Ujung jemari Tiwi terasa kaku saat ia menyelipkan kartu plastik tipis ke celah kunci pintu ruang kerja pribadi Pak B**m. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara malam yang dingin. Di koridor lant** satu yang remang ini, detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentum genderang yang menulikan telinga. Ia tahu risikonya. Jika Pak B**m terbangun dan menemukannya di sini, semua permainan kucing-kucingan ini akan berakhir dengan kehancurannya.
*Klik.*
Pintu itu terbuka dengan suara gesekan halus yang membuat bulu kuduk Tiwi meremang. Ia segera menyelinap ma**k, menutup pintu di belakangnya, dan menyalakan lampu senter dari ponselnya. Cahaya putih yang tajam membelah kegelapan, menyapu meja kayu jati yang rapi, deretan buku-buku agama di rak, dan sebuah komputer desktop yang tampak ketinggalan zaman.
Bau ruangan itu menyesakkan—campuran antara debu, minyak kayu putih, dan sesuatu yang manis namun apak. Tiwi bergerak cepat menuju lemari arsip di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat ia menarik laci paling bawah yang terkunci. Ia menggunakan obeng kecil yang ia bawa dari tas kerjanya, mencongkel dengan tenaga yang dipicu oleh keputusasaan.
Logam bertemu logam. Dengan satu sentakan keras, laci itu terbuka.
Bukan tumpukan dokumen legal atau kuitansi sewa yang ia temukan. Di dalamnya terdapat sebuah kotak plastik kedap air. Di dalamnya, berderet rapi puluhan kartu memori (SD Card) yang masing-masing diberi label kecil berwarna putih.
Tiwi mengambil satu secara acak. Tanggalnya menunjukkan tahun 2018. Nama yang tertera di sana adalah "Santi - Kamar 4".
Darah Tiwi seolah membeku. Ia mengambil kartu lain. "Rina - Kamar 7 (2020)". Lalu "Dina", "Amel", "Siska". Nama demi nama, tahun demi tahun. Kamar nomor tujuh—kamarnya—ternyata telah menjadi panggung sandiwara bagi predator ini jauh sebelum ia menginjakkan kaki di Jakarta.
Ia meletakkan kartu-kartu itu kembali dengan tangan yang semakin tremor, lalu beralih pada sebuah buku catatan bersampul kulit hitam yang terselip di balik kotak. Saat ia membukanya, mual yang hebat menghantam ulu hatinya. Itu bukan sekadar buku harian. Itu adalah jurnal observasi.
*“Maret, 2019. Amel mulai merasa tidak nyaman. Dia sering memeriksa sudut langit-langit. Aku harus lebih berhati-hati mengganti sudut kamera. Dia menangis malam ini karena rindu ibunya. Sangat cantik saat rapuh.”*
Tiwi menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan dorongan untuk muntah. Tulisan tangan Pak B**m sangat rapi, miring ke kanan dengan lengkungan-lengkungan yang artistik—sangat kontras dengan isinya yang menjijikkan. Pak B**m tidak hanya merekam; dia mempelajari mereka, menikmati setiap inci kesedihan dan ketakutan para penghuni kosnya seolah-olah itu adalah nutrisi bagi jiwanya yang sakit.
Selama ini, Tiwi mengira ia adalah satu-satunya korban karena ia merasa "spesial" atau "terpilih". Namun melihat tumpukan bukti ini, ia sadar bahwa ia hanyalah angka dalam statistik panjang seorang kolektor. Ia hanyalah episode terbaru dalam serial horor yang telah berjalan bertahun-tahun.
Di antara lembaran-lembaran jurnal itu, terselip sebuah foto usang. Seorang gadis muda, mungkin baru berusia dua puluh tahun, sedang tertidur di ranjang yang sangat ia kenali—ranjang di Kamar Nomor Tujuh. Di balik foto itu tertulis: *"Nadia. Yang paling sulit dilepaskan."*
Tiwi teringat desas-desus dari penghuni lama tentang seorang gadis bernama Nadia yang tiba-tiba pindah tanpa pamit tiga tahun lalu. Kabar yang beredar adalah dia mengalami depresi berat dan memilih pulang ke kampung halamannya. Kini Tiwi tahu kebenarannya. Nadia tidak pindah; dia melarikan diri, atau mungkin dihancurkan sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk dibawa pergi.
Beban moral itu menghimpit dada Tiwi. Jika ia membawa bukti ini ke polisi sekarang, identitasnya sebagai "bintang utama" dalam video-video terbaru Pak B**m pasti akan terungkap. Kariernya yang ia bangun dengan darah dan air mata, reputasi "Wanita Besi" di kantor, semuanya akan hancur menjadi abu di bawah tatapan kasihan atau cemoohan publik. Ia bisa saja mengambil kartu memori miliknya sendiri, menghancurkannya, dan pergi dari sini selamanya. Ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Namun, matanya kembali menatap nama-nama di kotak plastik itu. Gadis-gadis lain yang mungkin saat ini hidup dalam trauma tanpa tahu siapa yang telah merampas privasi mereka. Dan calon korban berikutnya yang mungkin akan menggantikannya di Kamar Nomor Tujuh bulan depan.
"Ba******," desis Tiwi. Suaranya pecah, antara kemarahan dan isak tangis yang tertahan.
Ia mengambil ponselnya, bermaksud memotret isi jurnal tersebut sebagai bukti tambahan. Namun, tepat saat ia mengarahkan kamera ponselnya, sebuah bayangan panjang melintas di bawah celah pintu.
Lampu di koridor luar yang tadinya mati, tiba-tiba menyala.
Tiwi mematikan senter ponselnya dalam sekejap. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Ia bisa mendengar suara langkah kaki yang lambat, berat, dan diseret—suara langkah yang sangat ia kenali. Langkah kaki Pak B**m.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu ruang kerja.
Tiwi berjongkok di balik meja besar, memeluk lututnya, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Pak B**m bisa mendengarnya dari balik kayu pintu yang tebal.
Gagang pintu berputar perlahan. *Krieeet.*
"Tiwi? Kamu di dalam, Nak?" suara Pak B**m memecah kesunyian, lembut namun mengandung ancaman yang dingin. "Bapak tahu kamu belum tidur. Bapak mencium bau parfummu di koridor."
Tiwi memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram erat kartu memori milik 'Nadia' yang sempat ia genggam. Ia terjebak di dalam gua sang predator, dan pintu keluar satu-satunya kini sedang dijaga oleh monster yang selama ini ia hindari.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!