Langit Bali sore itu bukan lagi sekadar hamparan biru, melainkan kanvas yang tumpah ruah dengan warna jingga terbakar, ungu pucat, dan semburat emas yang memantul di atas permukaan air. Di bawah naungan tebing kapur yang menjulang tinggi, bayangan mulai memanjang, menciptakan sebuah ceruk rahasia yang terasa seperti dunia milik kami berdua. Suara deburan ombak yang menghantam karang di kejauhan menjadi latar belakang yang ritmis, seolah jantung bumi sedang berdetak selaras dengan jantungku.
Aku duduk di atas pasir yang masih menyimpan sisa panas siang tadi, memeluk lututku sendiri. Julian berada tepat di sampingku, begitu dekat sehingga aku bisa mencium aroma laut yang melekat pada kulitnya—campuran antara garam, matahari, dan sesuatu yang maskulin yang belum bisa kunamai.
"Kau melamun lagi, Lia," suara Julian rendah, hampir menyatu dengan desau angin.
Aku menoleh, menemukan matanya yang berwarna cokelat gelap sedang menatapku dengan intensitas yang membuat napas setinggi dadaku tertahan. "Hanya sedang berpikir betapa tidak nyatanya semua ini," bisikku. Aku menggerakkan jari-jariku di atas permukaan paha yang kini terasa begitu halus—hasil dari ritual pembersihan diri yang kulakukan dengan penuh ketelitian sebelumnya. Tidak ada sehelai rambut pun yang mengganggu, tidak ada tekstur yang tidak sempurna. Untuk pertama kalinya, di balik balutan kain bikini thong yang minimalis ini, aku tidak merasa te******* dalam arti yang memalukan. Aku merasa... terekspos, namun berkuasa.
Julian mengulurkan tangannya. Jemarinya yang panjang dan sedikit kasar karena sering bersentuhan dengan alam, menyentuh pergelangan kakiku lalu perlahan naik ke betis. Sentuhannya ringan, seperti sayap kupu-kupu, namun meninggalkan jejak panas yang merambat cepat ke seluruh sarafku. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam sensasi itu.
"Apa yang kau takuti?" tanyanya lembut.
Aku membuka mata dan menatap matahari yang kian turun, seolah hendak ditelan oleh garis cakrawala. "Aku takut saat cahaya itu hilang, semua ini juga akan hilang. Rutinitas, ekspektasi orang lain, rasa tidak percaya diriku... mereka semua menunggu di balik tebing itu, Julian. Menunggu untuk menerkamku kembali saat aku menginjakkan kaki di luar pant** ini."
Julian bergeser lebih dekat, menghilangkan jarak yang tersisa di antara kami. Ia meletakkan tangannya di pinggangku, kulit bertemu kulit tanpa penghalang. Aku bisa merasakan setiap pori-poriku berteriak menyambut sentuhannya. Posisi ini membuatku sangat sadar akan betapa beraninya pilihanku hari ini; bagaimana lekuk tubuhku terpampang nyata di hadapannya. Namun, dalam tatapan Julian, aku tidak menemukan penghakiman yang selama ini kutakuti. Aku hanya menemukan kekaguman yang jujur.
"Lihat aku," perintahnya halus.
Aku menatapnya. Wajahnya yang terpahat tegas kini disinari cahaya *golden hour*, membuatnya tampak seperti dewa kuno yang muncul dari dasar samudra.
"Waktu tidak bisa kita hentikan, itu benar," katanya, jempolnya mengusap lembut pinggulku, tepat di atas tali tipis binkini yang melingkar di sana. "Tapi apa yang kita rasakan sekarang, getaran di kulitmu, detak jantungmu yang kurasakan di telapak tanganku... itu milikmu. Tidak ada rutinitas atau orang luar yang bisa mengambilnya darimu kecuali kau mengizinkannya."
Ia menarikku perlahan ke dalam dekapannya. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh, membiarkan helai rambutku tertiup angin dan menggelitik pipinya. Di bawah tebing ini, terlindung dari mata dunia, aku merasa seolah-olah kami berada di dalam sebuah gelembung waktu. Aku bisa merasakan otot-otot lengannya yang mengeras saat ia memelukku lebih erat, seolah ia juga tidak ingin melepaskan momen ini.
Telapak tangan Julian mulai bergerak menjelajahi punggungku, menyusuri garis tulang belakangku dengan perlahan, menciptakan sensasi menggelitik yang membuat bulu kudukku berdiri. Setiap sentuhannya terasa seperti sebuah pujian, sebuah pengakuan atas kecantikan yang selama ini kusembunyikan di balik pakaian kerja yang kaku dan sikap perfeksionis yang membosankan. Di sini, di atas pasir ini, aku bukan Lia sang desainer grafis yang selalu cemas akan tenggat waktu. Aku adalah wanita yang mendamba, yang merasakan, dan yang hidup.
"Julian..." bisikku saat wajahnya mulai merunduk, mendekati leherku.
Napasnya yang hangat menyapu kulit sensitif di belakang telingaku, mengirimkan gelombang gairah yang membuat jemari kakiku meringkuk di dalam pasir. Ia mencium pundakku, sebuah kecupan yang lama dan dalam, seolah ia sedang mencoba menghafal rasa kulitku.
Namun, di tengah gelombang kenikmatan itu, sebuah rasa sesak menyusup ke dadaku. Aku melihat bayangan tebing yang semakin gelap. Laut yang tadinya berwarna emas kini mulai berubah menjadi biru tua yang dingin. Matahari tinggal menyisakan seiris kecil cahaya.
Ketakutan itu kembali—rasa takut bahwa momen intim ini hanyalah sebuah anomali, sebuah jeda singkat sebelum aku kembali ke hidupku yang kelabu. Apakah Julian hanya bagian dari liburan ini? Ataukah ia adalah pintu menuju sesuatu yang lebih permanen?
Aku memutar tubuhku dalam dekapannya, menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Aku menatap matanya, mencari jawaban di sana. Julian tidak menjawab dengan kata-kata; ia justru menekan tubuhnya lebih rapat ke tubuhku, membuatku bisa merasakan kekuatan dan gairah yang tertahan di balik ketenangannya.
"Jangan pikirkan hari esok," gumamnya di depan bibirku. "C**up rasakan aku sekarang."
Saat bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku, rasanya seperti ledakan kembang api di tengah kesunyian pant**. Ciuman itu awalnya lembut, seolah ia sedang meminta izin, namun dengan cepat berubah menjadi penuh tuntutan dan rasa lapar yang terpendam. Aku membalasnya dengan keberanian yang sama, meremas rambutnya, menariknya lebih dekat seolah aku bisa menyatu dengannya dan menghilang dari kenyataan.
Di balik ciuman itu, aku mendengar suara ombak yang semakin keras, seolah air laut mulai merayap naik untuk menjemput kami. Cahaya benar-benar menghilang sekarang, menyisakan keremangan yang misterius.
Tepat saat aku merasa benar-benar pasrah pada keadaan, sebuah suara asing—bukan suara ombak, melainkan suara langkah kaki yang berat di atas pasir basah dan gumaman orang di kejauhan—terdengar mendekat ke arah ceruk tebing kami.
Aku tersentak, melepaskan ciuman itu dengan jantung yang berpacu liar. Seseorang sedang menuju ke sini, ke tempat persembunyian kami yang paling rahasia. Apakah duniamu yang kaku sudah datang untuk menjemputku lebih cepat dari yang kukira?
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!