The CEO's Wicked Inheritance: Kontrak dalam Dendam

Bab 5: Bab 5 - Menghadapi malam pertama di apartemen Arkan

Pengaturan Membaca

Suara pintu apartemen yang tertutup di belakangku terdengar seperti vonis hakim yang diketuk dengan palu godam. *Klik.* Satu bunyi logam yang pelan, namun c**up untuk membuat seluruh persendianku kaku seketika. Aku tidak lagi berada di koridor rumah sakit yang berbau karbol, atau di perpustakaan kampus yang tenang. Aku berada di wilayah kekuasaan Arkan Adiguna.

Apartemen ini terlalu luas untuk satu orang. Dinding kaca setinggi langit-langit menyuguhkan pemandangan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang angkuh dari lant** lima puluh. Namun, kemewahan ini terasa seperti penjara berlapis emas bagiku. Cahaya lampu *chandelier* yang redup memantul di lant** marmer hitam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah siap menerkam.

"Kau terlihat seperti kelinci yang terjebak di depan lampu sorot, Alya."

Suara berat Arkan memecah keheningan. Ia melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih tipis yang lengannya digulung hingga ke siku. Ia tidak menoleh padaku; ia berjalan menuju bar pribadi di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna ambar ke dalam gelas kristal. Denting es batu yang beradu dengan kaca terdengar sangat nyaring di telingaku yang berdenging.

"Aku hanya... sedang menyesuaikan diri," jawabku pelan. Suaraku terdengar asing, serak dan penuh keraguan. Aku meremas tali tas bahuku hingga jemariku memutih.

Arkan berbalik, menyesap minumannya sambil menyandarkan pinggulnya pada meja bar. Tatapannya tajam, menguliti setiap jengkal ekspresiku. "Menyesuaikan diri? Kita sudah menandatangani kontrak itu dua jam yang lalu. Rumah sakit sudah menerima deposit untuk operasi ibumu. Sekarang, kau adalah milikku. Secara eksklusif."

Kata 'milikku' itu meluncur dari bibirnya dengan begitu sant**, namun bagiku, itu terasa seperti jerat yang mencekik leher. Sebagai mahasiswi kedokteran, aku terbiasa menganalisis denyut nadi dan tekanan darah. Saat ini, aku tahu pasti bahwa jantungku sedang berpacu melampaui batas normal. Adrenalin memba****i sistem sarafku, memerintahkanku untuk lari, tapi logika—dan kebutuhan akan nyawa ibuku—memaksaku untuk tetap diam di tempat.

"Aku tahu aturannya, Tuan Adiguna," kataku, mencoba mengais kembali martabatku yang tersisa.

Arkan meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan. Ia berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya yang mengkilap di atas marmer terasa seperti detak jam menuju eksekusi. Aku menahan napas saat ia berhenti tepat di depanku. Ia jauh lebih tinggi dariku, aromanya yang maskulin—campuran kayu cendana dan dinginnya malam—menyerbu indra penciumanku.

Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh daguku, memaksaku untuk mendongak menatap matanya. Mata itu tidak memiliki kehangatan. Di sana hanya ada kegelapan yang pekat, seolah ia sedang melihat sesuatu yang sangat ia benci, namun sekaligus ia inginkan.

"Berhenti memanggilku 'Tuan'. Itu terdengar sangat... formal untuk orang yang akan tidur di ranjang yang sama denganku malam ini," bisiknya. Ibu jarinya mengusap bibir bawahku dengan tekanan yang membuatku gemetar.

Aku memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. *Lakukan ini untuk Ibu. Hanya untuk Ibu,* batinku berulang kali seperti mantra.

"Buka matamu, Alya," perintahnya, suaranya kini lebih rendah, lebih dominan. "Jangan pernah memejamkan mata saat bersamaku. Aku ingin kau melihat siapa yang memilikimu sekarang."

Dengan keberanian yang dipaksakan, aku membuka mata. Aku melihat kilatan kemenangan di matanya, sebuah kepuasan yang kejam. Ia seolah menikmati ketakutanku. Tangan Arkan beralih ke tengkukku, menarikku sedikit lebih dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya yang kontras dengan sikapnya yang dingin.

"Kau sangat cantik saat ketakutan," gumamnya, bibirnya kini nyaris menyentuh telingaku. "Itu mengingatkanku mengapa aku memilihmu dari sekian banyak pilihan yang ada."

Aku mengerutkan kening, rasa bingung sesaat mengalahkan rasa takutku. "Memilihku? Bukankah kau bilang ini hanya karena aku memenuhi kualifikasi?"

Arkan melepaskan cengkeramannya, lalu berjalan memutari tubuhku, seolah-olah ia sedang memeriksa barang dagangan yang baru saja ia beli. Ia berhenti di belakangku, tangannya mendarat di bahuku, menekan pelan tapi penuh otoritas.

"Kau pintar, Alya. Terlalu pintar untuk tidak menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan," katanya dengan nada misterius yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kamarmu ada di sana. Pintu kedua di sebelah kiri. Mandilah. Aku tidak suka menunggu lama."

Ia melangkah pergi menuju balkon, meninggalkanku yang berdiri mematung di tengah ruangan luas yang terasa mencekam. Aku menatap punggungnya yang kokoh, merasa ada sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar kontrak *sugar baby* ini. Ada sesuatu dalam caranya menatapku—sebuah dendam yang tersembunyi di balik kabut obsesi.

Aku berjalan menuju kamar yang ditunjuknya dengan kaki yang terasa berat seperti timah. Saat aku mendorong pintu kayu ek yang besar itu, aroma mawar yang tajam menyambutku. Di atas ranjang *king size* yang tertutup sprei sutra hitam, tergeletak sebuah kotak beludru kecil dan selembar gaun tidur tipis berbahan satin yang sangat terbuka.

Tanganku gemetar saat membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk kunci yang indah namun terlihat berat. Di bawah kalung itu, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang tegas dan rapi:

*Kunci ini adalah tanda bahwa kau sudah terkunci dalam duniaku. Jangan pernah berpikir untuk mencari jalan keluar.*

Aku meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalan tanganku. Tiba-tiba, lampu kamar meredup secara otomatis, digantikan oleh cahaya temaram yang sensual. Di ambang pintu, aku melihat bayangan Arkan berdiri, memperhatikanku dengan tatapan lapar yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Alya," panggilnya, suaranya kini terdengar seperti perintah yang tak terbantahkan. "Pakai gaun itu. Sekarang."

Aku menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa malam ini bukan hanya tentang kehilangan harga diri, tetapi awal dari sebuah permainan yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah kubayangkan. Saat aku mulai menyentuh kancing kemejaku dengan tangan gemetar, Arkan berjalan ma**k dan mengunci pintu di belakangnya. Bunyi kunci yang berputar itu bergema di seluruh ruangan, menandai dimulainya malam pertamaku di neraka yang paling indah.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca