Jalan setapak itu nyaris tak terlihat, tertutup oleh sulur-sulur tanaman liar dan dahan pohon kamboja yang merunduk berat. Keringat mulai membasahi tengkuk Lia, membuat helaian rambut halusnya menempel pada kulit. Ia bisa mendengar deru ombak di kejauhan—sebuah suara bariton yang dalam dan konsisten—namun matanya hanya menangkap hamparan hijau yang seolah tak berujung. Napasnya sedikit terengah, bukan hanya karena pendakian kecil yang baru saja ia lalui, tapi karena debar antisipasi yang merambat di dadanya.
Setelah melewati satu kelokan tajam di balik batu karang besar, dunia seolah terbuka. Lia terpaku. Di hadapannya, sebuah teluk kecil tersembunyi seperti permata yang hilang. Pasirnya putih pucat, kontras dengan gradasi air laut dari biru toska hingga indigo pekat. Tidak ada payung warna-warni, tidak ada pedagang jagung bakar, tidak ada keriuhan turis. Hanya ada ia dan alam yang megah.
Lia melangkah turun ke pasir yang terasa hangat di bawah telapak kakinya. Ia meletakkan tas anyamannya di bawah bayangan pohon ketapang yang rindang. Jantungnya berdegup lebih kencang sekarang. Inilah momen yang ia rencanakan dengan begitu teliti di kamar hotelnya yang dingin. Inilah alasan mengapa ia menghabiskan waktu berjam-jam melakukan ritual pembersihan diri yang intim itu—menc**ur setiap helai rambut yang menurutnya mengganggu, memastikan kulitnya semulus sutra.
Ia menyentuh pinggiran gaun katun putihnya yang tipis. Di baliknya, ia bisa merasakan tali tipis bikini *thong* yang melilit pinggulnya. Pilihan warna merah marun itu terasa begitu berani, bahkan hampir keterlaluan bagi sosok Lia yang biasanya bersembunyi di balik blazer kerja berwarna abu-abu.
"Hanya ada aku di sini," bisiknya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang mendadak ragu.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Pant** itu tetap sunyi, hanya ada kepiting kecil yang berlari ma**k ke lubangnya. Lia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma garam dan kebebasan. Perlahan, jemarinya menarik tali bahu gaunnya. Kain itu meluncur turun dengan halus, jatuh menumpuk di atas pasir seperti kelopak bunga yang gugur.
Saat udara laut pertama kali menyentuh kulit bahunya yang te*******, Lia tersentak kecil. Sensasinya begitu murni. Ia kemudian melepas pakaian dalamnya, hingga kini ia hanya mengenakan potongan bikini paling minim yang pernah ia miliki dalam hidupnya.
Paparazzi imajiner di kepalanya mulai berteriak, menghakiminya dengan kata-kata tentang kesopanan dan standar tubuh yang sempurna. Lia memejamkan mata, berusaha mengusir suara-suara dari Jakarta itu. Ia membiarkan angin laut menyapu seluruh tubuhnya. Karena ia telah menc**ur habis seluruh rambut di tubuhnya, sensitivitas kulitnya meningkat berkali-kali lipat. Setiap embusan angin terasa seperti belaian ribuan tangan tak terlihat yang dingin namun membangkitkan gairah.
Ia merasakan angin itu menyelusup di antara celah pahanya, mengusap perutnya yang rata, dan menggelitik punggungnya yang kini terekspos sepenuhnya. Rasanya begitu terekspos, begitu te*******, namun di saat yang sama, ada kekuatan aneh yang mengalir dalam nadinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyembunyikan lekuk tubuhnya. Ia merasa menjadi bagian dari lanskap ini—liar dan tidak terjamah.
Lia melangkah mendekati garis air. Pasir basah yang dingin memberikan sensasi berbeda di bawah kakinya. Ia menunduk, melihat bayangan dirinya di genangan air dangkal yang bening. Ia melihat seorang wanita yang berbeda. Bukan Lia sang desainer perfeksionis yang selalu cemas akan pendapat klien, melainkan seorang wanita yang baru saja menemukan kembali kulitnya sendiri. Kulitnya berkilau di bawah sinar matahari Bali yang terik, tampak begitu halus hingga ia sendiri tergoda untuk menyentuhnya.
Ia mengusap lengannya sendiri, merasakan kelembutan yang luar biasa hasil dari ritualnya. Jari-jarinya bergerak turun ke pinggul, menyusuri garis bikini merahnya yang kontras dengan warna kulitnya yang mulai kecokelatan. Ada sensasi listrik yang merambat saat ujung jarinya bersentuhan dengan kulit sensitif yang kini tak lagi terhalang oleh apa pun.
"Luar biasa," gumamnya, suaranya nyaris hilang ditelan deburan ombak.
Ia merasa sangat hidup. Kebebasan ini terasa seperti candu yang baru saja ia cicipi setetes, dan ia menginginkan lebih. Lia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan dadanya membusung ke arah laut luas, menyerap energi matahari yang membakar. Rasa malu yang tadi menghimpitnya perlahan mencair, digantikan oleh rasa bangga yang primitif akan tubuhnya sendiri.
Namun, di tengah euforia itu, sebuah perasaan aneh menyergapnya. Perasaan seperti ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Lia membeku. Angin yang tadi terasa seperti belaian lembut, kini mendadak terasa dingin dan tajam di kulitnya yang sensitif. Ia tidak berani berbalik segera. Punggungnya yang nyaris te******* terasa sangat rentan. Bulu kuduknya berdiri. Keheningan pant** yang tadi terasa menenangkan, kini berubah menjadi kesunyian yang mengancam.
Ia perlahan memutar tubuhnya, matanya menyisir jajaran pohon dan semak-semak di pinggir pant**. Awalnya, ia tidak melihat apa-apa selain goyangan daun hijau. Namun, di balik sebuah batang pohon besar yang menjorok ke arah laut, ia menangkap kilatan sesuatu. Sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Seorang pria berdiri di sana, separuh tersembunyi oleh bayangan. Pria itu tidak bergerak, namun tatapannya terasa begitu nyata hingga Lia bisa merasakannya menyentuh kulitnya, menelusuri setiap inci tubuhnya yang baru saja ia pamerkan pada alam.
Napas Lia tercekat di tenggorokan. Rasa terekspos yang tadi terasa membebaskan, kini meledak menjadi rasa malu yang membakar seluruh wajah dan dadanya. Ia ingin lari, ingin menutupi tubuhnya dengan gaun putihnya yang tertinggal jauh di bawah pohon ketapang, namun kakinya seolah tertanam di pasir basah.
Pria itu kemudian melangkah keluar dari bayangan, menampakkan sosoknya yang tinggi dengan bahu lebar dan kulit yang terbakar matahari. Itu adalah Julian. Dan cara Julian menatapnya—dengan intensitas yang tidak menyembunyikan kekaguman sekaligus gairah—membuat Lia sadar bahwa persembunyiannya baru saja berakhir dengan cara yang paling tidak terduga.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!