Lampu di ruang kerja Arkan berpendar temaram, menyisakan bayang-bayang panjang yang menari di atas dinding marmer. Di tengah keheningan yang menyesakkan, selembar kertas tergeletak di atas meja jati ituβsebuah dokumen yang selama berbulan-bulan menjadi rant** yang mengikat leher Alya. Kontrak 'Sugar Baby' yang hina, yang ditandatangani dengan air mata dan keputusasaan.
Arkan duduk di kursi kebesarannya, namun postur tubuhnya tidak lagi menunjukkan dominasi yang angkuh. Bahunya sedikit merosot, dan jemarinya yang panjang mengusap permukaan kertas itu dengan ragu. Saat pintu terbuka dengan derit halus, ia mendongak.
Alya berdiri di sana. Tidak ada lagi gaun mewah pilihan Arkan yang ia kenakan. Ia kembali ke dirinya yang duluβkemeja flanel sederhana dan celana jeans, rambutnya dikuncir kuda tanpa hiasan. Namun, ada yang berbeda di matanya. Sorot mata itu tidak lagi mencerminkan ketakutan seorang tawanan, melainkan ketajaman seorang pemilik sah.
"Kau memanggilku?" suara Alya datar, namun bergema kuat di ruangan yang luas itu.
Arkan terdiam sejenak, menatap wajah perempuan yang awalnya ia anggap sebagai alat pemuas dendam. "Duduklah, Alya."
Alya melangkah ma**k, tetapi ia tidak duduk. Ia berdiri di seberang meja, membiarkan meja itu menjadi pembatas antara masa lalu mereka yang kelam dan masa depan yang belum pasti. Pandangannya jatuh pada dokumen di depan Arkan.
"Aku sudah membaca seluruh berkas di b**nkas itu," bisik Alya, suaranya sedikit bergetar namun tetap terkendali. "Semua aset ini, perusahaan ini... semuanya seharusnya milik mendiang ayahku. Kau membangun kerajaanmu di atas tanah yang kau curi dariku, Arkan."
Arkan memejamkan mata, merasakan denyut nyeri di pelipisnya. "Aku tahu. Dendam membutakanku selama bertahun-tahun. Aku dibesarkan dengan keyakinan bahwa ayahmu adalah i**** yang menghancurkan keluargaku, tanpa tahu bahwa kebenaran telah diputarbalikkan oleh orang-orang di sekitar kita."
Arkan mengambil sebuah pemantik perak dari laci mejanya. Dengan gerakan pelan, ia menyulut api kecil yang menari-nari di ujung pemantik tersebut. Ia mengangkat kontrak itu dengan tangan kirinya.
"Kontrak ini... ini adalah kesalahan terbesarku. Aku tidak menginginkan budak, Alya. Tidak lagi," kata Arkan dengan suara serak.
Ia mendekatkan api itu ke sudut kertas. Dalam hitungan detik, api mulai melahap kata-kata dingin yang mengatur hak a**h Arkan atas tubuh dan waktu Alya. Mereka berdua terdiam, menyaksikan abu hitam berjatuhan ke atas lant** yang bersih. Aroma kertas terbakar memenuhi udara, menyesakkan sekaligus melegakan.
"Sekarang kau bebas," lanjut Arkan setelah sisa kertas itu habis tak bersisa. "Kau punya hak untuk menuntutku. Kau punya hak untuk mengambil kembali seluruh harta warisanmu dan mengusirku dari sini. Aku tidak akan melawan."
Alya menatap sisa abu itu dengan pandangan kosong. Kebebasan yang selama ini ia mimpikan kini ada di depan mata, namun rasanya tidak semanis yang ia bayangkan. Ada kekosongan yang aneh di dadanya. Ia menatap Arkan, mencari sisa-sisa CEO kejam yang pernah memaksanya berlutut. Yang ia temukan hanyalah seorang pria yang tampak lelah dan hancur oleh beban kesalahannya sendiri.
"Kenapa, Arkan?" tanya Alya lembut. "Kenapa sekarang? Setelah semua rasa sakit yang kau berikan?"
Arkan berdiri, melangkah memutari meja hingga ia berada tepat di depan Alya. Ia tidak berani menyentuhnya, namun jarak mereka c**up dekat sehingga Alya bisa merasakan panas dari tubuh pria itu.
"Karena aku menyadari bahwa memiliki hartamu tidak memberiku kepuasan apa pun jika aku tidak bisa memilikimu secara utuh," jawab Arkan jujur, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Alya. "Aku ingin kita mulai dari awal. Bukan sebagai tuan dan peliharaan. Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai dua orang yang... setara."
Alya tertawa getir, meski ada binar air mata di sudut matanya. "Setara? Kau menghancurkan integritasku, Arkan. Kau membuatku membenci diriku sendiri setiap kali aku melihat cermin."
"Maka biarkan aku membantumu mencint** dirimu kembali," Arkan memberanikan diri menyentuh jemari Alya. Sentuhannya dingin dan gemetar, sangat kontras dengan Arkan yang biasanya sangat percaya diri. "Aku tidak meminta maaf agar kau kembali padaku. Aku meminta maaf agar kau bisa sembuh. Tapi jika kau memberiku satu kesempatan... aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang pantas berdiri di samping pewaris Adiguna yang sesungguhnya."
Alya menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tak beraturan. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dibangun dalam semalam, apalagi di atas fondasi pengkhianatan. Namun, melihat kerapuhan di mata Arkan, ia merasakan dinding pertahanan di hatinya mulai retak.
"Aku akan mengambil hakku atas perusahaan," ujar Alya tegas. "Aku akan belajar menjadi pemimpin yang seharusnya ayahku inginkan. Dan kau... kau akan bekerja untukku. Kita lihat apakah kau bisa bertahan di bawah kendaliku, Arkan Adiguna."
Sulas senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibir Arkan. "Dengan senang hati, Nona Adiguna."
Ketegangan di antara mereka sedikit mencair, digantikan oleh sebuah perjanjian baru yang tidak tertulis di atas kertas, melainkan tertanam dalam tatapan penuh makna. Namun, saat Arkan hendak menarik Alya ke dalam pelukan yang lebih hangat, ponsel di atas meja bergetar hebat.
Arkan mengerutkan kening dan melihat layar ponselnya. Sebuah pesan singkat dari pengacara keluarga Adiguna yang selama ini setia pada faksi lawan.
Wajah Arkan seketika memucat saat membaca baris kalimat tersebut. Ia menatap Alya dengan tatapan penuh kecemasan yang baru.
"Ada apa?" tanya Alya, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.
Arkan meremas ponselnya erat. "Pamanmu... dia tahu kau sudah menemukan berkas itu. Dia baru saja mengajukan mosi darurat ke dewan komisaris untuk membekukan seluruh aset warisanmu sebelum kau sempat mengklaimnya. Dan Alya... dia tidak bergerak sendirian. Ada seseorang dari masa lalumu yang membantunya."
Dunia Alya seakan berputar kembali. Perjuangan mereka untuk saling memaafkan baru saja dimulai, namun badai yang lebih besar sudah siap menghantam dari luar dinding penthouse mewah itu. Siapa yang berkhianat? Dan sejauh mana mereka bersedia pergi untuk memastikan Alya tetap tidak memiliki apa-apa?
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!