Bunyi selotip yang ditarik paksa membelah keheningan Kamar Nomor Tujuh untuk terakhir kalinya. Tiwi menekan pinggiran kardus cokelat itu dengan ibu jari, memastikan p****atnya menempel kuat. Kamar yang selama ini menjadi saksi bisu ritual-ritual rahasianya kini tampak asing. Tanpa seprai sutra abu-abu, tanpa jajaran botol parfum mahal yang tertata menurut gradasi warna, dan tanpa tirai tebal yang selalu menghalau sinar matahari Jakarta, ruangan ini hanyalah kotak beton yang pengap.
Tiwi berdiri, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Ia tidak mengenakan kemeja kerja yang kaku atau rok pensil yang mencekik pinggang. Hari ini, ia hanya mengenakan kaus katun longgar dan celana jin lama yang sudah pudar warnanya. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini hanya diikat ekor kuda yang berantakan.
Matanya tertuju pada sebuah lubang kecil di sudut plafon, tempat di mana lensa terkutuk itu dulu bersembunyi. Lubang itu sudah ditambal dengan semen putih yang kasar, namun di mata Tiwi, bekas itu tetap menganga seperti luka borok.
"Sudah semua, Mbak Tiwi?"
Suara berat itu membuat Tiwi tersentak. Di ambang pintu, seorang pria paruh baya dengan seragam petugas pindahan berdiri sambil memegang daftar barang.
Tiwi mengangguk pelan. "Hanya ini. Sisanya sudah saya buang."
Ia tidak membawa banyak hal. Sebagian besar pakaian mahalnya ia sumbangkan ke panti a**han seminggu yang lalu. Ia tidak butuh lagi diingatkan pada citra "Pratiwi yang Sempurna" yang dibangunnya dengan susah payah di gedung pencakar langit Sudirman. Citra itu sudah hancur bersamaan dengan surat pengunduran diri yang ia letakkan di meja bosnya, tepat setelah potongan video itu sempat beredar di grup internal kantor sebelum akhirnya berhasil dihapus secara hukum.
Tatapan rekan kerjanya yang penuh selidik, bisik-bisik di pantry, dan belas kasihan palsu dari mereka yang selama ini membencinyaβsemua itu adalah harga yang harus ia bayar untuk sebuah kebebasan.
Saat ia melangkah keluar dari gerbang kosan, sosok Pak B**m tidak terlihat. Pria itu entah berada di mana, mungkin sedang meringkuk di balik jeruji besi atau sedang bersembunyi di lubang tikus manapun setelah pengacara Tiwi mengirimkan somasi dan bukti-bukti digital ke kepolisian. Tiwi tidak peduli lagi. Baginya, Pak B**m sudah mati saat ia memutuskan untuk tidak lagi takut pada rekaman-rekaman itu.
Apartemen barunya terletak di pinggiran kota, sebuah unit studio kecil di lant** sepuluh yang jauh dari kesan mewah. Saat ia memutar kunci dan ma**k, hal pertama yang ia lakukan bukanlah memeriksa keamanan atau menutup tirai rapat-rapat.
Tiwi berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah jalan raya. Ia menyentuh kaca yang dingin, membiarkan cahaya oranye matahari terbenam menyiram wajahnya. Tidak ada tirai *blackout*. Tidak ada tempat tersembunyi.
Ia membuka salah satu kardus, mengambil sebuah bingkai foto yang selama ini ia simpan di dasar laci paling bawah. Foto masa kecilnya bersama sang ibu, sebelum trauma itu datang dan mengubahnya menjadi wanita es yang benci disentuh. Ia meletakkan foto itu di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
*βKau pikir pindah tempat bisa menghapus semuanya? Dunia tidak akan pernah lupa apa yang mereka lihat, Tiwi.β*
Jantung Tiwi berdegup kencang untuk sesaat. Jemarinya gemetar. Namun, ia menarik napas panjang, menghirup aroma kayu manis dari lilin aromaterapi yang baru saja ia nyalakan. Ia tidak menghapus pesan itu. Ia juga tidak mematikan ponselnya.
Tiwi berjalan ke arah cermin di sudut ruangan. Ia menatap pantulan dirinya. Ada kantung mata yang jelas, kulit yang sedikit kusam karena kurang tidur, dan bibir yang tidak dipulas gincu merah darah andalannya. Ia tampak... manusiawi. Ia tampak rapuh, namun nyata.
Ia menyentuh pipinya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sentuhan itu tidak terasa memuakkan. Ia tidak sedang mencoba membersihkan kotoran yang tidak terlihat; ia hanya sedang meraba keberadaannya sendiri.
"Aku masih di sini," bisiknya pada sunyi.
Ia kemudian berbalik, mengambil laptop dari atas meja dan mulai mengetik sesuatu. Bukan laporan analisis pasar atau proyeksi keuangan perusahaan. Ia mulai menuliskan deretan kata yang selama ini tertahan di tenggorokan, tentang rasa malu yang dipaksakan, tentang ruang-ruang gelap di dalam jiwa, dan tentang bagaimana rasanya saat privasi dirampas hingga tak bersisa.
Ia memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi di balik simfoni sunyi yang ia ciptakan sendiri. Jika dunia ingin menontonnya, maka ia akan memberikan mereka sebuah cerita yang jujur, bukan potongan video curian yang buram.
Malam mulai turun menyelimuti kota. Tiwi membiarkan lampu ruangannya tetap menyala terang, membiarkan bayangannya terlihat dari luar jendela. Ia tidak lagi peduli pada mata-mata yang mungkin mengintip. Karena kini, ia memegang kendali atas narasi hidupnya sendiri.
Namun, saat ia hendak menutup laptopnya, sebuah notifikasi muncul di layar. Sebuah surel ma**k dengan subjek tanpa judul. Isinya hanya sebuah tautan situs web yang hanya bisa diakses melalui jaringan tersembunyi.
Tiwi mengklik tautan itu dengan ragu. Matanya membelalak saat melihat laman yang terbuka. Di sana, terdapat hitung mundur digital dengan latar belakang foto dirinya yang diambil dari sudut yang sangat dekatβbukan dari kamera tersembunyi di plafon, melainkan seolah-olah seseorang berdiri tepat di belakangnya saat ia sedang tidur di apartemen barunya ini.
Di bawah hitung mundur itu tertulis: *Selamat datang di rumah baru, Tiwi. Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai.*
Tiwi segera menoleh ke belakang, ke arah pintu balkon yang sedikit terbuka. Gorden tipis di sana berkibar tertiup angin malam, menyingkapkan kegelapan yang seolah memiliki mata. Bagian dari dirinya yang baru saja merasa bebas tiba-tiba runtuh, digantikan oleh kedinginan yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Pak B**m hanyalah permulaan, dan kini ia menyadari bahwa predator yang ia hadapi memiliki jaringan yang jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!