Angin laut sore itu terasa jauh lebih tajam menyentuh kulitku dibandingkan biasanya. Mungkin itu karena tidak ada lagi helai rambut halus yang menghalangi setiap inci pori-poriku untuk bernapas. Setelah ritual pembersihan diri yang intens di kamar mandi hotelβyang melibatkan pisau c**ur tajam, krim beraroma mawar, dan ketelitian seorang kurator seniβaku merasa seperti lahir kembali. Kulitku terasa sehalus porselen, namun sekaligus terasa begitu te******* dan rentan.
Aku duduk di atas kain pant** yang terbentang di atas pasir putih tersembunyi ini, hanya mengenakan bikini *thong* yang selama ini hanya berani aku simpan di dasar laci terdalam. Benang tipis yang membelah punggung bawahku memberikan sensasi dingin sekaligus panas yang aneh setiap kali aku bergerak. Aku, Lia yang perfeksionis dan selalu terkancing rapat, kini mengekspos segalanya di bawah langit Bali yang mulai merona jingga.
"Kau tahu, pemandangan di sini memang luar biasa," sebuah suara bariton yang dalam memecah keheningan, membuat jantungku melonjak ke tenggorokan.
Aku menoleh perlahan, mencoba menjaga martabatku meskipun separuh dari bokongku terekspos jelas. Julian berdiri beberapa langkah dariku. Ia tidak mengenakan baju, hanya celana pendek sant** yang menggantung rendah di pinggulnya. Sinar matahari senja menyepuh kulitnya yang kecokelatan, memberikan siluet yang hampir tidak nyata.
"Tapi entah kenapa, mataku tidak bisa berhenti memandangmu," lanjutnya, melangkah mendekat dengan gerakan yang luwes, nyaris seperti predator yang sedang mengagumi mangsanyaβnamun tanpa niat menyakiti.
Aku menarik napas panjang, berusaha menutupi rasa gemetar di jemariku. "Aku hanya sedang... menikmati kebebasan."
Julian berhenti tepat di sampingku, lalu ikut duduk di atas pasir, c**up dekat sehingga aku bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya. Matanya yang tajam dan berwarna madu menyapu penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya tertahan lama di lekuk pinggulku yang kini mulus sempurna, tanpa cela.
"Keberanianmu luar biasa, Lia," bisiknya. Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya ujung jarinya menyentuh permukaan kulit di lenganku, lalu turun perlahan menuju pergelangan tangan. "Kulitmu... kau terasa seperti sutra. Sangat halus, hampir tidak nyata."
Sentuhannya memicu gelombang listrik yang menjalar ke seluruh sarafku. Aku teringat pada jam-jam yang kuhabiskan di depan cermin, memastikan tidak ada satu pun rambut yang tertinggal, meratapi setiap ketidaksempurnaan yang kukira ada pada tubuhku. Selama ini aku menganggap diriku c****, namun di mata pria ini, aku melihat kekaguman yang murni.
"Aku selalu merasa... tidak c**up," aku mengaku dengan suara parau, sebuah kejujuran yang jarang kuizinkan keluar dari bibirku. "Aku takut orang-orang akan menghakimi apa yang kulihat di cermin."
Julian terkekeh rendah, suara yang terasa seperti getaran hangat di dadaku. "Lalu kenapa kau memilih mengenakan ini?" Ia menunjuk pada bikini minim yang kukenakan. "Ini bukan pakaian seseorang yang ingin bersembunyi."
"Ini adalah sebuah tantangan," jawabku, mencoba mencari keberanian di dalam diriku sendiri. "Untuk diriku sendiri. Untuk membuktikan bahwa aku punya kendali atas tubuhku."
Julian mengangguk pelan. Ia menggeser duduknya, kini benar-benar berhadapan denganku. Tangannya yang besar kini mendarat di atas pahaku yang terbuka. Kontras antara kulitnya yang kasar dan kulitku yang licin setelah dic**ur menciptakan sensasi yang membuat napas kaku. Ia mengusap permukaan kulitku dengan ibu jarinya, sebuah gerakan melingkar yang provokatif namun penuh pemujaan.
"Kau telah memenangkan tantangan itu, Lia. Kau terlihat sangat cantik, sangat... berdaya. Dan kemulusan ini," ia menghela napas, matanya menggelap karena gairah yang mulai tersulut, "ini adalah sebuah undangan yang sangat sulit untuk diabaikan."
Logikaku berteriak. *Berdiri, Lia. Ambil handukmu, lari kembali ke kamar hotel yang aman, dan lupakan semua keg***an ini.* Di sana, di duniaku yang lama, aku adalah desainer grafis yang teratur, yang hidup dalam kotak-kotak piksel yang presisi. Di sini, di bawah tatapan Julian, aku hanyalah seorang wanita yang terbuat dari darah, daging, dan keinginan yang meluap-luap.
Pikiranku berkecamuk. Jika aku membiarkannya melangkah lebih jauh, tidak akan ada jalan kembali. Aku akan merusak citra diriku sebagai wanita yang selalu menjaga jarak. Namun, saat Julian mencondongkan tubuhnya ke arahku, aromanya yang maskulin bercampur dengan wangi air laut menyelimuti indrawu.
"Lia," panggilnya lembut, suaranya kini tinggal beberapa inci dari telingaku. "Kau bisa pergi sekarang jika kau mau. Aku tidak akan mengejarmu. Tapi jika kau tinggal..."
Ia membiarkan kalimat itu menggantung di udara, seiring dengan tangannya yang mulai merayap naik ke arah pangkal pahaku, menyentuh tepian kain tipis yang menjadi satu-satunya penghalang terakhirku.
Aku menelan ludah. Rasa takut itu masih ada, namun terkubur oleh rasa lapar yang jauh lebih purba. Tubuhku terasa berat, seolah pasir di bawahku telah berubah menjadi magnet yang menahanku di tempat. Aku menoleh, menatap matanya, mencari jawaban apakah aku siap untuk benar-benar melepaskan segala topeng yang kukenakan selama dua puluh empat tahun ini.
Julian menunggu. Ia tidak memaksa, ia memberiku ruang untuk memilih. Dan dalam keheningan yang hanya diisi oleh debur ombak itu, aku menyadari bahwa aku tidak ingin lagi menjadi wanita yang selalu bersembunyi di balik pakaian tertutup dan aturan yang kaku.
Tanganku perlahan terangkat, mendarat di dada Julian yang bidang, merasakan detak jantungnya yang cepatβsama cepatnya dengan jantungku. Aku tidak bergerak menjauh. Malah, aku sedikit mencondongkan tubuh, memperpendek jarak yang tersisa di antara kami.
"Aku tidak ingin pergi," bisikku, hampir tidak terdengar.
Senyum tipis muncul di sudut bibir Julian, sebuah senyum yang menjanjikan badai di tengah ketenangan pesisir Bali ini. Saat tangannya semakin erat menggenggam pinggulku, aku tahu bahwa malam ini, bukan hanya rambut di tubuhku yang telah lenyap, melainkan juga seluruh pertahanan yang selama ini memenjarakanku.
Namun, tepat saat bibirnya nyaris menyentuh milikku, sebuah suara langkah kaki dan gelak tawa dari kejauhan terdengar mendekat ke arah pant** tersembunyi kami, memaksa kami berdua untuk membeku dalam posisi yang begitu intim.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!