Dinginnya pendingin ruangan di lant** paling atas Gedung Adiguna seolah membekukan sumsum tulangku. Aku merapikan blazer hitam rancangan desainer ternama yang membalut tubuhku, mencoba menyembunyikan getaran halus di jemari. Di balik kain mahal ini, jantungku berdegup kencang, menabuh genderang perang yang tak bisa kuhindari.
Arkan berdiri di sampingku. Wajahnya sekaku pahatan marmer, matanya tajam menatap pintu kayu jati besar di depan kami. Ia tidak mengatakan apa-apa sejak kami turun dari mobil, namun genggaman tangannya yang sejenak meremas bahuku—sebelum ia kembali bersikap dingin—memberitahuku bahwa ia pun merasakan ketegangan yang sama.
"Ingat, Alya," suara Arkan rendah, nyaris seperti desisan. "Jangan biarkan mereka mencium ketakutanmu. Di dalam sana, mereka bukan manusia. Mereka adalah hiu yang lapar akan kekuasaan."
Aku menarik napas panjang, membiarkan aroma parfum kayu cendana milik Arkan memenuhi paru-paruku. "Aku tahu siapa mereka, Arkan. Dan aku tahu siapa diriku sekarang."
Pintu terbuka. Suara riuh rendah di dalam ruangan mendadak senyap saat kami melangkah ma**k. Puluhan pasang mata—semuanya pria dan wanita paruh baya dengan pakaian yang harganya mungkin setara dengan biaya operasi ibuku—menatap kami dengan tatapan menghakimi. Di ujung meja oval yang panjang, duduklah Pramono Adiguna, paman Arkan yang selama ini berambisi menggulingkan keponakannya sendiri.
"Arkan," Pramono menyapa dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Dan... siapa gadis kecil ini? Aku tidak menyangka rapat umum pemegang saham berubah menjadi ajang membawa simpanan."
Tawa kecil merayap di sudut ruangan. Aku merasakan kemarahan Arkan memuncak, rahangnya mengeras, tapi aku mendahuluinya. Aku menarik kursi di sebelah kursi utama—kursi yang seharusnya kosong—dan duduk dengan punggung tegak.
"Nama saya Alya Putri, Tuan Pramono," ucapku, suaraku stabil melintasi ruangan. "Dan saya di sini bukan sebagai tamu. Saya di sini sebagai pemegang saham pengendali yang baru."
Keheningan yang mencekam menyusul pernyataanku. Aku membuka tas kulitku, mengeluarkan map hitam yang berisi dokumen yang kutemukan di b**nkas Arkan—dokumen yang membuktikan bahwa seluruh aset yang dikelola Arkan sebenarnya adalah milik ayahku yang didepak secara ilegal, dan kini secara hukum jatuh ke tanganku sebagai ahli waris tunggal.
Pramono tertawa terbahak-bahak, namun ada nada sumbang dalam suaranya. "Lelucon macam apa ini? Arkan, kau sudah g*** membiarkan pe***** ini mengoceh?"
Arkan condong ke depan, meletakkan kedua tangannya di atas meja. Tatapannya begitu gelap hingga membuat Pramono terdiam. "Dia tidak mengoceh, Paman. Berkas yang ada di tangannya adalah berkas asli yang selama ini kalian sembunyikan dari sejarah perusahaan ini. Alya memiliki hak suara lebih besar dari kalian semua jika digabungkan."
Aku melihat kepanikan mulai merayap di wajah para pemegang saham. Ini adalah rencana kami—atau lebih tepatnya, aliansi darurat kami. Meskipun dendam Arkan padaku belum sepenuhnya luntur, dan meskipun aku masih membenci cara dia menjebakku, kami memiliki musuh bersama: orang-orang yang ingin menghancurkan Adiguna Group demi keserakahan pribadi.
"Ini ilegal! Ini penipuan!" teriak salah satu direktur.
"Satu kata lagi tentang penipuan," aku memotong dengan nada tajam yang bahkan mengejutkan diriku sendiri, "dan saya akan memastikan audit forensik dilakukan pada setiap sen yang kalian gelapkan selama lima tahun terakhir. Saya punya buktinya di sini." Aku menepuk folder lain yang kusiapkan. Kemampuan analisisku sebagai mahasiswa kedokteran ternyata sangat berguna untuk membedah laporan keuangan yang rumit dalam waktu semalam.
Pramono berdiri, wajahnya memerah. "Kau pikir kau bisa menang, hah? Gadis beasiswa yang menjual tubuh demi ibunya yang sekarat? Kau tidak punya tempat di dunia kami!"
Arkan berdiri dengan gerakan yang begitu tenang namun mengancam. Ia berjalan memutari meja, mendekati Pramono. "Dia punya tempat yang jauh lebih tinggi darimu, Paman. Karena mulai hari ini, kau dipecat. Dan jika kau berani menghinanya sekali lagi, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari dari balik jeruji besi."
Ketegangan di ruangan itu nyaris meledak. Aku bisa merasakan keringat dingin di tengkukku. Ini bukan sekadar perebutan kursi CEO; ini adalah hidup dan mati. Aku tahu Pramono bukan orang yang akan menyerah begitu saja. Ia memiliki koneksi dengan dunia bawah yang bahkan lebih gelap dari Arkan.
Saat pemungutan suara darurat dimulai, suasana berubah menjadi sangat berbahaya. Beberapa orang di ruangan mulai berbisik-bisik di ponsel mereka. Aku menangkap tatapan sekilas antara Pramono dan pengawalnya yang berdiri di sudut ruangan.
"Arkan," bisikku saat suasana semakin ricuh. "Ada yang tidak beres."
Arkan tidak menjawab, tapi tangannya yang berada di bawah meja meraba pinggangnya, memastikan sesuatu yang keras terselip di sana. Ia tahu.
Tiba-tiba, lampu ruangan berkedip dan padam total. Kegelapan pekat menyergap. Jeritan panik terdengar di sana-sini. Dalam hitungan detik, aku merasakan lengan kuat Arkan menyambar pinggangku, menarikku jatuh ke lant** tepat saat suara *b**k!* keras menghantam meja kayu tepat di tempat kepalaku berada tadi.
"Tetap di bawah, Alya!" perintah Arkan.
Suara tembakan pertama meletus, memecah kaca jendela besar di belakang kami. Angin kencang ma**k ke dalam ruangan bersamaan dengan suara helikopter yang mendekat. Di tengah kekacauan itu, ponselku bergetar hebat di saku blazer. Sebuah pesan ma**k dari nomor tak dikenal.
Aku membukanya dengan tangan gemetar. Cahaya dari layar ponsel menjadi satu-satunya penerang kecil di dekat wajahku.
*“Pilih sekarang, Alya: Kekuasaan atas Adiguna, atau nyawa ibumu di ruang ICU? Waktumu 10 menit sebelum perawat mencabut selang oksigennya.”*
Duniaku serasa runtuh. Aku menoleh ke arah Arkan yang sedang membalas tembakan ke arah pintu. Ia berjuang untuk melindungiku, untuk melindungi masa depan yang baru saja kurebut. Namun, di layar ponselku, sebuah foto menunjukkan seorang pria berpakaian medis berdiri di samping ranjang ibuku dengan tangan memegang katup oksigen.
Air mata membasahi pipiku. Dendam, harta, dan keadilan yang baru saja kudapatkan mendadak terasa tidak berarti. Aku harus memilih, dan kali ini, Arkan Adiguna bukan satu-satunya orang yang memegang kendali atas hidupku.
"Arkan..." suaraku tercekat di antara desingan peluru. "Mereka mendapatkan Ibu."
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!