Ruangan sempit yang berfungsi sebagai gudang sekaligus ruang kerja pribadi Pak B**m itu terasa menyesakkan. Bau apak kayu tua bercampur dengan aroma kopi instan yang sudah dingin menusuk indra penciuman Tiwi. Di bawah temaram lampu bohlam yang berkedip, Tiwi berdiri tegak, meski jemarinya yang tersembunyi di balik saku blazer bergetar hebat. Ia bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, membasahi kemeja sutra yang biasanya selalu tampak licin tanpa cela.
Di depannya, Pak B**m duduk di balik meja kayu jati yang penuh debu. Pria itu masih mencoba mempertahankan topeng kebapakannya, namun sorot matanya yang gelisah mengkhianati ketenangannya yang palsu.
"Kamu salah paham, Tiwi. Saya hanya ingin memastikan keamanan semua penghuni kos ini. Jakarta itu keras, Nak," suara Pak B**m parau, mencoba terdengar bijaksana.
Tiwi merasakan mual yang hebat melilit perutnya. Kata "Nak" yang keluar dari mulut pria itu terdengar seperti lendir yang kotor. Ia merogoh ponsel di sakunya, memastikan layar p****am masih berjalan di balik kain tipis.
"Keamanan?" Tiwi melangkah maju, membiarkan ujung sepatunya mengetuk lant** ubin dengan bunyi yang tajam dan berirama. "Keamanan macam apa yang mengharuskan Anda memasang lensa di sela ventilasi kamar mandi saya? Keamanan macam apa yang membuat Anda menyimpan ribuan jam rekaman saya saat saya sedang berada di titik paling rapuh?"
Pak B**m terdiam. Otot rahangnya mengeras. Ia melirik ke arah CPU besar yang mendengung di bawah mejaβjantung dari seluruh dosa yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
"Kamu itu istimewa, Tiwi," bisik Pak B**m tiba-tiba, suaranya berubah menjadi nada rendah yang mengerikan. "Di kantor, kamu seperti robot. Dingin. Tapi di kamar itu... di depan kamera saya... kamu hidup. Kamu manusia. Saya satu-satunya orang yang benar-benar mengenal siapa kamu sebenarnya. Melebihi orang tuamu, melebihi rekan kerjamu. Saya yang menjaga rahasiamu."
Tiwi mengepalkan tangan hingga kukunya menancap di telapak tangan. Rasa sakit itu membantunya tetap fokus. "Anda tidak menjaga saya. Anda memangsa saya. Katakan, Pak B**m. Katakan bahwa Anda yang mengirimkan potongan video itu ke email kantor saya semalam. Katakan bahwa ini semua adalah cara Anda untuk memegang kendali atas hidup saya."
Pak B**m terkekeh, sebuah suara kering yang terdengar seperti gesekan amplas. "Saya hanya ingin kamu sadar, Tiwi. Kamu tidak bisa hidup sendirian. Kamu butuh perlindungan saya. Ya, saya yang mengirimnya. Dan saya punya lebih banyak lagi. Jika kamu pergi dari sini, dunia akan melihat 'simfoni' yang kamu mainkan di kamar nomor tujuh itu."
*Dapat,* batin Tiwi. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah mendapatkan pengakuannya. Suara Pak B**m terekam jelas di ponselnya.
Namun, di saat kejayaan itu mulai mekar di dadanya, sayup-sayup terdengar suara raungan sirene dari kejauhan. Polisi. Tiwi telah mengatur agar seorang rekan yang ia percayai menelepon pihak berwajib jika ia tidak memberikan kabar dalam tiga puluh menit. Namun, kedatangan mereka terlalu cepatβatau mungkin terlalu bising.
Wajah Pak B**m berubah drastis. Ketertarikan obsesif di matanya berganti menjadi kilatan panik yang liar. Ia menyadari jebakan itu.
"Kamu... kamu memanggil mereka?" Pak B**m berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya terjungkal.
"Sudah berakhir, Pak B**m. Serahkan server itu," ujar Tiwi dengan suara yang ia usahakan tetap stabil, meski kakinya terasa seperti jeli.
"Tidak! Tidak akan ada yang melihat ini!" Pak B**m meraung. Ia tidak lari ke arah pintu. Alih-alih, ia merogoh sesuatu dari laci mejanyaβsebuah palu besi beratβdan mengayunkannya ke arah monitor dan CPU di bawah meja.
*B**KK!*
Layar monitor pecah, memercikkan bunga api kecil. Pak B**m seperti kes****an, ia mulai menghantamkan palu itu ke badan CPU, tempat di mana *hard drive* berisi seluruh hidup Tiwi tersimpan.
"Jangan!" Tiwi berteriak, melupakan ketakutannya akan sentuhan fisik. Ia menerjang maju, mencoba meraih lengan Pak B**m.
Bau keringat dan napas busuk pria itu menyergapnya, memicu trauma masa lalu yang membuat kepalanya berdenyut. Tiwi merasa ingin muntah, ingin menghilang, namun bayangan wajah-wajah rekan kantornya yang menertawakan videonya jauh lebih menakutkan daripada bersentuhan dengan monster ini.
Tiwi berhasil mencengkeram lengan Pak B**m, namun pria itu jauh lebih kuat. Dengan satu sentakan kasar, Pak B**m menghempaskan Tiwi hingga bahunya membentur lemari arsip. Rasa nyeri menjalar dari bahu ke seluruh lengannya, namun Tiwi melihat kabel-kabel yang menjunt** dari balik CPU yang sudah penyok itu.
"Jika saya hancur, kamu juga hancur, Tiwi! Semuanya akan hilang!" Pak B**m mengangkat palu itu lagi, mengarahkannya tepat ke bagian inti penyimpanan data.
Di luar, suara pintu depan kos yang didob**k terdengar menggelegar. Langkah-langkah sepatu bot yang berat mengguncang lant** kayu koridor.
"Polisi! Jangan bergerak!"
Pak B**m tidak peduli. Matanya merah, penuh keg***an. Ia mengayunkan palunya sekali lagi dengan kekuatan penuh. Tiwi memejamkan mata, bersiap mendengar suara kehancuran total dari satu-satunya bukti yang bisa membebaskannya sekaligus menghancurkannya.
Namun, yang terdengar kemudian bukanlah dentuman besi pada plastik, melainkan suara gesekan logam yang diikuti oleh teriakan kesakitan yang memilukan.
Tiwi membuka matanya dan terbelalak. Pak B**m tersungkur di lant**, memegangi pergelangan tangannya yang bersimbah darah. Di dekat kakinya, bukan hanya palu yang tergeletak, melainkan sebuah pecahan kaca besar dari monitor yang tadi ia pecahkan sendiri, yang entah bagaimana telah menyayat nadinya saat ia mengayunkan palu terlalu rendah.
Asap tipis mulai keluar dari mesin CPU yang rusak sebagian. Tiwi merangkak mendekat, mengabaikan polisi yang mulai merangsek ma**k ke dalam ruangan sempit itu. Ia menatap lampu indikator *hard drive* yang berkedip lemah, seolah sedang mengambil napas terakhirnya.
Seorang petugas polisi memegang bahu Tiwi untuk menariknya menjauh, namun Tiwi menepisnya dengan kasar. Matanya terpaku pada layar kecil di sudut CPU yang masih menyala redup, menampilkan sebuah bar progres yang membeku: *Format in progress... 98%*.
Darahnya terasa membeku. Pak B**m tidak hanya mencoba menghancurkannya secara fisik, dia telah mengaktifkan perintah penghapusan otomatis.
"Tolong... jangan," bisik Tiwi pada mesin itu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi debu di lant**. "Jangan ambil kendaliku lagi."
Tepat saat petugas polisi memborgol Pak B**m yang mengerang, layar itu berkedip sekali lagi, lalu mati total. Ruangan itu jatuh ke dalam keheningan yang mencekam, hanya menyisakan suara napas Tiwi yang tersengal dan bunyi detak jantungnya sendiri yang terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasinya.
Apakah data itu selamat? Ataukah Pak B**m berhasil melakukan satu hal terakhir untuk memastikan Tiwi tetap terikat padanya selamanya dalam kegelapan?
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!