Sutra di Pesisir Bali: Debur Gairah di Tepian Sunyi

Bab 2: Bab 2 - Tiba di villa pribadi di Bali dan merasakan kon...

Pengaturan Membaca

Udara Bali yang lembap dan kental langsung menyergap pori-poriku begitu pintu mobil van yang membawaku dari bandara tertutup rapat. Sopir villa yang ramah itu sudah berlalu setelah meletakkan koper perakku di lobi terbuka, meninggalkanku berdiri sendirian di tengah keheningan yang megah.

Aku menarik napas panjang, membiarkan aroma kamboja yang membusuk manis dan sisa-sisa uap garam dari laut memenuhi paru-paruku. Di Jakarta, udara adalah sesuatu yang harus disaring, diperangi dengan pendingin ruangan, dan dijinakkan. Di sini, di sebuah tebing tersembunyi di kawasan Uluwatu, udara terasa seperti makhluk hidup. Ia mengusap kulitku dengan jemari yang hangat dan lengket, memaksa kemeja linen yang kukenakan menempel erat di punggung, menjiplak bentuk b** yang tiba-tiba terasa mencekik.

Langkah kakiku bergema di atas lant** batu alam yang dingin saat aku berjalan menyusuri selasar menuju bangunan utama villa. Arsitekturnya minimalis namun hangat, didominasi kayu ulin gelap dan dinding batu paras putih. Tidak ada sekat. Ruang tamu, ruang makan, dan dapur menyatu dalam satu hamparan luas yang langsung menghadap ke kolam renang *infinity*. Di baliknya, samudera Hindia membentang biru pekat, bertemu dengan cakrawala yang mulai memerah digores senja.

"Aku benar-benar di sini," bisikku pelan. Suaraku terdengar asing, terserap oleh gemerisik daun palem yang beradu ditiup angin.

Seharusnya ini adalah momen kemenangan. Aku telah memesan tempat ini dengan gaji tiga bulan hasil lembur tanpa henti sebagai desainer grafis. Aku telah memenangkan "perang" melawan jadwal kerja yang mencekik. Namun, saat aku berdiri di tengah kemewahan yang sunyi ini, sebuah rasa hampa yang tajam tiba-tiba menusuk ulu hati.

Villa ini terlalu besar untuk satu orang. Meja makan dari kayu jati itu bisa menampung delapan orang. Sofa empuk berwarna krem itu terlihat siap menerima tawa sekelompok teman yang bersulang dengan gelas-gelas kokt**l. Namun, yang terdengar hanyalah detak jam dinding di dapur dan deburan ombak yang samar dari bawah tebing. Kesunyian ini terasa berat, seperti beban fisik yang menekan pundakku. Aku, Lia yang selalu bangga dengan kemandiriannya, tiba-tiba merasa sekecil debu di tengah kemegahan ini.

Aku menyeret koperku menuju kamar tidur utama. Pintu geser kayunya terbuka dengan suara halus, menyingkap sebuah ruangan yang didominasi tempat tidur *king-size* dengan kelambu transparan yang menjunt** dramatis. Di sudut ruangan, sebuah bak mandi berdiri sendiri, menghadap jendela besar yang menawarkan privasi total karena posisinya yang menjorok ke arah laut.

Aku menjatuhkan diri ke atas ka**r. Seprainya terasa dingin dan licin—katun berkualitas tinggi yang mengundang kulitku untuk segera menyentuhnya. Aku menatap langit-langit kamar yang tinggi, memikirkan rutinitasku di Jakarta. Biasanya jam segini aku sedang memelototi layar monitor, berdebat tentang revisi logo yang tidak ada habisnya, atau terjepit di antara aroma keringat dan parfum murah di dalam kereta komuter. Di sana, aku hanyalah angka. Di sini, aku adalah penguasa dari sebuah istana sunyi.

Panas Bali mulai membuat tengkukku berkeringat. Aku melepaskan kancing kemeja linenku satu per satu, gerakan yang terasa lambat dan sengaja. Saat kain itu jatuh ke lant**, angin laut yang menyelinap lewat celah ventilasi menyapu kulit bahuku yang pucat. Ada sensasi geli yang aneh, seolah-olah alam sedang mengujiku, bertanya seberapa berani aku untuk menjadi diriku sendiri di tempat ini.

Aku berdiri di depan cermin besar yang terbingkai kayu ukir. Aku melihat sosok wanita berusia dua puluh empat tahun yang tampak lelah. Bahuku sedikit membungkuk, kebiasaan dari duduk terlalu lama di depan komputer. Kulitku tidak memiliki cahaya, tampak kusam karena terlalu banyak menghirup polusi dan terlalu sedikit menyentuh matahari.

"Kau tidak secantik yang kau bayangkan, Lia," bisik suara jahat di kepalaku, suara yang selalu muncul setiap kali aku merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuhku.

Aku mendekat ke cermin, menyentuh pinggangku yang sedikit melengkung. Ketakutan itu—ketakutan akan dipandang rendah, dihakimi, atau dianggap "tidak c**up"—selalu mengikutiku seperti bayangan. Dan di koper itu, terselip sebuah benda yang akan menantang semua ketakutan itu: sebuah bikini thong hitam yang sangat berani, yang kubeli dalam dorongan keg***an sesaat sebelum berangkat.

Tanganku bergetar sedikit saat aku membuka koper dan mengeluarkan tas kecil berisi peralatan mandi serta bikini itu. Kain sutra hitamnya terasa begitu tipis, hampir tidak ada beratnya di tanganku. Membayangkan diriku mengenakannya di pant** nanti membuat jantungku berdegup kencang, antara gairah dan kengerian.

Aku menoleh ke arah kamar mandi yang terbuka. Cahaya senja keemasan ma**k melalui jendela, menyinari bak mandi putih itu seperti sebuah panggung. Aku butuh lebih dari sekadar mandi. Aku butuh sebuah ritual. Aku ingin membuang "Lia si desainer kaku" dan melahirkan kembali wanita yang mampu berdiri tegak di bawah langit Bali tanpa rasa malu.

Aku berjalan menuju kamar mandi, menyalakan keran air hangat, dan mulai menuangkan minyak esensial beraroma cendana yang kubawa. Uap air mulai naik, memenuhi ruangan dengan aroma yang memabukkan. Saat aku melihat pantulan diriku lagi di cermin kamar mandi yang lebih kecil, aku menyadari satu hal. Kulitku tidak siap untuk bikini itu. Bulu-bulu halus di kakiku, di area yang selama ini kusembunyikan di balik celana kain kantor, terasa seperti sisa-sisa peradaban lama yang harus disingkirkan.

Aku mengambil pisau c**ur baru yang masih tersegel dan sebotol krim c**ur lembut. Ada keheningan yang berbeda sekarang—bukan lagi kesepian yang menakutkan, melainkan antisipasi yang mendebarkan. Aku duduk di tepi bak mandi, membiarkan air mulai menggenang, sementara tanganku perlahan mulai menyentuh permukaan kulit pahaku sendiri.

Malam akan segera tiba, dan di balik kesunyian villa ini, aku tahu bahwa proses transformasi ini baru saja dimulai. Namun, saat jemariku meraba tekstur kasar di kulitku, sebuah suara dari arah teras luar—mungkin suara pintu yang berderit atau langkah kaki di atas kayu—membuat gerakanku terhenti seketika. Jantungku mencelos. Aku tidak seharusnya sendirian di sini jika ada orang lain yang memiliki akses ke tempat ini.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca