Lant** marmer koridor kos itu terasa lebih dingin dari biasanya, merambat menembus sol sepatu hak tinggi yang kukenakan. Aku berusaha menjaga ritme langkahku tetap stabil, sebuah irama yang memancarkan otoritas dan kendaliβtopeng yang kupakai setiap hari di kantor. Namun, saat bayangan seorang pria bertubuh gempal muncul di ujung lorong dekat tangga, detak jantungku mengkhianati segalanya. Ia berderak tak beraturan, seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas.
Pak B**m berdiri di sana, menyiram tanaman hias dalam pot plastik dengan gerakan yang sangat lambat. Ia mengenakan baju koko putih bersih dan sarung tenun, citra seorang bapak kos yang bersahaja dan religius. Begitu ia melihatku, senyumnya terkembang. Senyum yang dulu kuanggap ramah, kini terasa seperti seringai pemangsa yang baru saja mencium bau darah.
"Baru pulang, Nak Tiwi? Larut sekali. Kerja keras itu bagus, tapi tubuh juga butuh perhatian, bukan?" suaranya rendah, serak, dan membawa nada keakraban yang membuat bulu kudukku meremang.
Aku mengangguk singkat, mencoba melewatiku tanpa sepatah kata pun. "Mari, Pak," ucapku datar.
"Tunggu sebentar," tangannya yang memegang selang air bergerak, sedikit menghalangi jalanku. Air memercik ke lant**, membasahi ujung sepatuku. "Saya baru saja melihat-lihat... koleksi lama saya. Dan saya teringat sesuatu tentang kamar nomor tujuh."
Langkahku terhenti. Udara di sekitarku seolah tersedot keluar. Aku tidak menoleh, namun aku bisa merasakan tatapannya menyapu punggungku, seolah pakaian formal yang kukenakan ini transparan di matanya.
"Kamar itu punya pencahayaan yang bagus, ya?" Pak B**m melangkah mendekat. Bau minyak kayu putih dan tembakau murah menyengat indra penciumanku. "Terutama saat lampu utama dimatikan dan hanya menyisakan lampu meja kecil di sudut. Memberikan bayangan yang... sangat artistik pada kulit."
Aku berbalik, mencoba mempertahankan tatapan dingin yang biasa kugunakan untuk mengintimidasi bawahan di kantor. "Apa mau Anda, Pak B**m?"
Ia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. Ia meletakkan selangnya dan menyeka tangan pada sarungnya. "Mau saya? Saya hanya pengagum keindahan, Tiwi. Saya tidak menyangka, manajer dingin yang disegani di gedung pencakar langit itu punya sisi yang begitu... rapuh. Begitu liar saat sendirian."
Duniaku serasa miring. Bayangan rekaman ituβmomen-momen saat aku melepaskan semua bebanku, saat aku menyentuh diriku sendiri untuk merasakan bahwa aku masih hidup, saat aku menangis tanpa suara di lant**βsemuanya kini berada di tangan pria ini. Ia telah merampas satu-satunya ruang di mana aku merasa aman.
"Anda melanggar hukum," bisikku, suaraku bergetar meski aku berusaha keras menahannya. "Itu privasi. Saya bisa melaporkan Anda ke polisi detik ini juga."
Pak B**m justru melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa melihat pori-pori wajahnya yang kasar. Ia tidak takut. Justru aku yang mundur hingga punggungku membentur dinding koridor yang dingin.
"Polisi?" Ia mendengus remeh. "Silakan. Tapi sebelum mereka memborgol saya, video itu sudah akan mendarat di meja Pak Hermawan. Bagaimana menurutmu reaksi bos besarmu itu melihat 'aset terbaiknya' melakukan hal-hal memalukan seperti itu? Apakah citra perfeksionis yang kamu bangun bertahun-tahun akan tetap tegak? Atau kamu akan dikenal sebagai wanita murahan yang tertangkap kamera?"
"Jangan..." Suaraku nyaris hilang. Nama Pak Hermawan adalah ancaman nyata. Karirku, reputasiku, identitasku sebagai wanita karier yang tangguhβsemuanya bergantung pada persepsi orang lain. Jika video itu tersebar, aku bukan lagi Pratiwi sang manajer analitis. Aku akan menjadi tontonan. Objek. Sampah.
Pak B**m menjangkau helai rambutku yang jatuh di bahu, memutar-mutarnya dengan jari jemarinya yang kasar. Aku ingin meludah, ingin berteriak, tapi tubuhku kaku seolah disemen. Rasa muak memuncak di kerongkonganku saat ia menghirup aroma rambutku dengan rakus.
"Kamu terlihat sangat cantik saat sedang ketakutan, Tiwi. Jauh lebih hidup daripada saat kamu memakai setelan kerja itu," bisiknya tepat di telingaku. Napasnya terasa panas dan menjijikkan. "Saya punya semua episodenya. Dari saat kamu mulai membuka kancing bajumu, sampai saat kamu meringkuk di pojok tempat tidur. Saya menontonnya berulang kali. Kamu adalah mahakarya di kamar itu."
Aku memejamkan mata, berusaha memblokir suaranya, namun imajinasi tentang matanya yang mengint** di balik lensa tersembunyi itu terus menghantui. Aku merasa te*******, meski pakaianku masih lengkap. Aku merasa kotor.
"Apa yang Anda inginkan?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada menyerah yang membuat hatiku perih.
Pak B**m menjauhkan wajahnya, namun tangannya kini beralih mencengkeram lenganku. Cengkeramannya kuat, menunjukkan dominasi yang tak terbantahkan. "Saya tidak butuh uangmu, Tiwi. Saya punya c**up uang dari bisnis kos ini. Yang saya inginkan adalah akses. Saya ingin melihat 'pertunjukan' itu secara langsung, bukan dari layar."
Ia menatapku dengan mata yang haus akan kontrol. "Besok malam, Pak Hermawan akan mengadakan makan malam perusahaan, kan? Saya tahu karena saya sering membaca jadwalmu yang tertinggal di meja depan. Jika kamu tidak datang ke ruang kerja saya malam ini jam sepuluh, besok pagi semua rekan kantormu akan mendapatkan tautan video yang sangat menarik. Pilihan ada di tanganmu, Manajer Pratiwi yang terhormat."
Ia melepaskan cengkeramannya, menepuk bahuku seolah-olah kami baru saja membicarakan masalah biaya sewa yang telat, lalu kembali mengambil selang airnya.
Aku berdiri mematung di koridor yang kini terasa seperti lorong menuju ruang eksekusi. Di ujung jariku, kunci kamar nomor tujuh terasa berat dan tajam. Kamar yang dulunya adalah tempat perlindunganku, kini telah berubah menjadi panggung sandiwara yang diatur oleh seorang i****. Jam tanganku berdetak pelan, setiap detiknya seolah menghitung mundur kehancuran hidup yang telah kususun dengan susah payah. Malam ini pukul sepuluh, atau besok pagi duniaku berakhir.
Lampu koridor berkedip sekali, lalu mati, meninggalkanku dalam kegelapan yang pekat bersama suara gemericik air yang tak kunjung berhenti.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!