Kelopak mataku terasa seberat timah, berdenyut seirama dengan detak jantung yang memompa sisa-sisa kelelahan ke seluruh tubuh. Di bawah lampu neon ruang kuliah yang terlalu terang, tulisan di papan tulis tentang mekanisme *ventrikel* jantung tampak kabur, berdansa menjauh dari jangkauan logikaku. Aku menghela napas panjang, mencoba memfokuskan pandangan pada catatan yang baru terisi setengah.
Aku menyesap kopi hitam ketiga pagi ini, berharap kafeinnya bisa membakar rasa pegal yang menjalar di punggung dan pinggangku. Arkan tidak membiarkanku tidur hingga pukul tiga pagi tadi. Bukan karena dia menginginkan percakapan mendalam, melainkan karena dia ingin menegaskan dominasinya, memastikan aku ingat bahwa setiap inci kulitku adalah miliknya berdasarkan kontrak yang kutandatangani dengan darah dan air mata.
"Al, kamu oke? Muka kamu pucat banget."
Suara bisikan Siska di sebelahku membuatku tersentak. Aku buru-buru menarik kerah *turtleneck* hitamku lebih tinggi, memastikan kainnya menutupi bekas kemerahan yang ditinggalkan Arkan di pangkal leherku semalam. Bekas yang ia sebut sebagai 'tanda kepemilikan'.
"Cuma kurang tidur, Sis. Semalam begadang baca jurnal," dustaku, mencoba memberikan senyum tipis yang terasa kaku di wajah.
Siska menyipitkan mata, tatapannya penuh selidik. "Begadang baca jurnal atau begadang ngerjain proyek rahasia? Kamu belakangan ini aneh, Al. Jarang ikut diskusi kelompok, pulang selalu buru-buru, dan sekarang... kamu pakai baju tertutup begini di cuaca Jakarta yang lagi gerah-gerahnya?"
Aku merasa tenggorokanku menyempit. Siska adalah sahabatku sejak semester satu, dia punya insting yang terlalu tajam untuk kenyamananku. "Aku lagi nggak enak badan, agak menggigil. Makanya pakai ini," dalihku lagi, jemariku meremas pulpen dengan kencang hingga buku-buku jariku memutih.
Dosen di depan terus meracau tentang anatomi, namun pikiranku justru melayang ke apartemen mewah Arkan. Tempat itu megah, namun bagiku tak lebih dari sangkar emas yang dingin. Di sana, aku bukan Alya Putri, mahasiswi kedokteran berprestasi yang bercita-cita menyembuhkan orang. Di sana, aku hanyalah pion, sebuah komoditas yang dibeli untuk memuaskan dendam yang tidak kupahami.
Ponselku di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi muncul di layar, membuat jantungku mencelos.
*Private Message: Sopir sudah di depan gerbang kampus dalam sepuluh menit. Jangan terlambat satu detik pun atau biaya rumah sakit ibumu bulan ini akan kualihkan ke denda keterlambatan.*
Pesan itu singkat, dingin, dan mematikan. Arkan tidak pernah memberikan instruksi; dia memberikan perintah.
"Al? Kamu mau ke mana? Kelasnya belum selesai!" Siska setengah berteriak saat aku mulai mema**kkan buku-bukuku ke dalam tas dengan gerakan kalap.
"Aku... aku baru ingat ada urusan mendesak di rumah sakit. Titip absen ya, Sis. Tolong!" tanpa menunggu jawaban, aku menyampirkan tas dan setengah berlari keluar dari ruang kuliah.
Setiap langkahku terasa berat. Aku merasa seperti orang asing di kampusku sendiri. Beberapa hari yang lalu, aku masih menjadi bagian dari merekaβmahasiswa yang hanya mencemaskan nilai ujian atau biaya kos. Sekarang, aku membawa beban rahasia yang bisa menghancurkan reputasiku dalam sekejap. Jika mereka tahu bagaimana caraku membiayai operasi ibu, jika mereka tahu aku adalah 'peliharaan' seorang CEO kejam...
Aku sampai di gerbang depan dengan napas terengah-engah. Sebuah sedan hitam mewah dengan kaca gelap sudah menunggu. Kehadiran mobil itu menarik perhatian beberapa mahasiswa yang sedang nongkrong di kantin depan. Mereka berbisik-bisik, memandangiku dengan tatapan penuh tanya.
"Alya!"
Langkahku terhenti tepat di depan pintu mobil yang terbuka otomatis. Aku menoleh dan melihat Siska berdiri beberapa meter di belakangku. Dia mengejarku. Wajahnya menunjukkan campuran antara khawatir dan curiga yang amat sangat.
"Mobil siapa itu, Al? Itu bukan taksi *online*," tanya Siska, suaranya pelan namun menuntut jawaban. Matanya beralih dari wajahku ke arah interior mobil yang mewah, lalu kembali ke arahku.
"Ini... saudara jauhku, Sis. Aku harus pergi sekarang," kataku gugup. Aku segera ma**k ke dalam mobil sebelum dia sempat bertanya lebih jauh.
Di dalam mobil, hawa AC yang dingin langsung menusuk kulit, namun keringat dingin tetap bercucuran di pelipisku. Aku menyandarkan kepala di sandaran kursi yang empuk, memejamkan mata rapat-rapat. Aku merasa sangat kotor. Aku merasa seperti sedang menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, dan garis pembatas di antaranya perlahan-lahan mulai memudar.
"Tuan Arkan meminta Anda langsung menemuinya di kantor, Nona Alya. Bukan di apartemen," suara berat sopir Arkan memecah keheningan.
Aku membuka mata, terkejut. "Kantor? Tapi kontrak bilang aku hanya harus menemuinya di tempat pribadi."
"Tuan tidak suka dibantah. Beliau bilang ada 'tugas tambahan' untuk Anda sore ini."
Perasaanku mendadak tidak enak. Tugas tambahan di kantornya? Arkan biasanya sangat berhati-hati menjaga privasi hubungan 'bisnis' kami. Membawaku ke kantornya, ke markas besarnya, berarti dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pelampiasan nafsu.
Begitu sampai di gedung pencakar langit Adiguna Group, aku dituntun melalui lift khusus langsung menuju lant** teratas. Di sana, Arkan sedang berdiri membelakangiku, menatap panorama Jakarta dari dinding kaca raksasanya. Bahunya yang lebar terbalut setelan jas mahal, memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi.
"Kau terlambat dua menit," ucapnya tanpa berbalik. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.
"Jalanan macet, dan aku harus memberikan alasan pada temanku yang mulai curiga," jawabku berusaha tegar, meski kakiku terasa lemas.
Arkan berbalik perlahan. Senyum miring yang sangat kukenaliβsenyum predator yang baru saja menemukan mangsa baruβterukir di wajahnya yang tampan namun dingin. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma maskulinnya yang memabukkan sekaligus menakutkan.
Jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh daguku, memaksaku menatap matanya yang sehitam jelaga. "Curiga? Bagus. Biarkan mereka curiga. Karena mulai hari ini, kau tidak akan hanya menjadi simpananku di balik pintu tertutup."
Dia menarik sebuah map dari meja kerjanya dan melemparkannya ke depanku. Aku membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada sebuah kartu identitas karyawan dengan fotoku di sana.
"Mulai besok, kau akan magang di sini, di bawah pengawasanku langsung. Aku ingin kau melihat sendiri bagaimana aku menghancurkan segala hal yang pernah ayahmu banggakan, Alya. Dan kau... kau akan membantuku melakukannya dengan tanganmu sendiri."
Duniaku serasa runtuh. Dia tidak hanya ingin tubuhku; dia ingin menghancurkan jiwaku, integritasku, dan masa depanku di dunia medis. Arkan ingin aku menjadi senjata untuk menghancurkan namaku sendiri.
"Aku tidak akan melakukannya," bisikku parau.
Arkan mendekatkan wajahnya ke telingaku, hembusan napasnya membuat bulu kudukku berdiri. "Kau akan melakukannya. Kecuali kau ingin melihat tim dokter mencabut alat bantu napas ibumu sore ini juga."
Aku terpaku, tak mampu bernapas. Di balik dinding kaca ini, aku melihat bayanganku sendiriβseorang calon dokter yang kini terpaksa menjadi kaki tangan i****. Dan yang paling menakutkan adalah, di tengah kebencian yang meluap, jantungku berkhianat dengan berdegup kencang hanya karena sentuhannya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!