Lampu pendar di ruang rapat lant** empat puluh dua itu berkedip sekali, memantul pada permukaan meja kaca yang dingin. Tiwi bisa merasakan denyut halus di pelipisnya, sebuah irama yang hanya muncul ketika kesabarannya mulai menipis. Di hadapannya, Pak Surya—kepala divisi pemasaran yang gemar bicara berputar-putar—sedang mengetukkan pulpennya ke meja, sebuah bunyi statis yang bagi Tiwi terdengar seperti paku yang dipukul ke dalam peti mati.
"Jadi, Tiwi, kamu yakin strategi *reb**nding* ini tidak terlalu... kaku?" Pak Surya mencondongkan tubuh. Bau kopi instan dan rokok basi menguar dari napasnya.
Tiwi tidak berkedip. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan satu gerakan efisien. Jas abu-abu gelapnya tidak menyisakan satu pun kerutan. "Efisiensi sering kali disalahartikan sebagai kekakuan, Pak. Data menunjukkan bahwa audiens kita menginginkan kepastian, bukan janji manis yang abstrak."
"Tapi sedikit sentuhan personal..." Pak Surya mengulurkan tangan, hendak menepuk bahu Tiwi—sebuah gestur yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai keramahan profesional.
Tiwi bergeser satu inci. Halus, hampir tak terlihat, namun c**up untuk membuat tangan Pak Surya hanya menyentuh udara kosong. Pria itu berdehem, tampak sedikit kikuk sebelum menarik tangannya kembali.
"Personalitas ada dalam hasil, bukan dalam proses," balas Tiwi datar. Suaranya adalah baja yang dibungkus sutra. Dingin, namun sangat terkontrol.
Rapat itu berakhir sepuluh menit kemudian. Tiwi adalah orang pertama yang meninggalkan ruangan. Di koridor kantor yang berdinding marmer, ia berjalan dengan langkah yang terukur. Setiap tumit sepatunya yang menghantam lant** seolah-olah sedang menghitung mundur menuju kebebasan. Di balik wajahnya yang tenang seperti telaga, ada badai yang sedang mengamuk. Ia muak. Ia muak pada bau parfum pria-pria di kantor, pada sapaan basa-basi di lift, dan terutama pada cara orang-orang menatapnya—seolah-olah mereka punya hak untuk merambah ruang pribadinya.
Jakarta di luar sana adalah kebisingan yang tak berujung. Klakson kendaraan, debu yang menempel di pori-pori, dan gesekan bahu antarmanusia di trotoar yang membuatnya ingin berteriak. Bagi Tiwi, setiap sentuhan yang tak diinginkan—meski hanya sapaan tangan yang tak sengaja—terasa seperti silet yang menggores kulitnya.
Tepat pukul tujuh malam, ia sampai di depan gerbang hitam sebuah rumah kos eksklusif di daerah Jakarta Selatan. "Kamar Nomor Tujuh," gumamnya dalam hati, sebuah mantra penenang.
Di teras, ia bertemu dengan Pak B**m, pemilik kos. Pria paruh baya itu sedang menyiram tanaman hiasnya. Pak B**m selalu mengenakan baju koko putih yang bersih dan peci hitam yang letaknya tak pernah miring. Ia adalah gambaran pria saleh yang tenang.
"Baru pulang, Mbak Tiwi? Lembur lagi?" tanya Pak B**m dengan senyum ramah yang tulus.
Tiwi memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Iya, Pak. Banyak laporan."
"Jangan terlalu lelah. Kesehatan itu amanah," ujar Pak B**m bijak, suaranya lembut dan menenangkan. "Tadi ada paket di meja depan, sudah saya simpan di depan kamar Mbak."
"Terima kasih, Pak."
Tiwi mempercepat langkahnya melewati lorong yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu nomor tujuh, ia mengembuskan napas panjang. Ia mema**kkan kunci, memutarnya dua kali, dan begitu ma**k ke dalam, ia segera mengunci pintu dari dalam. Tak lupa, ia memasang selot tambahan yang sengaja ia pasang sendiri.
*Klik.*
Suara itu adalah simfoni pertama dalam ritualnya.
Tiwi tidak langsung menyalakan lampu utama. Ia membiarkan kegelapan merangkulnya sejenak. Bau kamarnya—campuran antara aromaterapi lavender dan kebersihan yang steril—mulai meresap ke dalam paru-parunya, mengusir bau kantor yang menyesakkan.
Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja dengan presisi yang sama setiap harinya. Kemudian, ia mulai menanggalkan satu per satu "zirah" yang ia kenakan. Jas abu-abunya ia gantung di lemari. Kemeja putihnya yang kaku menyusul. Ia melepas jam tangan, anting, dan menyeka riasan wajahnya sampai kulitnya yang pucat terlihat di balik cermin.
Kini, di bawah cahaya redup lampu tidur, Tiwi berdiri sendirian. Di kamar ini, tidak ada mata yang menilai. Tidak ada Pak Surya yang mencoba menyentuh bahunya. Tidak ada polusi Jakarta. Kamar ini adalah bentengnya. Kamar nomor tujuh adalah satu-satunya tempat di dunia di mana ia memegang kendali penuh.
Ia berjalan menuju pemutar musik kecil di sudut ruangan. Sebuah komposisi piano yang melankolis mulai mengalun lembut, mengisi setiap celah udara yang kosong. Tiwi memejamkan mata, membiarkan jemarinya sendiri meraba lengannya—sebuah sentuhan yang ia izinkan karena itu miliknya sendiri. Ia mulai bergerak perlahan, sebuah tarian tanpa koreografi, sebuah ekspresi dari trauma yang selama ini ia kunci rapat-rapat di balik sikap profesionalnya.
Di sini, ia boleh menjadi rapuh. Di sini, ia boleh menjadi hancur.
Ia merebahkan tubuhnya di atas seprai satin yang dingin. Matanya menatap langit-langit kamar yang polos. Di saat-saat seperti inilah, Tiwi merasa benar-benar hidup. Kesunyian ini adalah miliknya. Rahasia ini adalah kekuatannya.
Namun, di tengah alunan piano yang lembut, sebuah kilatan kecil menangkap sudut matanya. Di sudut atas lemari pakaian, di antara bayang-bayang yang tercipta oleh lampu tidur, ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Sebuah titik kecil yang memantulkan sedikit cahaya. Sangat kecil, hampir tak terlihat jika ia tidak sedang berbaring di posisi ini.
Jantung Tiwi berdegup kencang secara tiba-tiba. Irama pianonya seolah berhenti berputar di telinganya, digantikan oleh suara darah yang menderu di pelipis. Ia bangkit berdiri dengan perlahan, kakinya terasa dingin saat menyentuh lant**.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyeret kursi meja riasnya ke depan lemari. Ia naik, mendekatkan wajahnya ke celah sempit di atas lemari yang biasanya hanya dihuni oleh debu.
Di sana, tersembunyi di balik tumpukan kardus kecil yang tak pernah ia sentuh, sebuah lensa kamera kecil yang gelap sedang menatapnya balik. Diam. Tak bergerak. Seolah-olah sedang mengabadikan setiap detik kete*******an jiwanya yang baru saja ia lepaskan.
Dunia Tiwi seakan runtuh dalam satu tarikan napas. Rasa aman yang ia bangun selama bertahun-tahun di dalam kamar ini mendadak menguap, meninggalkan rasa mual yang hebat di perutnya. Seseorang telah ma**k ke dalam bentengnya. Seseorang telah melihat semua yang seharusnya tetap menjadi rahasia.
Tiwi mundur selangkah, terjatuh dari kursi, namun ia tidak merasakan sakit. Matanya tetap terpaku pada lensa kecil itu. Di luar, suara langkah kaki seseorang melewati lorong kos yang sunyi, terdengar begitu dekat, seolah-olah sedang menertawakan kehancurannya dari balik dinding.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!