Udara di dalam Kamar Nomor Tujuh terasa lebih berat dari biasanya, seolah oksigen telah digantikan oleh partikel-partikel kecemasan yang menyesakkan paru-paru. Aku duduk di tepi tempat tidur, sengaja hanya menyalakan lampu meja yang temaram. Aku mengenakan gaun tidur sutra berwarna kremβpakaian yang biasanya menjadi seragam ritual ketenanganku, namun malam ini, kain itu terasa seperti kulit ular yang siap kukelupas.
Tanganku sedikit gemetar saat meletakkan ponsel di atas meja nakas, dalam posisi miring yang sudah kuperhitungkan dengan matang agar lensanya menangkap seluruh area pintu dan ranjang. Aku telah menekan tombol *record* tiga menit yang lalu.
Lalu, terdengar suara itu. Langkah kaki yang menyeret, pelan namun pasti, berhenti tepat di depan pintuku.
*Tok. Tok. Tok.*
Ketukan itu tidak mendesak. Ketukan itu sopan, khas seorang bapak kos yang peduli pada penyewanya. Namun, bagiku, suara itu terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Aku menarik napas dalam, membiarkan kebencian membekukan rasa takutku hingga menjadi belati yang tajam.
"Tiwi? Bapak lihat lampu kamarmu masih nyala. Kamu belum tidur, Nak?"
Suara Pak B**m. Lembut, serak, dan menjijikkan. Aku berdeham, memaksakan suaraku agar terdengar sedikit serak, seolah-olah aku baru saja menangis. "Belum, Pak. Ma**k saja, pintunya tidak dikunci."
Kenop pintu berputar. Engselnya mengeluarkan derit halus yang membuat bulu kudukku meremang. Sosok Pak B**m muncul di ambang pintu. Ia masih mengenakan baju koko putih dan sarung kotak-kotak, sisa dari aktivitasnya di mushola tadi petang. Penampilannya adalah definisi dari 'alim', topeng paling sempurna untuk menyembunyikan monster di dalamnya.
"Wajahmu pucat sekali," ucapnya sambil melangkah ma**k tanpa ragu. Ia tidak menunggu undangan kedua. Ia menutup pintu di belakangnya dengan bunyi *klik* yang final. "Bapak khawatir melihat kamu beberapa hari ini. Pekerjaan di kantor berat, ya?"
Ia berjalan mendekat, memperpendek jarak yang selama ini menjadi benteng pertahananku. Bau minyak kayu putih dan tembakau murah mulai memenuhi indra penciumanku. Aku meremas sprei ranjang hingga buku jariku memutih.
"Saya cuma merasa... tidak aman, Pak," kataku, mataku menatap langsung ke matanya yang teduh namun licik. "Rasanya ada yang selalu mengawasi saya. Bahkan di dalam kamar ini."
Pak B**m terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas. Ia duduk di kursi kerjaku, kursi yang biasanya kugunakan untuk menyusun strategi korporat yang dingin. "Itu cuma perasaanmu saja, Nak. Kamu terlalu lelah. Di sini aman. Bapak yang jaga."
Ia berdiri lagi, kali ini melangkah hingga ujung sepatunya menyentuh tepi tempat tidurku. "Tapi, kalau kamu memang merasa takut... Bapak bisa menemani. Seperti yang sering kamu lakukan sendirian itu, kan? Yang sering Bapak lihat?"
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku seolah ingin melarikan diri. Inilah saatnya. Dia sudah mengaku secara implisit.
"Apa yang Bapak lihat?" tanyaku, suaraku nyaris berupa bisikan.
Pak B**m membungkuk. Tangannya yang kasar dan berbintik karena usia perlahan terangkat, hendak menyentuh helai rambutku. Aku tidak menghindar. Aku membiarkan rasa mual itu menggelegak di perutku. "Semuanya, Tiwi. Bapak tahu bagaimana kamu menyentuh dirimu sendiri saat merindukan kasih sayang. Bapak tahu luka di punggungmu. Bapak tahu rahasiamu yang paling sunyi."
Tangannya kini menyentuh bahuku. Sentuhan itu terasa seperti lendir yang membakar kulitku. "Kamu tidak perlu malu pada Bapak. Kita ini sama. Sama-sama kesepian."
"Bapak merekam saya," kataku datar, menepis tangannya dengan gerakan yang tiba-tiba dan kasar. Aku berdiri, menciptakan jarak satu langkah. "Setiap sudut kamar ini. Bapak menaruh kamera di sana, kan? Di balik lubang ventilasi?"
Ekspresi Pak B**m berubah. Ketenangan semu itu luruh, digantikan oleh seringai yang membuat wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dan jauh lebih menyeramkan. Ia tidak tampak terkejut. Ia justru tampak menikmati konfrontasi ini.
"Dan kamu menikmatinya, bukan? Mengetahui ada yang melihatmu?" Pak B**m melangkah maju lagi, kali ini lebih cepat. Ia mencengkeram lenganku dengan kekuatan yang tidak terduga dari pria seusianya. "Jangan berlagak suci, Tiwi. Kamu mengirimkan sinyal itu setiap malam. Kamu ingin diperhatikan."
"Lepaskan!" aku memberontak, namun cengkeramannya semakin kuat, kuku-kukunya menusuk kulit lenganku.
"Kamu pikir kamu siapa? Manajer hebat? Di sini, kamu cuma perempuan jalang yang butuh penonton," desisnya. Ia menyentakkan tubuhku hingga aku jatuh kembali ke ranjang. Ia merangkak naik, menindih kakiku dengan berat tubuhnya yang berbau apek. "Video-video itu... kalau sampai orang kantor tahu, karirmu selesai. Tapi kalau kamu penurut, Bapak bisa simpan itu untuk koleksi pribadi kita saja."
Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aku bisa melihat pori-pori kulitnya yang berminyak dan matanya yang dipenuhi nafsu purba. Rasa muak yang selama ini kupendam meledak menjadi kemarahan murni. Aku bukan lagi Tiwi yang rapuh. Aku adalah predator yang sedang terdesak.
"Bapak pikir saya bodoh?" bisikku tepat di depan mukanya. "Bapak pikir saya cuma diam saja menunggu Bapak datang?"
Aku merogoh saku gaun tidurku dengan tangan kiri yang bebas, mengeluarkan sebuah alat kecil yang sedari tadi tersembunyiβsebuah *taser* saku yang kubeli melalui jalur gelap dua hari lalu. Tanpa ragu, aku menekannya ke pinggang Pak B**m dan menekan pelatuknya.
*BZZZZT!*
Suara aliran listrik yang berderit memecah kesunyian kamar. Pak B**m membelalak, tubuhnya mengejang hebat. Ia mengerang tertahan sebelum akhirnya ambruk ke samping, terjatuh dari ranjang dan menghantam lant** dengan bunyi berdebam yang keras.
Aku segera melompat turun, napas terengah-engah, dadaku naik turun dengan liar. Aku mengambil ponselku dari nakas, memastikan kamera telah merekam seluruh adegan penyerangan dan pengakuannya tadi.
"Ini bukan akhir, Pak B**m," kataku, suaraku bergetar karena adrenalin namun terdengar mematikan.
Pak B**m mengerang di lant**, tubuhnya masih sedikit gemetar akibat sirkuit listrik yang mengacaukan sarafnya. Ia berusaha menatapku, matanya merah karena amarah dan rasa malu. "Kamu... kamu tidak akan berani... menyebarkannya..."
"Oh, saya tidak akan menyebarkannya ke publik," aku berjongkok di sampingnya, menunjukkan layar ponselku yang masih merekam. "Saya akan memberikannya langsung ke istri Bapak. Dan ke polisi. Dan ke setiap grup WhatsApp warga di lingkungan ini."
Namun, saat aku hendak melangkah menuju pintu, terdengar suara tawa parau dari arah lant**. Pak B**m tertatih untuk duduk, memegangi pinggangnya, namun ia tersenyum. Senyum yang membuat darahku membeku.
"Silakan, Tiwi. Kirimkan saja," katanya sambil menyeka keringat di dahinya. "Tapi apa kamu sudah mengecek *cloud storage* akunmu malam ini? Bapak sudah memasang program *mirroring*. Detik ini juga, video ritual 'intim' kamu di kamar ini sedang diunggah ke situs yang tidak akan bisa kamu hapus seumur hidupmu jika Bapak tidak menekan tombol *cancel* di ponsel Bapak."
Langkahku terhenti. Jari-jariku yang memegang ponsel tiba-tiba terasa lemas.
"Kita mainkan permainan ini sampai tuntas, ya?" Pak B**m merogoh saku sarungnya, mengeluarkan ponsel miliknya yang layarnya bercahaya biru pucat, menampilkan bilah *progress bar* unggahan yang sudah mencapai 85 persen.
Keamanan yang baru saja kurasakan runtuh seketika. Kamar Nomor Tujuh kini bukan lagi sekadar tempat persembunyian yang terlanggar, melainkan arena eksekusi di mana akulah yang mungkin akan kehilangan segalanya.
"Tangan di atas, Tiwi," perintahnya dengan suara dingin yang mutlak. "Atau seluruh dunia akan melihat apa yang kamu lakukan di balik pintu terkunci ini."
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!