Cahaya biru dari layar laptop memantul di kornea mataku, menciptakan pendaran dingin yang kontras dengan kehangatan semu di dalam penthouse mewah ini. Aku duduk meringkuk di sudut sofa beludru, memastikan pintu kamar telah terkunci rapat. Arkan sedang pergi untuk pertemuan bisnis malam—setidaknya itu yang dikatakan sekretarisnya—dan ini adalah kesempatan langka bagiku untuk bernapas tanpa merasa diawasi oleh sepasang mata elang yang seolah mampu menguliti jiwaku.
Jari-jariku yang biasanya stabil saat memegang instrumen di laboratorium kedokteran, kini sedikit bergetar di atas *trackpad*. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. Mengapa aku merasa seperti seorang pencuri di rumah yang, secara teknis, adalah penjara emasku?
Aku mengetikkan satu nama di kolom pencarian: *Arkan Adiguna.*
Dalam hitungan detik, ribuan hasil muncul. Foto-fotonya yang sedang berjabat tangan dengan pejabat tinggi, artikel tentang keberhasilannya mengakuisisi perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, hingga ulasan majalah gaya hidup yang menobatkannya sebagai "Bujangan Paling Berpengaruh". Semua informasi itu tampak mengkilap, dipoles dengan sempurna oleh tim hubungan masyarakat yang sangat mahal.
"Terlalu sempurna," bisikku pada kesunyian ruangan.
Aku mulai menggali lebih dalam. Aku bukan mencari prestasinya; aku mencari celahnya. Aku mencari alasan mengapa pria itu menatapku dengan kebencian yang begitu murni di balik gairah kasarnya. Aku mencari benang merah antara kemewahannya dan kehancuran keluargaku.
Aku mencoba mencari nama mendiang ayahnya, *Prasetyo Adiguna*. Hasilnya masih sama: berita kematian karena serangan jantung sepuluh tahun lalu, diikuti dengan sanjungan atas warisan bisnis yang ditinggalkan. Namun, ketika aku mencoba mencari kata kunci yang lebih spesifik—*Prasetyo Adiguna skandal*, *Adiguna Group kebangkrutan lama*, atau bahkan menyandingkan nama ayahku, *Handoko*, dengan nama mereka—sesuatu yang aneh terjadi.
*Laman tidak ditemukan.*
*Error 404.*
*Koneksi terputus.*
Aku mengerutkan kening. Sebagai mahasiswi yang terbiasa membedah jurnal-jurnal medis yang sulit diakses, aku tahu ada yang tidak beres. Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah pembersihan informasi secara sistematis. Seseorang telah membayar sangat mahal untuk memastikan bahwa masa lalu tertentu dari keluarga Adiguna tetap terkubur di bawah beton fondasi gedung-gedung pencakar langit mereka.
Rasa penasaran mulai bercampur dengan kecemasan yang mencekik. Aku mencoba ma**k ke arsip berita digital dari surat kabar lokal yang sudah berhenti beroperasi sepuluh tahun lalu. Aku menggunakan VPN, mencoba melompati tembok api yang tampaknya sengaja dipasang untuk memblokir akses dari wilayah ini.
Pelipisku mulai berkeringat. Satu demi satu *tab* kubuka. Akhirnya, di sebuah forum diskusi tua yang hampir mati, aku menemukan sebuah utas pendek tanpa gambar.
*Username: GhostWriter99*
*Tanggal: 14 Mei 2014*
*Judul: Siapa yang sebenarnya membunuh karier Handoko?*
Jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Itu nama ayahku.
Aku mengklik tautan itu dengan tangan gemetar. Teksnya berantakan, penuh dengan kode yang rusak, tetapi aku bisa membaca beberapa kalimat yang tersisa:
*“...bukan sekadar persaingan bisnis. Adiguna tidak hanya ingin uangnya, dia ingin menghapus eksistensi pria itu. Ada pengkhianatan di balik proyek pembangunan pelabuhan...”*
Tiba-tiba, layar laptopku berkedip. Hitam. Kemudian muncul ikon *loading* yang berputar tanpa henti.
"Ayo, jangan sekarang..." desisiku, menekan tombol *refresh* berkali-kali dengan panik.
Namun, alih-alih kembali ke laman forum tersebut, sebuah jendela *pop-up* muncul di tengah layar. Bukan iklan, bukan pula peringatan virus. Hanya sebuah kalimat sederhana dengan latar belakang hitam pekat:
**“Beberapa pintu lebih baik tetap tertutup, Alya.”**
Napas seolah berhenti di paru-paruku. Darahku terasa membeku. Bagaimana mungkin? Apakah dia mengawasiku? Apakah laptop ini sudah disadap?
Aku segera menutup layar laptop dengan kasar, seolah benda itu adalah hewan buas yang siap menerkamku. Keheningan penthouse yang tadinya terasa menenangkan, kini berubah menjadi mencekam. Setiap bayangan perabot di dinding tampak seperti sosok Arkan yang sedang berdiri memperhatikanku dengan senyum tipisnya yang mematikan.
Aku baru saja akan berdiri untuk menyembunyikan laptop itu kembali ke dalam laci, ketika suara kunci pintu yang berputar memecah kesunyian.
*Cklek.*
Pintu utama terbuka. Langkah kaki yang berat dan berirama itu—aku mengenalnya. Itu langkah kaki seorang pria yang memiliki dunia ini di bawah telapak sepatunya. Arkan sudah pulang lebih cepat dari jadwal.
Aku berdiri mematung di samping sofa, menyembunyikan laptop di balik bantal, sementara jantungku berdentum keras seperti genderang perang. Arkan ma**k, jasnya tersampir di lengan, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya yang rupawan tampak lelah, namun matanya tetap tajam, langsung mengunci sosokku yang berdiri gemetar.
Ia tidak menyapa. Ia hanya berjalan mendekat, setiap langkahnya mengikis jarak dan keberanianku. Ia berhenti tepat di depanku, aroma parfum *sandalwood* dan sisa aroma cerutu mahal menyeruak ma**k ke indra penciumanku.
"Belum tidur, Sayang?" suaranya rendah, bariton yang biasanya membuatku merinding, namun kali ini terasa seperti ancaman yang nyata.
"A-aku baru saja akan tidur," jawabku, berusaha menjaga suaraku agar tidak pecah.
Arkan tidak melepaskan pandangannya dariku. Ia melirik ke arah sofa, ke arah bantal yang menyembunyikan laptop itu dengan posisi yang sedikit tidak simetris. Sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah seringai yang tidak mencapai matanya yang sedingin es.
Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuhku, melainkan untuk mengelus puncak kepalaku dengan gerakan yang hampir terasa sayang, jika saja aku tidak tahu betapa kejamnya tangan itu bisa mencengkeram.
"Kau terlihat pucat. Apa kau baru saja melihat sesuatu yang... tidak seharusnya kau lihat?"
Aku terpaku. Di balik tatapan itu, aku menyadari satu hal: Arkan tidak hanya menyembunyikan masa lalunya dariku. Dia sedang menungguku untuk menemukannya, agar dia bisa melihat kehancuranku saat aku menyadari bahwa aku hanyalah seekor tikus yang sedang menari di atas jebakan yang sudah dia siapkan sejak lama.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!