The CEO's Wicked Inheritance: Kontrak dalam Dendam

Bab 4: Bab 4 - Menandatangani kontrak tanpa membaca det**l ter...

Pengaturan Membaca

Ruangan kantor di lant** lima puluh tujuh itu terasa seakan oksigennya telah disedot keluar. Dingin pendingin ruangan menusuk hingga ke tulang, namun keringat dingin tetap membasahi tengkukku. Di hadapanku, sebuah map kulit berwarna hitam tergeletak di atas meja kaca yang mengkilap, memantulkan bayangan wajahku yang pucat dan kantung mata yang menghitam karena kurang tidur.

Arkan Adiguna duduk di balik meja m***ni besarnya, menyandarkan punggung dengan keanggunan seorang predator yang sedang mengamati mangsanya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak aku melangkah ma**k. Ia hanya menyesap wiski di gelas kristalnya, membiarkan bunyi denting es batu menjadi satu-satunya irama di keheningan yang menyesakkan ini.

"Waktumu tidak banyak, Alya. Rumah sakit sudah menelponku dua kali pagi ini terkait deposit operasi ibumu," suara Arkan rendah, berat, dan tanpa emosi.

Aku menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. Jemariku gemetar saat meraih map itu. Di dalamnya terdapat tumpukan kertas putih bersih dengan logo perusahaan Adiguna yang tercetak samar di latar belakangnya. *Surat Perjanjian Layanan Eksklusif.*

Mataku menyapu baris-baris kalimat hukum yang rumit. Poin pertama: *Pihak Kedua bersedia berada di bawah pengawasan Pihak Kesatu selama dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu.*

"Dua puluh empat jam?" suaraku serak, hampir tidak terdengar. "Aku masih harus kuliah, Pak Arkan. Aku mahasiswa kedokteran, jadwal praktikumkuβ€”"

"Tidak ada lagi praktikum jika aku tidak mengizinkannya," potong Arkan tajam. Ia meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan yang membuatku tersentak. "Kau adalah properti eksklusifku sekarang. Jika aku ingin kau ada di kamarku jam dua pagi, kau akan ada di sana. Jika aku ingin kau menemaniku ke luar negeri selama seminggu, kau akan ikut. Pendidikanmu bukan prioritasku."

Aku meremas pinggiran kertas itu hingga sedikit terkoyak. "Ini seperti penjara."

"Ini adalah transaksi," koreksinya dengan seringai tipis yang tidak mencapai matanya yang gelap. "Tiga miliar rupiah untuk jantung ibumu, dan sebagai gantinya, kau menyerahkan kendali atas hidupmu. Adil, bukan?"

Aku terus membaca, mencoba mengabaikan denyut di pelipisku. *Pasal 5: Pihak Kedua dilarang menjalin komunikasi dalam bentuk apa pun dengan lawan jenis tanpa izin tertulis dari Pihak Kesatu. Pasal 7: Seluruh perangkat komunikasi Pihak Kedua akan dipasang perangkat pelacak dan penyadap demi keamanan.*

"Kau bahkan ingin menyadap ponselku?" tanyaku, menatapnya dengan rasa tidak percaya yang meluap.

Arkan bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja dengan langkah pelan yang terkontrol. Ia berhenti tepat di belakangku, membungkuk hingga napasnya yang beraroma mint dan alkohol terasa di telingaku. "Aku tidak suka berbagi, Alya. Dan aku paling benci dikhianati. Aku perlu memastikan bahwa investasi yang kubayar mahal ini tidak bermain di belakangku."

Tangannya yang besar dan dingin menyentuh bahuku, merayap perlahan ke arah leherku. Aku membeku. Sentuhannya tidak kasar, namun penuh dengan dominasi yang membuat bulu kudukku berdiri. "Tanda tangani, atau silakan pergi dan biarkan dokter menghentikan mesin penopang hidup ibumu sore ini."

Bayangan wajah Ibu yang pucat dan dipenuhi selang di ruang ICU terlintas di benakku. Suara detak jantungnya yang lemah di monitor seolah memanggilku, memohon untuk diberikan kesempatan hidup. Harga diriku yang selama ini kujaga dengan prestasi akademik yang cemerlang, kini hancur berkeping-keping di bawah sepatu bot mahal pria ini.

Aku tidak sanggup membaca lebih jauh. Mataku mulai mengabur karena air mata yang kupaksa agar tidak jatuh. Ada berlembar-lembar halaman lagi di belakangnyaβ€”mungkin tentang det**l teknis, mungkin tentang rahasia perusahaanβ€”namun pikiranku sudah tidak mampu memproses kata-kata hukum yang berbelit itu. Yang aku tahu hanya satu: Ibu harus selamat.

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, aku meraih pulpen emas di atas meja. Tinta hitamnya mengalir lancar di atas garis yang disediakan di halaman terakhir. *Alya Putri.*

Seketika setelah goresan terakhir selesai, Arkan menarik map itu dengan cepat. Ia menatap tanda tanganku dengan tatapan yang sulit diartikanβ€”ada kemenangan, ada kegelapan, dan sesuatu yang menyerupai rasa lapar yang purba.

"Pilihan yang cerdas," gumamnya. Ia menutup map itu dan mema**kkannya ke dalam laci meja yang terkunci rapat.

Aku menyeka sudut mataku dengan kasar, berusaha berdiri dengan tegak meski kakiku terasa seperti jeli. "Kapan operasinya dimulai?"

"Sekarang juga. Dananya sudah ditransfer ke rekening rumah sakit saat kau menorehkan huruf terakhir tadi," jawabnya dingin sembari kembali duduk di kursinya. "Sekarang, kemasi barang-barangmu di asrama. Sopirku akan menjemputmu dalam dua jam. Kau akan tinggal di apartemenku mulai malam ini."

Aku berbalik untuk pergi, merasa sangat kotor dan hancur, namun suara Arkan kembali menghentikan langkahku di depan pintu.

"Satu hal lagi, Alya," ucapnya tanpa menoleh padaku. Ia sedang menatap pemandangan kota di luar jendela kaca yang besar. "Jangan pernah berpikir untuk mencari tahu apa yang tertulis di Lampiran C yang kau lewatkan tadi. Karena saat kau mengetahuinya, mungkin kau akan menyesal telah membiarkan ibumu hidup."

Jantungku mencelos. Lampiran C? Aku menoleh, mencoba membaca ekspresi wajahnya dari pantulan kaca, namun ia hanya menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit. Ada sesuatu yang sangat salah, sebuah firasat buruk merayap di dadaku, lebih dingin daripada AC di ruangan ini. Namun, pintu lift sudah terbuka, dan aku terpaksa melangkah ma**k ke dalam nasib yang baru saja kusegel sendiri.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca