Gelas kristal di tanganku terasa dingin, tetapi tidak sedingin api dendam yang membakar ulu hatiku. Aku memutar-mutar wiski amber di dalamnya, memperhatikan bagaimana cairan itu membasahi dinding kaca, sebelum pandanganku kembali tertuju pada map kulit hitam di atas meja jati m***gani milikku. Di sana, selembar foto terjepit di antara tumpukan data medis dan laporan keuangan yang berantakan.
Seorang gadis dengan mata bulat yang jernih dan senyum yang tampak terlalu murni untuk dunia yang busuk ini. Alya Putri.
Aku meletakkan gelas itu dengan denting pelan yang bergema di keheningan ruang kerjaku yang luas. Jemariku merayap, menyentuh permukaan foto itu, tepat di bagian matanya. Mata itu. Aku mengenalinya. Itu adalah mata yang sama dengan laki-laki yang dua puluh tahun lalu memohon ampun di depan kaki ayahku sebelum akhirnya menusuknya dari belakang. Darah pengkhianat mengalir di nadi gadis ini.
"Tuan, dia sudah tiba." Suara datar asistenku, Dimas, terdengar dari interkom.
Aku menarik napas dalam, membiarkan aroma cerutu dan wangi maskulin memenuhi paru-paruku, mencoba menstabilkan detak jantung yang tiba-tiba berpacu liar. Bukan karena gairah, melainkan karena kebencian yang nyaris tak terbendung. "Suruh dia ma**k."
Pintu kayu ek yang berat itu terbuka perlahan. Suara langkah sepatunya yang murah terdengar ragu di atas lant** marmer. Aku sengaja tidak berbalik, tetap memunggungi pintu, menatap gemerlap lampu Jakarta dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Aku ingin dia merasakan betapa kecilnya dia di hadapanku.
"T-tuan Adiguna?" Suaranya gemetar. Sedikit serak, seolah dia baru saja menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis.
Aku memutar kursi perlahan. Saat mataku bertab**kan dengan matanya, sebuah hantaman emosi menghantam dadaku. Wajah itu... si****. Dia sangat mirip dengan ayahnya, namun dengan sentuhan kelembutan yang menyesatkan. Rambut hitamnya diikat kuda dengan rapi, menonjolkan leher jenjang yang tampak rapuhβleher yang rasanya ingin kucengkeram hingga dia sesak napas.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja, kuku-kukuku menekan telapak tangan hingga perih. Tahan, Arkan. Jangan sekarang.
"Duduk," perintahku singkat, suaraku sedingin es.
Dia melangkah maju, tangannya meremas tali tas selempangnya yang sudah usang. Dia duduk di ujung kursi beludru di hadapanku, tubuhnya kaku seperti papan. Aku bisa melihat detak nadi di lehernya yang berdenyut cepat. Ketakutan. Bagus. Dia harus takut.
"Aku sudah membaca berkasmu," kataku, melemparkan map itu ke hadapannya. Foto dirinya meluncur keluar, berhenti tepat di depan jemarinya yang gemetar. "Mahasiswi kedokteran. Beasiswa penuh. Calon dokter masa depan yang cemerlang. Tapi di sini kau sekarang, menjual dirimu demi segepok uang."
Alya menelan ludah, jakunnya naik turun. Dia mengangkat wajahnya, dan untuk sesaat, aku melihat kilatan integritas yang mencoba bertahan di balik keputusasaan. "Ibuku... dia butuh operasi jantung segera. Rumah sakit tidak akan bergerak tanpa uang muka."
"Dan kau pikir aku adalah yayasan amal?" Aku menyandarkan punggung, menatapnya dengan tatapan merendahkan yang paling tajam.
"Tidak," bisiknya, suaranya kini lebih stabil namun penuh luka. "Saya tahu ini adalah transaksi bisnis. Anda membutuhkan seseorang, dan saya... saya tidak punya pilihan lain."
Aku bangkit dari kursi, melangkah memutari meja hingga aku berdiri tepat di depannya. Aku bisa mencium aroma sabun mandi murah dan sisa-sisa antiseptik rumah sakit dari tubuhnya. Kontras sekali dengan kemewahan ruangan ini. Aku membungkuk, menumpukan kedua tanganku di lengan kursinya, mengurung tubuh mungilnya dalam bayanganku.
Wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Amarah itu kembali naik ke tenggorokanku saat aku menatap hidungnya, bibirnyaβsemua fitur wajah yang mengingatkanku pada kehancuran keluargaku. Tanganku gatal ingin menampar wajah itu, ingin menghapus jejak pria itu dari muka bumi melalui dirinya. Namun, aku memaksakan sebuah senyum miring yang kejam.
"Satu miliar untuk operasi dan biaya pemulihan ibumu," kataku rendah, nyaris berbisik di telinganya. Aku bisa merasakan tubuhnya bergidik. "Sebagai gantinya, kau adalah milikku. Jiwa, raga, dan setiap napasmu. Kau tidak boleh pergi tanpa izinku, kau tidak boleh menyentuh pria lain, dan kau harus siap melayaniku kapan pun aku menginginkannya. Kau mengerti, Alya?"
Dia memejamkan mata sesaat. Bulu matanya yang panjang basah oleh air mata yang enggan jatuh. Ketika dia membukanya kembali, ada kepasrahan yang hancur di sana. "Saya mengerti."
Aku meraih dagunya, mencengkeramnya dengan sedikit terlalu keras hingga dia meringis. Aku ingin dia merasa sakit. Aku ingin dia tahu bahwa ini bukanlah dongeng Cinderella yang berakhir indah. Ini adalah penjara yang kubangun khusus untuknya.
"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri," ancamku, menatap langsung ke dalam manik matanya yang jernih. "Karena jika kau melakukannya, aku pastikan ibumu tidak akan pernah keluar dari meja operasi itu hidup-hidup."
Wajahnya memucat seketika. "Anda... Anda kejam."
"Kau belum melihat apa-apa," balasku dingin.
Aku melepaskan cengkeramanku dan berjalan kembali ke arah meja, mengambil sebuah dokumen kontrak yang sudah kusiapkan. Aku menyodorkan pulpen emas ke arahnya. Inilah saatnya. Perangkap telah dipasang, dan tikus kecil ini baru saja melangkah ma**k dengan sukarela.
Alya meraih pulpen itu dengan tangan yang gemetar hebat. Dia membubuhkan tanda tangannya di atas materai, seolah-olah dia sedang menandatangani surat kematiannya sendiri. Setelah selesai, dia meletakkan pulpen itu dengan suara denting halus.
"Kapan saya bisa mendapatkan uangnya?" tanyanya tanpa ekspresi, seolah jiwanya sudah pergi meninggalkan raga.
Aku mengambil dokumen itu, memeriksanya dengan puas. Nama 'Alya Putri' tertera di sana, mengikatnya padaku dalam kontrak yang tidak akan pernah bisa dia batalkan. Aku menekan sebuah tombol di bawah meja, memanggil Dimas.
"Bawa dia ke apartemen di Menteng. Pastikan semua kebutuhannya terpenuhi, dan jangan biarkan dia keluar tanpa pengawalan," perintahku tanpa menatapnya.
Alya berdiri, kakinya tampak lemas. Sebelum dia melangkah keluar, dia berhenti sejenak, menoleh ke arahku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Mengapa saya, Tuan Adiguna? Dari sekian banyak wanita yang bisa Anda beli... mengapa harus saya?"
Aku terdiam sejenak, membiarkan keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan. Aku menyesap wiski terakhirku, membiarkan rasa panasnya membakar tenggorokan.
"Karena kau istimewa, Alya," jawabku dengan nada yang mengandung belati tersembunyi. "Kau memiliki sesuatu yang sangat ingin kuhancurkan."
Setelah pintu tertutup dan aku kembali sendirian, aku melemparkan gelas wiski itu ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kristalnya berserakan di lant**, sama seperti rencana hidupnya yang baru saja kuma**kkan ke dalam mesin penghancur.
Aku berjalan menuju b**nkas tersembunyi di balik lukisan abstrak, membukanya, dan mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah menguning. Foto ayahku yang tersenyum di depan kantor pertamanya, sebelum pengkhianatan itu merenggut segalanyaβnyawanya, hartanya, dan kewarasan ibuku.
"Ini baru permulaan, Alya," gumamku pada kegelapan. "Aku akan membuatmu mencint**ku, hingga saat aku menghancurkanmu nanti, rasa sakitnya akan membunuhmu berkali-kali lipat lebih pedih daripada kematian."
Namun, di sudut hatiku yang paling gelap, ada getaran aneh yang tidak bisa kujelaskan. Sebuah getaran yang muncul saat aku melihat air mata di matanya tadi. Aku segera menepisnya. Tidak ada ruang untuk belas kasihan. Dia adalah pion, dan permainan catur ini baru saja dimulai.
Tujuanku bukan hanya hartanya yang hilang, melainkan kehancuran total dari garis keturunan pengkhianat itu. Dan Alya Putri adalah kunci pembukanya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!