Angin senja Bali menyapu kulit lenganku saat aku memacu skuter sewaan melewati jalanan setapak yang diapit rimbunnya pohon kamboja. Biasanya, hembusan angin ini akan terasa biasa saja, namun sore ini, setiap partikel udara seolah menari di atas permukaanku yang baru. Ada sensasi geli yang asing sekaligus candu—hasil dari ritual pembersihan diri yang kulakukan tadi pagi dan paparan matahari di pant** tersembunyi itu.
Aku bukan lagi Lia yang meninggalkan Jakarta dengan koper penuh keraguan. Di balik gaun pant** tipis yang melambai tertiup angin, aku tahu persis apa yang tersembunyi di baliknya: kulit yang licin sempurna, tanpa sehelai rambut pun yang menghalangi, dan garis tan yang mulai terbentuk di pinggulku akibat bikini *thong* yang sempat membuat jantungku berpacu hebat.
Sesampainya di depan gerbang villa, aku tidak langsung ma**k. Aku mematikan mesin skuter dan membiarkan kesunyian menyelimutiku. Aroma dupa dan bunga kamboja yang jatuh di aspal menyapa indra penciumanku. Aku menyentuh permukaan pahaku sendiri; teksturnya sehalus sutra, jauh berbeda dengan rasa kasar dan kaku yang selalu kurasakan saat terjebak dalam setelan kerja di kantor desain grafisku.
Aku melangkah ma**k ke dalam villa, kakiku yang te******* menyentuh lant** marmer yang dingin. Di ruang tengah yang terbuka, cahaya keemasan matahari terbenam memantul di permukaan air kolam renang pribadi. Aku berjalan menuju cermin besar yang berdiri di sudut kamar.
Lama aku terpaku di sana.
Aku melepaskan ikatan gaun pant**ku, membiarkannya jatuh ke lant** tanpa suara. Kini, aku hanya berdiri dengan pakaian dalam yang sangat minim. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun hidupku, aku tidak mencari celah atau kekurangan. Aku tidak mengernyit melihat lekuk pinggulku atau mengeluh tentang warna kulitku yang tidak merata.
Aku mengusap perutku, turun ke arah pangkal paha yang kini bersih dan sensitif. Bayangan Julian melintas di benakku—tatapannya yang intens saat kami berada di tepian air tadi, cara dia memandangku seolah-olah aku adalah karya seni yang paling berani yang pernah ia lihat. Keberanian itu bukan hanya tentang selembar kain kecil yang kupakai, tapi tentang caraku berdiri tegak di hadapannya.
"Ini aku," bisikku pada pantulan di cermin. Suaraku terdengar lebih dalam, lebih yakin.
Aku berjalan menuju kamar mandi, menyalakan pancuran air hangat. Saat butiran air menyentuh pundak dan mengalir turun ke seluruh tubuhku, aku memejamkan mata. Setiap tetesan terasa seperti sentuhan yang memicu getaran halus di bawah permukaan kulit. Rasa tidak percaya diri yang selama ini menjadi parasit dalam kepalaku seolah luruh bersama aliran air menuju drainase.
Dulu, aku selalu merasa perlu bersembunyi. Aku merasa tubuhku adalah sebuah rahasia yang memalukan jika tidak dikemas dalam pakaian yang sopan dan terukur. Namun sekarang, setelah melewati proses "pengulitan" diri—baik secara fisik dengan pisau c**ur maupun secara mental melalui pertemuan dengan Julian—aku merasa baru. Aku merasa liar, namun dalam kendali penuh.
Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit longgar di dada. Aku mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja samping tempat tidur. Ada belasan pesan ma**k dari rekan kantor di Jakarta, menanyakan revisi desain brosur yang sebenarnya bisa mereka kerjakan sendiri.
Dulu, aku akan langsung panik dan membuka laptop. Sekarang? Aku hanya menatap layar itu dengan senyum tipis, lalu menekan tombol daya hingga layarnya gelap total.
Dunia di luar sana, dengan segala tuntutan dan penghakimannya, terasa sangat jauh. Di sini, di ruangan yang hanya diterangi lampu remang-remang ini, aku adalah penguasa atas diriku sendiri. Aku berjalan menuju balkon, membiarkan handukku sedikit terbuka agar angin malam bisa mengeringkan sisa-sisa air di kulitku.
Bali telah memberiku sesuatu yang tidak pernah ditawarkan oleh ruang kerja ber-AC di Jakarta: ruang untuk bernapas dan hak untuk merasa cantik tanpa syarat. Aku merasa bangga. Bangga karena aku berani memilih bikini itu, bangga karena aku berani membiarkan Julian melihat sisi diriku yang paling rentan, dan yang paling penting, bangga karena aku akhirnya berani mencint** apa yang kulihat di cermin.
Namun, di tengah rasa bangga itu, sebuah getaran aneh merayap di dadaku. Ini bukan lagi tentang rasa takut dipandang rendah, melainkan sebuah antisipasi yang mendebarkan. Aku tahu, hari ini hanyalah pembukaan. Julian bukan sekadar pengagum lewat; dia adalah katalisator yang membangkitkan sesuatu yang jauh lebih besar di dalam diriku.
Tiba-tiba, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kayu villa. Jantungku melonjak. Aku tidak memesan layanan kamar, dan staf villa biasanya tidak berkunjung selarut ini tanpa pemberitahuan.
Aku merapatkan handukku, berjalan perlahan menuju pintu. Saat aku membukanya sedikit, sebuah amplop hitam kecil terselip di bawah pintu. Tidak ada nama pengirim, hanya harum parfum maskulin yang sangat kukenal—aroma kayu cendana dan laut yang melekat pada tubuh Julian tadi siang.
Dengan tangan sedikit gemetar, aku mengambil amplop itu dan membukanya. Di dalamnya hanya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang tegas:
*“Keberanianmu di pant** tadi hanyalah permulaan, Lia. Aku menunggumu di bar tepi tebing jam sembilan malam ini. Pakai sesuatu yang membuatmu merasa paling bebas.”*
Aku meremas kertas itu ke dadaku, merasakan detak jantungku yang mengg***. Tantangan itu nyata. Kebebasan ini ternyata memiliki harga, dan aku tidak tahu apakah aku sudah benar-benar siap untuk langkah selanjutnya yang mungkin akan menghancurkan seluruh dinding pertahananku yang tersisa.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!