Pasir putih yang masih perawan itu terasa hangat di bawah telapak kakiku, seolah menyambut keputusanku untuk meninggalkan dunia yang serba kaku. Di sini, di balik tebing karang yang menjulang tinggi dan rimbunnya pepohonan hijau, Pant** Nyang Nyang seolah menjadi milikku sendiri. Angin laut yang membawa aroma garam dan kelembapan tropis membelai kulitku yang kini jauh lebih sensitif setelah ritual pembersihan yang kulakukan tadi pagi.
Aku menarik napas panjang, membiarkan paru-paruku terisi udara yang tidak terkontaminasi polusi kota. Perlahan, aku melepas kain sarung tipis yang melilit pinggangku, membiarkannya jatuh begitu saja di atas pasir. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar terekspos, namun anehnya, aku tidak merasa takut.
Bikini thong berwarna merah marun yang kupilih terasa seperti kulit kedua. Kain sutranya yang lembut beradu dengan area sensitif yang baru saja kuc**ur bersih, menimbulkan sensasi geli yang halus setiap kali aku melangkah. Aku menunduk, melihat bayanganku di genangan air pasang yang jernih. Siluet tubuhkuβyang selama ini kusembunyikan di balik kemeja longgar dan celana bahanβkini terpampang nyata. Kurva pinggulku, panjang kakiku, dan keberanian yang tersampir di seutas tali tipis di punggungku.
Aku memejamkan mata, merentangkan tangan selebar mungkin, membiarkan sinar matahari Bali yang menyengat memba**h setiap inci kulitku. Debur ombak di kejauhan menjadi musik latar yang sempurna bagi tarian kebebasan yang tengah kurasakan. Aku merasa cantik. Aku merasa berkuasa atas diriku sendiri.
"Cahaya di sudut itu... benar-benar luar biasa."
Suara bariton yang rendah dan tenang itu memecah kesunyian seperti denting kaca yang jatuh ke lant** batu.
Jantungku seolah berhenti berdetak sedetik. Mataku langsung terbuka lebar. Aku tersentak, refleks meraih sarung yang tergeletak di pasir dan mendekapnya di depan dada, meskipun aku tahu bagian belakang tubuhku masih sepenuhnya terbuka bagi siapa pun yang berdiri di sana.
Sekitar sepuluh meter dariku, di bawah naungan pohon ketapang yang rindang, seorang pria berdiri dengan kamera DSLR yang tergantung di lehernya. Ia mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kulit kecokelatan yang tampak terbiasa dengan matahari. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, dan ada sepasang mata tajam yang kini menatapku dengan intensitas yang membuat lututku sedikit lemas.
"Aku... aku pikir tempat ini kosong," suaraku keluar sedikit parau, bergetar antara rasa malu dan kemarahan karena privasiku terusik.
Pria itu menurunkan kameranya, membiarkannya tergantung di dada. Ia mengangkat kedua tangan dengan telapak terbuka, sebuah isyarat damai yang universal. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Aku Julian. Aku sudah di sini sejak subuh, menunggu momen ketika air surut dan cahaya jatuh tepat di balik celah karang itu."
Ia tidak berpaling. Ia tidak menunduk malu. Tatapannya jujur, seolah ia tidak sedang melihat seorang wanita yang hampir te*******, melainkan sebuah karya seni yang tidak sengaja ia temukan di tengah hutan.
"Kau memotretku?" tanyaku dengan nada menuduh, meskipun rasa penasaran mulai menggerogoti rasa maluku.
Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak tulus namun menyimpan sedikit misteri. "Aku memotret pemandangan. Tapi harus kuakui, keberadaanmu di sana membuat komposisi fotoku menjadi... hidup. Kau tampak seperti bagian dari alam ini, bukan orang asing yang tersesat."
Aku mengeratkan pelukan pada kain sarung di dadaku, namun udara panas Bali dan tatapan Julian membuatku merasa gerah dengan cara yang berbeda. Ada magnetisme aneh yang terpancar darinya, sebuah kepercayaan diri yang tenang yang membuatku merasa tidak perlu lagi bersembunyi.
"Pant** ini bukan milikku, aku tahu," kataku, mencoba mengembalikan sisa-sisa martabat desainer grafis yang perfeksionis dalam diriku. "Tapi biasanya orang akan berdeham atau memberi tanda sebelum... menonton orang lain."
Julian melangkah maju beberapa tindak, gerakannya tenang seperti predator yang tidak berniat menyakiti. "Aku terpesona, itu saja. Jarang sekali melihat seseorang yang begitu menikmati kebebasannya tanpa peduli pada dunia. Kau tampak sangat... nyaman dengan dirimu sendiri."
Kata-katanya menghantamku tepat di ulu hati. Nyaman dengan diriku sendiri? Itulah yang selama ini kucari. Apakah ia melihat proses internal yang baru saja kualami? Apakah ia melihat transformasi dari Lia yang pemalu menjadi Lia yang berani mengenakan thong di pant** tersembunyi ini?
Aku menghela napas, perlahan menurunkan kain sarung itu sedikit, namun tetap menjaganya agar tidak jatuh. "Namaku Lia," ucapku pelan.
"Lia," ia mengulang namaku dengan nada yang terasa seperti belaian di telinga. "Nama yang indah untuk seseorang yang baru saja menantang matahari."
Ia mengangkat kameranya lagi, namun kali ini ia tidak membidiknya ke arahku. Ia memutar layar kecil di belakang kamera dan menunjukkannya padaku dari jarak yang c**up jauh. "Mau lihat? Aku bisa menghapusnya jika kau merasa keberatan."
Rasa takut dicela yang biasanya menghantuiku mendadak menguap, digantikan oleh dorongan impulsif yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku ingin tahu bagaimana dunia melihatku melalui lensa pria asing ini. Aku ingin tahu apakah keberanian yang kurasakan terpancar dalam gambar.
Aku melangkah mendekat, membiarkan pasir menyelinap di antara jemari kakiku, membawa serta segala keraguan yang tersisa. Saat aku berdiri c**up dekat dengannya, aroma kayu cendana dan laut dari tubuhnya menyeruak, bercampur dengan aroma tabir surya yang kupakai.
"Tunjukkan padaku," bisikku, kini benar-benar melupakan fakta bahwa aku hanya mengenakan beberapa inci kain sutra di hadapan seorang pria yang baru kukenal dua menit lalu.
Julian mengangguk dan menekan sebuah tombol. Saat mataku menatap layar digital itu, napasku tertahan. Di sana, di tengah hamparan pasir dan biru laut, seorang wanita berdiri membelakangi kamera dengan tangan terentang. Cahaya matahari membuat garis tubuhnya tampak bersinar, dan bikini merah itu tampak seperti goresan kuas yang berani di atas kanvas alam. Aku tampak kuat. Aku tampak bebas.
Namun, saat aku menggeser foto ke arah berikutnya, jantungku berdegup kencang. Foto itu diambil saat aku baru saja melepas sarungku, memperlihatkan lekuk punggung bawahku dan bagian belakang bikini thong-ku yang sangat minim dengan jelas.
Aku menatap Julian, dan ia sedang menatapku dengan binar yang tak bisa kusalahartikanβsebuah ketertarikan murni yang membakar.
"Apakah itu terlalu berani?" tanyaku, nyaris tanpa suara.
Julian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah lebih dekat, hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya hampir menyentuh bahuku yang terbuka, namun ia berhenti tepat satu inci sebelum kulit kami bertemu.
"Itu adalah hal paling jujur yang pernah kulihat sepanjang tahun ini," bisiknya.
Aku menelan ludah, merasakan ketegangan yang merambat dari ujung kaki hingga ke puncak kepalaku. Di pant** yang sunyi ini, hanya ada aku, Julian, dan kamera yang baru saja mengabadikan rahasiaku yang paling intim. Aku seharusnya merasa terancam, namun yang kurasakan justru getaran gairah yang menuntut untuk dipenuhi.
"Lia," panggilnya lagi, suaranya kini lebih dalam. "Apakah kau selalu seberani ini, atau Bali yang melakukannya padamu?"
Aku mendongak, menantang matanya. "Mungkin keduanya. Dan mungkin aku belum selesai menunjukkan keberanianku."
Baru saja kata-kata itu keluar dari bibirku, suara deru motor di atas tebing terdengar menjauh, meninggalkan kami dalam kesunyian yang semakin pekat. Julian menatap bibirku, lalu kembali ke mataku, tangannya kini perlahan turun menyentuh kain sarung yang masih kugenggam erat.
"Kalau begitu," Julian bergumam, jemarinya mulai menarik perlahan ujung kain itu, "jangan biarkan aku menghalangi kebebasanmu."
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!