Sutra di Pesisir Bali: Debur Gairah di Tepian Sunyi

Bab 3: Bab 3 - Memutuskan untuk menc**ur habis seluruh rambut ...

Pengaturan Membaca

Cahaya matahari sore Bali yang keemasan menyelinap ma**k melalui celah ventilasi kamar mandi villa, menciptakan garis-garis linear di atas lant** marmer yang dingin. Di atas meja rias kayu jati, selembar kain sutra berwarna merah marun tergeletak—sebuah bikini *thong* yang ukurannya bahkan tidak lebih lebar dari telapak tanganku. Benda itu tampak seperti sebuah tantangan sekaligus janji akan kebebasan yang belum pernah kucicipi di Jakarta.

Aku menarik napas panjang, membiarkan uap air hangat dari *bathtub* memenuhi paru-paruku. Wangi esensial kamboja menyelimuti ruangan, namun detak jantungku tetap saja berpacu tidak beraturan. Hari ini bukan sekadar tentang liburan; ini tentang menanggalkan cangkang lama yang selama ini mengungkungku.

Aku berdiri di depan cermin besar yang kini mulai sedikit berembun. Kuusap permukaannya dengan punggung tangan, menyingkap pantulan diriku yang tampak asing. Kulitku pucat, khas orang kantoran yang menghabiskan dua belas jam sehari di bawah lampu neon. Selama ini, aku selalu menyembunyikan lekuk tubuhku di balik blazer terstruktur dan celana kain yang kaku. Aku adalah Lia si desainer grafis yang perfeksionis, yang memastikan setiap piksel berada di tempatnya, namun membiarkan dirinya sendiri terabaikan.

Tanganku meraih pisau c**ur baru yang masih terbungkus plastik. Logamnya terasa dingin di jemariku yang sedikit gemetar.

"Oke, Lia. Tidak ada jalan mundur," bisikku pada pantulan di cermin. Suaraku terdengar serak, hampir tenggelam oleh suara deburan ombak dari pant** tersembunyi di balik dinding villa.

Aku mulai membasahi kakiku dengan air hangat, mengoleskan krim c**ur yang lembut dan berbusa putih pekat. Saat bilah tajam itu mulai menyentuh kulit betisku, ada sensasi aneh yang menjalar—semacam pelepasan. Helai demi helai rambut halus menghilang, meninggalkan permukaan kulit yang licin dan sensitif. Aku melakukannya dengan presisi seorang desainer; setiap tarikan harus lurus, setiap sudut harus bersih.

Namun, ketika tanganku bergerak naik menuju paha bagian dalam, gerakanku melambat. Napasku tertahan di tenggorokan. Inilah ambang batas yang selama ini tidak pernah kulewati. Aku selalu merasa tidak nyaman dengan area paling pribadi dari tubuhku sendiri. Ada rasa malu yang tertanam jauh di dalam sanubari, sebuah suara kecil yang menghakimi bahwa kecantikan seharusnya tidaklah seberani ini.

Aku duduk di tepi *bathtub*, mengatur posisi cermin kecil agar bisa menjangkau sudut-sudut yang sulit dilihat. Saat aku menatap bagian paling intim dari diriku, rasa canggung itu menghantam seperti ombak besar. Aku merasa rentan. Tanganku yang memegang pisau c**ur berhenti di udara.

*Apakah ini terlalu berlebihan?* pikirku. *Bagaimana jika nanti ada luka? Bagaimana jika aku terlihat aneh?*

Ketakutan akan penilaian orang lain—bahkan penilaian diriku sendiri—mulai merayap naik. Aku teringat komentar-komentar kecil dari mantan kekasihku dulu yang membuatku merasa tubuhku tidak pernah c**up "estetik". Aku memejamkan mata sejenak, menghirup aroma kamboja dalam-dalam, mencoba mengusir bayang-bayang itu. Di Bali ini, di bawah langit yang tidak mengenal jam kerja, aku ingin menjadi pemilik penuh atas raga ini.

Dengan keberanian yang dipaksakan, aku mulai mengaplikasikan krim di area sensitif itu. Jari-jariku gemetar saat menyentuh kulit yang lembut dan hangat. Ketika pisau c**ur itu mulai bekerja, aku bisa merasakan setiap gesekannya. Rasanya geli, namun ada sensasi panas yang membangkitkan gairah yang sudah lama terkubur di bawah tumpukan *deadline* dan revisi klien.

Setiap tarikan pisau terasa seperti sedang mengupas lapisan rasa tidak percaya diri yang selama ini melekat. Aku melihat rambut-rambut itu hanyut bersama aliran air, terbawa menuju lubang pembuangan, seolah-olah beban masa laluku ikut luruh bersamanya. Ada rasa sakit yang tipis saat pisau itu sedikit menekan, namun rasa itu justru membuatku merasa "hidup". Aku mulai menikmati tekstur kulitku yang baru, sesuatu yang begitu halus menyerupai kain sutra yang menantiku di meja rias.

Butuh waktu hampir satu jam sampai aku merasa semuanya sempurna. Aku membilas tubuhku di bawah kucuran *shower* air hangat, membiarkan air menghapus sisa-sisa perjuanganku. Saat aku mengeringkan tubuh dengan handuk lembut, aku merasa lebih ringan. Secara fisik, aku merasa terpapar, namun secara emosional, aku merasa memiliki kendali.

Aku mendekati meja rias dan meraih bikini *thong* merah marun itu. Saat kain tipis itu menyentuh kulitku yang kini benar-benar polos, sebuah sensasi listrik menjalar ke seluruh sarafku. Tanpa penghalang rambut sedikit pun, setiap gesekan kain terasa sepuluh kali lebih intens. Aku melihat diriku di cermin lagi. Kali ini, aku tidak melihat seorang desainer yang lelah. Aku melihat seorang wanita yang siap untuk ditemukan.

Aku melilitkan kain pant** transparan di pinggangku, namun aku tahu apa yang tersembunyi di baliknya. Sesuatu yang berani, sesuatu yang liar.

Tiba-tiba, suara ketukan di gerbang kayu villaku memecah kesunyian sore itu. "Permisi, Nona Lia? Saya Julian. Staf villa bilang Anda membutuhkan bantuan untuk menyalakan pemanas air di kolam?"

Suara bariton itu berat dan rendah, membuat bulu kudukku berdiri bukan karena dingin, melainkan karena getaran yang asing. Aku membeku di depan cermin, menyadari bahwa aku hanya mengenakan kain transparan di atas kulit yang kini sangat sensitif. Jantungku berdentum keras, memukul dinding dadaku. Persiapanku mungkin sudah selesai, tapi apakah aku benar-benar siap menghadapi tatapan dunia—terutama tatapan pria bernama Julian itu?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca