Langit Bali sore itu bukan lagi biru, melainkan gradasi dramatis antara oranye terbakar dan ungu tua yang pekat. Di pant** tersembunyi ini, suara debur ombak yang menghantam karang terdengar seperti detak jantung bumi yang malas namun bertenaga. Lia berdiri di batas air, membiarkan buih putih menyapu jemari kakinya. Angin laut yang lembap mempermainkan rambutnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lia merasa benar-benar terekspos—bukan hanya karena thong bikini merah tua yang nyaris tidak menutupi apa pun, tetapi karena tatapan Julian yang seolah mampu menembus lapisan pertahanan emosional yang ia bangun bertahun-tahun di Jakarta.
Julian berdiri hanya beberapa jengkal darinya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, namun intensitas di matanya berbicara lebih keras daripada suara ombak. Lia bisa merasakan hawa panas memancar dari tubuh Julian, kontras dengan angin laut yang mulai mendingin.
"Kau terlihat... luar biasa, Lia," suara Julian rendah, serak, hampir tenggelam oleh deru air. "Seperti dewi yang baru saja keluar dari rahim samudera."
Lia menelan ludah, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa tidak percaya diri yang biasanya menghantuinya—pikiran tentang lekuk pinggulnya yang menurutnya terlalu lebar atau perutnya yang tidak serata model majalah—mendadak memudar. Di mata Julian, ia tidak melihat penilaian. Ia melihat pemujaan.
Julian perlahan mengangkat tangannya. Gerakannya sangat lambat, seolah memberi Lia waktu sejuta tahun untuk mundur jika ia mau. Namun Lia tetap di sana, terpaku pada pasir yang basah. Saat ujung jari Julian yang kasar akhirnya menyentuh bahunya, Lia tersentak kecil. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar langsung ke pusat sarafnya.
Ujung jari Julian meluncur turun ke lengan atasnya, lalu ke punggungnya yang terbuka lebar. Kulit Lia yang baru saja ia c**ur habis dengan penuh ketelitian beberapa jam lalu terasa sangat sensitif. Setiap pori-porinya seolah terbuka, menyerap setiap inci gesekan kulit Julian. Ketika tangan pria itu menetap di pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat, Lia melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan.
"Julian..." bisik Lia, suaranya gemetar. Nama itu terasa asing sekaligus akrab di lidahnya.
"Shh," Julian menempelkan keningnya ke kening Lia. "Jangan berpikir. Hanya rasakan."
Julian menunduk, mencium ceruk leher Lia. Sensasi itu memicu ledakan emosi yang tak terbendung. Lia meremas bahu Julian yang kokoh, kuku-kukunya menekan kulit pria itu seolah mencari pegangan di tengah badai. Kebebasan yang ia cari-cari selama ini, yang ia coba temukan melalui ritual kecantikan dan pelarian ke pulau ini, mendadak terkonsentrasi pada satu titik: sentuhan pria ini.
Julian perlahan membimbingnya turun ke atas pasir yang masih menyimpan sisa panas matahari siang tadi. Di bawah naungan langit yang kian menggelap, Julian melepaskan sisa penghalang di antara mereka dengan gerakan yang penuh damba. Saat kulit mereka bertemu sepenuhnya, Lia merasakan getaran hebat merambati tulang belakangnya. Permukaan kulitnya yang licin dan sensitif bertemu dengan maskulinitas Julian yang kasar dan hangat.
Sesi bercinta itu tidak dimulai dengan kelembutan yang lambat, melainkan sebuah ledakan kebutuhan yang mendesak. Lia menyerah sepenuhnya. Ia membiarkan Julian mengeksplorasi setiap jengkal tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan dengan rasa malu. Di bawah sentuhan Julian, ketidakpercayaan dirinya hancur berantakan. Ia merasa cantik, ia merasa diinginkan, dan yang terpenting, ia merasa hidup.
Suara napas mereka beradu dengan ritme ombak yang semakin pasang. Setiap gerakan Julian adalah jawaban atas rasa lapar emosional yang telah Lia tekan selama bertahun-tahun dalam rutinitas kantor yang kaku. Lia melengkungkan punggungnya, membiarkan kepalanya terkulai ke belakang, menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit Bali. Air matanya merembes di sudut mata—bukan air mata kesedihan, melainkan pelepasan. Beban ekspektasi, ketakutan akan penilaian orang, dan rasa benci pada dirinya sendiri seolah luruh bersama keringat yang membasahi tubuh mereka.
Julian menciumnya dengan intensitas yang hampir membuat Lia sesak napas. Tangan Julian menjelajahi lekukan tubuh Lia dengan rasa lapar yang tulus, memuja tekstur kulitnya yang halus seolah itu adalah sutra paling berharga. Lia membalasnya dengan keberanian yang belum pernah ia miliki sebelumnya, menarik Julian lebih dalam, seolah ingin menyatu dengan pria itu dan dengan alam di sekitar mereka.
Dalam puncak gairah yang membakar, Lia merasakan sesuatu dalam dirinya patah—sebuah dinding pertahanan terakhir yang selama ini mengurungnya. Ia berteriak kecil, suaranya tertelan oleh suara ombak besar yang menghantam pant**, melepaskan segala beban yang ia bawa dari kota.
Saat mereka terengah-engah dalam dekapan satu sama lain, pasir menempel di kulit mereka yang lembap, Julian tidak langsung melepaskannya. Ia memeluk Lia dengan protektif, menciumi keningnya berulang kali. Dunia terasa sangat sunyi, hanya ada mereka dan napas yang mulai teratur.
Lia memejamkan mata, merasakan detak jantung Julian di dadanya. Namun, di tengah ketenangan itu, sebuah pikiran menyelinap ma**k ke dalam benaknya. Ia telah memberikan segalanya—tubuhnya, kerentanan emosionalnya—kepada seorang pria yang baru ia kenal beberapa hari. Ia tidak tahu siapa Julian sebenarnya di luar pant** ini, dan ia tidak tahu apakah ia sanggup menghadapi kenyataan saat matahari terbit besok.
Lia membuka matanya dan menatap kegelapan laut yang tak berujung, menyadari bahwa meskipun ia telah menemukan kebebasan fisik, ia baru saja membuka pintu menuju labirin emosi yang jauh lebih berbahaya. Apakah Julian adalah pelabuhan, ataukah ia hanya ombak lain yang akan menyeret Lia lebih jauh ke tengah samudera yang tidak ia kenali?
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!