Sutra di Pesisir Bali: Debur Gairah di Tepian Sunyi

Bab 1: Bab 1 - Mempersiapkan keberangkatan ke Bali dan membeli...

Pengaturan Membaca

Koper perak yang terbuka di atas tempat tidur tampak seperti mulut yang menuntut untuk segera dipenuhi. Di dalamnya, tumpukan kemeja linen berwarna pastel dan celana kulot yang sopan tertata rapiβ€”representasi sempurna dari Lia yang selama ini dikenal dunia: efisien, terukur, dan tidak mencolok. Namun, di sudut meja riasnya, sebuah kantong kertas belanja berlogo butik ternama dari mal pusat kota tampak mengintip, seolah menertawakan semua keteraturan itu.

Lia menghela napas, jemarinya yang ramping gemetar saat merogoh ke dalam kantong tersebut. Suara gesekan kertasnya terdengar begitu nyaring di kesunyian apartemennya di Jakarta yang gerah. Ia menarik selembar kain kecil berwarna hitam pekat. Sangat kecil. Jika ia tidak tahu itu adalah pakaian renang, ia mungkin akan mengiranya sebagai seutas tali sutra tanpa guna.

"G***. Kamu benar-benar g***, Lia," bisiknya pada bayangannya di cermin.

Pikiran itu membawanya kembali ke suasana butik dua jam yang lalu. Bau aromaterapi vanila dan melati yang menenangkan di sana sama sekali tidak membantu meredakan detak jantungnya yang berpacu. Ia ingat bagaimana ia berdiri di depan deretan manekin, merasa seperti penyusup di dunia yang hanya diperuntukkan bagi wanita-wanita dengan kepercayaan diri setinggi langit.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak? Sedang mencari model tertentu?" Suara pramuniaga yang ramah namun tajam itu sempat membuatnya ingin segera berbalik dan lari keluar.

Lia meremas ujung kemeja kerjanya. "Saya... saya mencari sesuatu yang berbeda. Untuk ke Bali."

Pramuniaga itu tersenyum tipis, seolah bisa membaca gejolak di balik kacamata frame hitam yang Lia kenakan. "Sesuatu yang lebih berani? Kita baru saja mendapat koleksi *minimalist cut*. Sangat populer untuk resor pribadi."

Lia hanya bisa mengangguk kaku saat dituntun ke rak bagian belakang. Dan di sanalah benda itu berada. Sebuah bikini thong dengan tali-tali halus yang tampak begitu ringkih namun sekaligus menggoda. Saat menyentuh kainnya yang dingin dan licin, ada sengatan aneh yang merambat dari ujung jarinya hingga ke dada. Ketakutan dan keinginan berperang dalam kepalanya.

Di ruang ganti yang berdinding cermin penuh, Lia sempat berdiri lama hanya mengenakan pakaian dalamnya. Ia memandangi lekuk tubuhnya sendiriβ€”pinggul yang menurutnya terlalu lebar, perut yang tidak sedatar model di majalah, dan kulit pucat yang jarang terpapar sinar matahari. Selama dua puluh empat tahun, ia telah belajar untuk menyembunyikan semua ini di balik pakaian yang longgar dan rapi. Ketakutan terbesarnya selalu sama: penilaian orang. Ia bisa membayangkan bisikan-bisikan di belakang punggungnya jika ia berani tampil terbuka. *'Lihat, dia pikir dia siapa?'* atau *'Berani sekali dia memakai itu dengan tubuh seperti itu.'*

Namun, keinginan untuk melepaskan diri dari rutinitas yang mencekik sebagai desainer grafis yang selalu menuruti kemauan klienβ€”keinginan untuk menjadi 'Lia yang lain'β€”ternyata jauh lebih kuat.

Dengan tangan yang masih dingin, ia mencoba bikini itu. Saat tali tipisnya melingkar di pinggul dan kain minimalis itu menempel di kulitnya, Lia merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa te*******, ya, tapi ada juga rasa kuasa yang liar. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kekurangannya. Ia melihat sebuah kanvas yang siap untuk dibebaskan.

"Mbak? Bagaimana ukurannya? Pas?" Suara pramuniaga dari balik tirai mengejutkannya.

Lia menatap bayangannya di cermin. Pipinya merona merah padam. "Iya... pas. Saya ambil yang ini."

Kini, kembali di kamar apartemennya, Lia meletakkan bikini hitam itu di atas tumpukan baju lainnya. Kontrasnya begitu kentara. Hitam di atas pastel. Keberanian di atas ketakutan. Ia tahu, membawa benda ini ke Bali bukan sekadar tentang gaya busana. Ini adalah pernyataan perang terhadap rasa tidak percaya dirinya sendiri.

Ia mematikan lampu kamar, menyisakan cahaya remang dari lampu jalanan Jakarta yang ma**k melalui celah gorden. Lia merebahkan diri di tempat tidur, namun matanya tetap tertuju pada koper itu. Besok, ia akan berangkat. Ia akan meninggalkan Lia yang perfeksionis dan tertutup di bandara, dan membiarkan sisi lain darinya bernapas di bawah terik matahari pesisir.

Namun, satu ganjalan masih tersisa di benaknya. Ia melihat ke bawah, ke arah kakinya, lalu menyentuh permukaan kulit lengannya. Ada sesuatu yang harus ia lakukan sebelum benar-benar siap mengenakan kain seminim itu. Sebuah persiapan yang lebih intim, lebih mendalam, yang akan menuntutnya untuk benar-benar bersentuhan dengan setiap inci tubuh yang selama ini ia abaikan.

Lia menelan ludah, membayangkan proses yang akan ia lalui malam ini. Ia bangkit perlahan, berjalan menuju kamar mandi di mana peralatan pembersihan dirinya sudah menunggu. Debar jantungnya kembali mengencang, bukan lagi karena takut, tapi karena antisipasi akan transformasi yang sebentar lagi akan dimulai.

Bali sudah menanti, tapi malam ini, perjalanan itu dimulai di sini, di bawah guyuran air dan sentuhan pisau c**ur yang tajam. Ia harus benar-benar bersih. Tanpa sisa. Tanpa beban. Karena di pant** itu nanti, tidak boleh ada yang menghalangi antara kulitnya dan kebebasan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca