The CEO's Wicked Inheritance: Kontrak dalam Dendam

Bab 2: Bab 2 - Menemui perantara 'Sugar Baby' di klub eksklusif

Pengaturan Membaca

Udara malam Jakarta yang lembap terasa mencekik saat aku berdiri di depan pintu besi tempa berwarna hitam pekat. Tidak ada papan nama, tidak ada lampu neon yang berkedip-kedip. Hanya sebuah simbol kecil berbentuk mawar emas yang tersemat samar di sudut pintu. Namun, di balik keheningan ini, aku tahu ada dunia yang sanggup melahap seluruh prinsip hidup yang kubangun selama dua puluh satu tahun terakhir.

Tanganku gemetar saat meremas tali tas selempang yang sudah usang. Di dalam sana, terselip selembar kertas tagihan rumah sakit dengan angka nol yang begitu banyak hingga membuat kepalaku pening. Operasi jantung Ibu tidak bisa menunggu. Setiap detak jantungnya yang lemah adalah detak jam pasir menuju akhir hidupnya. Dan aku adalah satu-satunya orang yang bisa membalikkan jam itu.

"Nona Alya?"

Suara berat itu mengejutkanku. Seorang pria bertubuh besar dengan setelan jas rapi muncul dari balik kegelapan lorong. Ia tidak tersenyum. Matanya memindai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang terasa seperti siletβ€”dingin dan tajam.

"I-iya, saya," jawabku, nyaris berbisik. Tenggorokanku terasa kering, seolah-olah baru saja menelan segenggam pasir.

Pria itu hanya mengangguk singkat dan memberi isyarat agar aku mengikutinya. Begitu pintu terbuka, bau parfum mahal yang bercampur dengan aroma cerutu dan alkohol menyerbu indra penciumanku. Interior klub ini jauh dari bayanganku tentang tempat hiburan malam yang bising. Ruangan ini sunyi, dibalut beludru merah marun dan cahaya remang yang memberikan kesan intim sekaligus intimidatif.

Kami berjalan melewati lorong panjang hingga sampai di sebuah pintu ganda berbahan kayu jati. Pria itu mengetuk dua kali sebelum membukanya.

"Ma**klah. Madame sudah menunggumu."

Aku melangkah ma**k dengan kaki yang terasa seberat timah. Di balik meja kerja antik yang berantakan dengan botol-botol kristal, duduk seorang wanita yang tampak sangat elegan. Rambutnya disanggul rapi tanpa ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Ia menyesap cairan kuning keemasan dari gelasnya sebelum menaruhnya perlahan.

"Duduk, Sayang. Jangan berdiri di sana seperti sedang menunggu hukuman mati," suara wanita itu, Madame Elena, terdengar halus namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

Aku duduk di kursi beludru di hadapannya, berusaha menyembunyikan tanganku yang masih gemetar di bawah meja.

Madame Elena mencondongkan tubuhnya, menatapku dengan intensitas yang membuatku ingin menghilang menembus lant**. "Alya Putri. Mahasiswa kedokteran, beasiswa penuh, IPK nyaris sempurna. Catatan yang sangat mengesankan untuk seseorang yang ingin menukar masa depannya dengan uang instan."

Rasa panas merambat ke pipiku. Bukan karena hangatnya ruangan, melainkan karena rasa malu yang membakar harga diriku. "Saya tidak punya pilihan lain, Madame. Ibu sayaβ€”"

"Simpan ceritamu," potongnya dengan lambaian tangan yang anggun. "Di sini, alasan tidak penting. Yang penting adalah apa yang bisa kamu tawarkan. Berdirilah. Biarkan aku melihat produk yang akan kujual."

Kata 'produk' menghantamku lebih keras dari tamparan fisik manapun. Aku berdiri dengan kaku. Madame Elena bangkit dari kursinya dan berjalan mengelilingiku. Ia menyentuh daguku dengan jarinya yang dingin, memaksaku mendongak.

"Wajahmu... murni. Ada ketangguhan di balik mata cokelat itu, tapi juga ada kerapuhan yang akan membuat pria-pria di luar sana merasa seperti penakluk. Kulitmu bersih, tubuhmu proporsional meski sedikit terlalu kurus." Ia bergumam seolah sedang menilai kualitas kain atau permata.

"Kau tahu aturannya, Alya?" tanyanya sambil kembali ke mejanya.

"Saya... saya hanya akan bersama satu orang. Eksklusif," jawabku dengan suara bergetar.

Madame Elena tertawa kecil, suara yang terdengar kering. "Eksklusif adalah kata yang mahal. Itu berarti kau adalah properti milik pria itu. Kau harus siap kapan pun dia memanggil, melakukan apa pun yang dia minta, dan yang paling penting... jangan pernah melibatkan perasaan. Perasaan adalah racun dalam bisnis ini."

Ia mengambil sebuah map hitam dan menggesernya ke arahku. "Ada seseorang yang secara khusus meminta profilmu. Seorang klien VIP yang sangat pemilih. Dia tidak mencari teman tidur biasa, dia mencari seseorang untuk mengisi sebuah 'posisi' khusus."

"Siapa?" tanyaku, jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging.

"Arkan Adiguna."

Nama itu terdengar asing, namun entah mengapa mengirimkan getaran dingin ke sumsum tulang belakangku. Aku tidak tahu siapa dia, tapi melihat cara Madame Elena menyebutkan nama itu dengan nada hampir memuja sekaligus takut, aku tahu aku sedang berurusan dengan sesuatu yang besar.

"Dia sudah membayar deposit untuk menjamin kau tidak diambil oleh orang lain malam ini," lanjut Elena sembari mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. "Pakai ini. Sebuah mobil sudah menunggumu di lobi belakang."

Di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung rant** tipis dengan liontin berbentuk kunci kecil yang terbuat dari berlian hitam. Cantik, tapi bagiku, itu terlihat seperti borgol yang sangat mahal.

"Ingat satu hal, Alya," ucap Madame Elena sesaat sebelum aku mencapai pintu keluar. "Begitu kau melangkah ma**k ke mobil itu, tidak ada jalan kembali. Kau bukan lagi mahasiswi berprestasi. Kau adalah milik Arkan."

Aku melangkah keluar ke area parkir privat yang tersembunyi. Sebuah sedan hitam mewah dengan kaca gelap sudah menunggu. Pintunya terbuka secara otomatis, seolah-olah mengundangku ma**k ke dalam perut raksasa yang siap menelanku bulat-bulat.

Dengan napas yang tertahan, aku ma**k ke dalam kabin mobil yang dingin. Aroma maskulin yang tajamβ€”campuran antara kayu cendana dan aroma laut yang dinginβ€”seketika memenuhi paru-paruku. Di sudut kursi belakang yang gelap, aku bisa melihat siluet seorang pria. Ia tidak menoleh, namun kehadirannya memenuhi seluruh ruang, menyesakkan dan mendominasi.

"Jadi," suara bariton yang dalam dan dingin itu memecah kesunyian, membuat bulu kudukku berdiri. "Kau adalah putri dari pria yang sudah berutang nyawa padaku?"

Aku membeku. Kalimat itu bukan sapaan. Itu adalah sebuah ancaman. Sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, pria itu menoleh, dan matanya yang sehitam malam mengunci pandanganku dengan kebencian yang begitu murni hingga aku lupa cara bernapas.

Dendam yang ia bawa terasa lebih dingin daripada AC di mobil ini, dan tiba-tiba saja, aku menyadari bahwa aku bukan hanya sedang menjual diriku demi uang, tetapi aku baru saja berjalan ma**k ke dalam sarang pemangsa yang sudah menungguku selama bertahun-tahun.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca