarikku mendekat hingga tubuh kami merapat tanpa celah.
"Kau sedang bermain api, Alya," bisiknya tepat di bibirku. "Kau pikir kau bisa mengendalikan i**** yang kau ciptakan sendiri?"
"Kita lihat saja nanti," tantangku, tepat saat pintu kantor digedor dengan keras oleh sekretarisnya yang panik.
"Pak Arkan! Nona Alya! Polisi ada di bawah... mereka membawa surat penggeledahan terkait berkas penggelapan pajak yang baru saja bocor ke publik!"
Aku tersentak. Itu bukan bagian dari rencanaku. Seseorang telah bergerak lebih cepat dariku untuk menghancurkan Arkanβdan jika Arkan jatuh sekarang karena ka**s kriminal, seluruh warisanku pun akan ikut terkubur dalam skandal ini. Siapa yang mengkhianati kami?
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!