Layar ponsel yang retak itu berpijar di tengah kegelapan kamar, memantulkan cahaya biru pucat ke wajah Tiwi yang kaku. Sebuah notifikasi muncul tanpa nama, hanya serangkaian angka yang kini ia hafal di luar kepala.
*“Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, Tiwi. Keheninganmu membuatku ingin membagikan 'pertunjukan' itu kepada rekan-rekanmu di kantor. Bagaimana menurutmu jika Direktur Pemasaran melihat sisi lain dari asistennya yang paling teladan?”*
Tiwi merasakan empedu naik ke pangkal tenggorokannya. Jemarinya mencengkeram pinggiran meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Kamar Nomor Tujuh, yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas tanpa topeng, kini terasa seperti kotak kaca yang dipajang di tengah pasar. Setiap sudutnya terasa kotor, seolah-olah tatapan mata Pak B**m masih tertinggal di sana, merayap di dinding, menempel di seprai.
Selama tiga hari terakhir, ia meringkuk seperti binatang buruan. Namun, saat ia menatap pantulan dirinya di cermin lemari—mata yang sembap namun menyimpan kilat kemarahan yang mulai membeku menjadi tekad—sesuatu di dalam dirinya bergeser. Ketakutan itu masih ada, tetapi rasa muak telah melampauinya.
Ia adalah Pratiwi. Ia adalah orang yang memenangkan negosiasi jutaan dolar dengan ketenangan robotik. Jika hidupnya adalah sebuah korporasi yang sedang diancam *hostile takeover*, maka ia tidak akan membiarkan asetnya dirampas begitu saja.
Tiwi mengembuskan napas panjang, sebuah embusan napas yang dingin dan penuh perhitungan. Ia beranjak ke sudut kamar, mengambil laptop kerja yang biasanya hanya berisi tabel Excel dan laporan analisis risiko. Kali ini, ia akan menganalisis risiko yang berbeda.
Jemarinya menari di atas kibor. Bukan untuk menyusun laporan, melainkan ma**k ke dalam forum-forum keamanan siber tersembunyi yang pernah ia pelajari sekilas saat menangani ka**s kebocoran data di kantor. Ia membutuhkan cara untuk melacak pengirim pesan itu tanpa harus melibatkan pihak berwenang yang bisa menghancurkan reputasinya dalam semalam.
*Jebakan madu digital.* Itulah istilahnya.
Tiwi mengambil napas dalam-dalam sebelum mengetik balasan. Tangannya gemetar, bukan lagi karena takut, melainkan karena jijik yang harus ia tekan sedalam mungkin. Ia harus menjadi aktris terbaik malam ini.
*“Tolong, Pak... jangan lakukan itu,”* ketik Tiwi. Ia sengaja membiarkan ada jeda panjang seolah ia sedang menangis di balik layar. *“Saya akan melakukan apa pun. Tolong jangan hancurkan hidup saya. Kita bisa bicara? Saya... saya takut jika harus bicara di kantor.”*
Pesan itu terkirim. Tiwi memejamkan mata, membayangkan wajah Pak B**m yang mungkin sedang tersenyum penuh kemenangan di balik pintu kamarnya sendiri, merasa telah berhasil menjinakkan mangsanya.
Hanya butuh dua menit sampai ponselnya bergetar kembali.
*“Anak pintar. Aku tahu kamu akan mengerti. Besok malam, setelah jam sepuluh, datanglah ke ruang kerjaku di lant** bawah. Pakai gaun sutra biru yang sering kamu gunakan di kamar. Aku ingin melihatnya secara langsung, bukan lewat lensa.”*
Tiwi mual. Tubuhnya menggigil membayangkan tatapan pria tua itu. Namun, matanya tetap tertuju pada layar laptopnya. Ia sudah menyiapkan sebuah tautan pendek—sebuah dokumen yang ia klaim sebagai "pernyataan kesediaan" untuk menuruti kemauannya—yang sebenarnya telah disisipi pelacak IP dan *keylogger* sederhana yang ia peroleh dari kenalan lamanya di departemen IT.
“Kamu pikir kamu memegang kendali, B**m,” bisik Tiwi pada udara kosong. Suaranya rendah, nyaris seperti desisan. “Tapi kamu baru saja membukakan pintu untukku.”
Ia mulai mengatur strategi. Ia butuh lebih dari sekadar pelacak; ia butuh bukti fisik yang tak terbantahkan bahwa Pak B**m-lah yang memasang kamera itu dan melakukan pemerasan. Tiwi mulai membongkar tas kerjanya, mencari sebuah pulpen yang sebenarnya adalah p****am suara berkualitas tinggi—alat yang sering ia gunakan untuk mencatat notulensi rapat penting tanpa harus mengetik.
Ia berdiri di tengah kamar, memutar perlahan, memetakan setiap inci ruangannya. Di mana lagi kamera itu tersembunyi? Di balik stopkontak? Di dalam detektor asap? Ia tidak lagi merasa seperti korban yang terpojok. Ia mulai merasa seperti seorang arsitek yang sedang merancang sebuah kehancuran.
Malam itu, Tiwi tidak tidur. Ia menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari denah rumah kos itu melalui ingatannya dan foto-foto yang ia ambil diam-diam dari koridor. Ia mencatat pola rutinitas Pak B**m: kapan ia keluar untuk shalat ke masjid, kapan ia menerima tamu, dan kapan ia biasanya duduk sendirian di depan monitor di ruang kerjanya.
Setiap langkah yang ia rencanakan adalah sebuah pertaruhan nyawa dan karier. Jika ia gagal besok malam, jika Pak B**m menyadari bahwa ia sedang dijebak, maka video-video itu akan tersebar sebelum ia sempat mengedipkan mata. Namun, bagi Tiwi, hidup dalam persembunyian di bawah ancaman predator adalah kematian yang lebih buruk.
Pukul empat pagi, Tiwi berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai meredup tertutup kabut tipis. Ia meraba lehernya, bekas trauma masa lalu yang membuatnya muak pada sentuhan seolah berdenyut kembali. Dulu, ia hanya bisa lari dan bersembunyi di balik tembok es yang ia bangun. Sekarang, tembok itu akan ia gunakan untuk menghimpit lawannya.
Ia mengambil gaun sutra biru dari lemari. Kainnya terasa dingin dan licin di kulitnya. Ia menatap gaun itu dengan kebencian murni, namun kemudian melipatnya dengan rapi.
Besok adalah malam pertunjukannya.
Tiwi kembali ke meja, menutup laptopnya perlahan. Namun, sebuah suara gesekan halus dari balik pintu kamarnya membuatnya membeku. Itu bukan suara langkah kaki yang biasa. Itu adalah suara sesuatu yang disisipkan di bawah pintu.
Dengan jantung berdegup kencang, Tiwi mendekat. Di bawah celah pintu, sebuah amplop cokelat kecil tergeletak. Ia membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada sebuah kartu memori kecil dan selembar kertas dengan tulisan tangan rapi yang terbaca:
*“Aku melihatmu sedang merencanakan sesuatu di depan laptopmu, Tiwi. Jangan mencoba bermain api denganku, atau kamu akan terbakar sebelum sempat menyulutnya.”*
Tiwi mendongak, matanya liar mencari-cari ke seluruh penjuru langit-langit kamar. Sarafnya menegang. Masih ada kamera yang belum ia temukan. Pak B**m tidak hanya menontonnya; pria itu sedang menertawakannya dari balik dinding saat ini juga.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!