Deru mesin skuter sewaan yang kutunggangi terasa bergetar hingga ke tulang belakang, menciptakan sensasi menggelitik yang aneh di sepanjang paha bagian dalam. Matahari Bali merangkak naik, menyentuh pundakku dengan jemari panasnya yang kian menyengat. Di balik gaun linen tipis yang kukenakan, aku bisa merasakan gesekan halus kain terhadap kulitku yang kini benar-benar licin. Proses semalamβritual pembersihan yang menyakitkan sekaligus membebaskan ituβmembuat setiap inci tubuhku terasa jauh lebih sensitif. Bahkan hembusan angin yang menyelinap di sela kain terasa seperti belaian lembut yang provokatif.
Aku memelankan laju motor saat aspal halus berganti menjadi jalanan berbatu yang tidak rata. Di tangan kiriku, ponsel yang terjepit di *holder* stang menunjukkan titik biru yang berkedip-kedip gelisah di tengah hamparan hijau peta digital. Sinyal mulai timbul tenggelam.
"Jangan sampai tersesat, Lia. Fokus," bisikku pada diri sendiri, meski suaraku tertelan deru angin.
Pikiranku melayang pada percakapan singkat tadi pagi dengan Wayan, penjaga vila. Dengan suara rendah dan senyum misterius, ia menggambar sebuah peta kasar di atas secarik kertas tisu. "Cari pohon beringin besar yang dililit kain poleng. Di sana ada jalan setapak kecil yang turun ke bawah. Jarang ada turis yang tahu, Nona. Tapi hati-hati, medannya licin."
Kini, di depanku hanya ada rimbunnya pepohonan kamboja liar dan semak belukar yang seolah ingin menelan jalan setapak ini. Aku menoleh ke belakang; jalan raya sudah tak terlihat, digantikan oleh sunyi yang hanya dipecahkan oleh suara jengkerik dan debur ombak yang terdengar samar dari kejauhan. Rasa cemas mulai merayap di tengkukku. Bagaimana jika motorku mogok di sini? Bagaimana jika aku salah mengambil belokan dan berakhir di tebing buntu?
Aku menghentikan motor di bawah bayangan pohon besar yang tampak persis seperti deskripsi Wayan. Kain hitam-putih yang melilit batangnya sudah agak pudar, namun auranya tetap terasa sakral. Aku mematikan mesin. Seketika, keheningan menyergap. Jantungku berdegup kencang, bukan hanya karena rasa takut akan tersesat, tapi karena antisipasi atas apa yang akan kulakukan.
Aku turun dari motor, merasakan kakiku sedikit gemetar saat menapak di tanah merah. Aku melepas helm, membiarkan rambut cokelatku tergerai berantakan. Keringat menetes dari pelipis, mengalir turun ke leher dan menghilang di balik kerah gaun. Sensasi cairan yang mengalir di kulit yang baru dic**ur itu benar-benar mengganggu konsentrasiku; terasa begitu nyata, begitu... te*******.
Aku melangkah mendekati bibir tebing, mengikuti arah suara ombak. Di balik semak-semak berduri, aku menemukan celah kecil. Sebuah jalan setapak curam yang lebih mirip jalur air terjun mati, terdiri dari susunan batu karang yang tajam dan licin.
"G***. Aku benar-benar akan turun ke sana?" tanyaku pada bayanganku sendiri.
Logika perfeksionisku berteriak agar aku berbalik arah, kembali ke kafe nyaman di Seminyak dengan kopi *latte* dan koneksi Wi-Fi yang stabil. Namun, ada dorongan lain yang lebih kuatβdorongan yang lahir sejak aku membuang pisau c**ur semalam. Aku ingin melihat sejauh mana aku bisa berlari dari rasa takutku sendiri.
Aku mulai menuruni jalan setapak itu dengan hati-hati. Tanganku berpegangan pada akar-akar pohon yang menonjol keluar dari tanah. Setiap gerakan membuat gaunku terangkat, mengekspos kakiku yang mulus. Aku merasa seperti penyusup di alam liar ini, seorang wanita kota yang mencoba menaklukkan sesuatu yang jauh lebih besar darinya.
Tiba-tiba, kaki kananku menginjak batu yang goyah.
"Akh!"
Aku terpeleset, bokongku menghantam tanah keras sementara tanganku dengan panik mencengkeram dahan pohon berduri. Rasa perih menjalar di telapak tanganku, tapi itu bukan kekhawatiran utamaku. Aku terengah-engah, bersandar pada dinding tebing yang lembap, jantungku berpacu seperti genderang perang. Aku menatap ke bawah. Masih ada sekitar tiga puluh meter lagi sebelum mencapai pasir. Di belakangku, jalur yang baru saja kulewati tampak mustahil untuk didaki kembali tanpa bantuan.
Aku terjebak.
Rasa panik mulai menyempitkan tenggorokanku. Aku sendirian di tempat yang entah di mana, dengan luka kecil di tangan, dan kemungkinan besar tidak ada yang akan mendengarku jika aku berteriak. Aku menutup mata, mencoba mengatur napas. Harum garam laut tercium semakin kuat, bercampur dengan aroma tanah basah dan bunga liar.
Lalu, di tengah keputusasaan itu, aku mendengar sesuatu. Bukan suara ombak, bukan pula suara burung. Itu adalah suara petikan senar gitar yang sayup-sayup, terbawa angin dari arah bawah.
Iramanya lambat, melankolis, namun memiliki daya pikat yang magnetis. Aku tertegun. Siapa yang akan berada di pant** tersembunyi seperti ini di jam seperti ini?
Rasa takutku perlahan berganti menjadi rasa ingin tahu yang membakar. Dengan sisa tenaga dan keberanian yang kupunya, aku kembali merayap turun, mengabaikan debu yang mengotori gaun linen putihku. Setiap langkah kini terasa lebih bermakna. Aku tidak lagi peduli pada rasa tidak percaya diriku atau bagaimana penampilanku nanti. Aku hanya ingin sampai di sana.
Setelah perjuangan selama lima belas menit yang terasa seperti berjam-jam, semak terakhir terbuka. Mataku mengerjap, terpesona oleh kontras warna yang menghantam penglihatanku. Pasir putih yang berkilau seperti jutaan berlian kecil, beradu dengan air laut berwarna turkuis jernih yang tenang. Tempat ini seperti potongan surga yang jatuh ke bumi, tersembunyi dengan sempurna oleh dinding-dinding karang raksasa.
Namun, langkahku terhenti tepat di batas antara bayangan tebing dan terangnya pant**.
Beberapa meter di depanku, duduk di atas batang kayu yang terdampar, seorang pria sedang membelakangiku. Ia berte******* dada, memperlihatkan punggung yang tegap dengan kulit yang terbakar matahari dengan sempurna. Ia sedang memetik gitar akustik tua, tampak begitu menyatu dengan debur ombak di depannya.
Aku membeku. Rencanaku untuk melepaskan pakaian dan berlari ke air dengan bikini *thong*-ku seketika terasa seperti sebuah kesalahan besar. Namun, saat pria itu berhenti memetik gitarnya dan mulai menoleh ke arahku, aku menyadari satu hal yang membuat napas di paru-paruku seolah terhenti.
Pria itu tidak tampak terkejut. Seolah-olah, dialah yang selama ini menungguku datang.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!