Simfoni Sunyi Kamar Nomor Tujuh

Bab 2: Bab 2 - Menjelaskan ritual 'Simfoni Sunyi' dan bagaiman...

Pengaturan Membaca

Klik kunci pintu yang m****akkan telinga adalah tanda bahwa pertunjukan telah usai. Di balik daun pintu kayu jati kusam Kamar Nomor Tujuh, Pratiwi bukan lagi asisten manajer yang mampu membedah laporan keuangan dalam hitungan menit tanpa cela. Di sini, ia hanyalah raga yang letih, yang pundaknya merosot seolah beban seluruh gedung pencakar langit di Sudirman tadi siang baru saja diletakkan di atas karpet tipis kamarnya.

Tiwi tidak segera menyalakan lampu. Ia membiarkan kegelapan merambat, menjilati ujung sepatunya yang meng***p. Udara di dalam kamar ini terasa berbeda—lebih berat, namun lebih jujur. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma cendana dan sisa-sisa hujan yang merembes melalui celah ventilasi. Inilah wilayah kekuasaannya. Satu-satunya tempat di dunia di mana tatapan mata orang lain tidak bisa menembus kulitnya.

Lengan bajunya yang kaku ia gulung perlahan. Setiap kancing blus sutranya dilepaskan dengan presisi, seolah ia sedang menguliti lapisan kebohongan yang ia pakai sepanjang hari. Ketika kain itu jatuh ke lant**, Tiwi merasakan sensasi dingin pendingin ruangan menyentuh kulit bahunya yang tegang. Ia bergidik, namun bukan karena kendinginan. Itu adalah getaran pembebasan.

Ia melangkah menuju meja rias kecil di sudut ruangan. Tangannya yang sedikit gemetar meraih sebotol minyak esensial dan sebuah pemutar musik tua. Dengan satu tekanan lembut, denting piano dari *Gymnopédie No. 1* karya Erik Satie mulai memenuhi ruangan. Inilah awal dari apa yang ia sebut sebagai Simfoni Sunyi.

Tiwi duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dalam keremangan cahaya lampu meja yang temaram. Ia membenci cermin di luar sana—cermin di toilet kantor yang memantulkan wanita tangguh namun kosong. Tapi di sini, cermin ini adalah saksi bisu transformasinya.

Ia menuangkan beberapa tetes minyak ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu menekankannya ke leher. Tangannya bergerak ritmis, memijat otot-otot yang kaku karena seharian dipaksa tegak dan waspada. Sentuhan tangannya sendiri adalah satu-satunya sentuhan yang bisa ia toleransi. Bagi Tiwi, tangan orang lain adalah ancaman; mereka membawa kuman, ekspektasi, dan potensi kekerasan yang terselubung dalam keramahan. Namun, tangannya sendiri adalah obat.

"Milikku," bisiknya pelan, hampir tak terdengar di antara alunan piano. "Ini tubuhku. Ini ruangku."

Ia menutup mata, membiarkan Simfoni Sunyi membawanya tenggelam. Ia membayangkan dirinya adalah konduktor dari sebuah orkestra rasa sakit yang sedang ia jinakkan. Setiap usapan di lengannya adalah cara untuk menghapus memori tentang jabatan tangan yang terlalu lama dari klien pria tadi siang, atau sentuhan tak sengaja di bahu dari rekan kerjanya di lift. Ia membersihkan dirinya dari jejak-jejak keberadaan orang lain.

Namun, malam ini, sunyi itu terasa berbeda. Ada sebuah nada sumbang yang tak kasat mata.

Saat ia memijat pangkal lengannya, tiba-tiba sebuah kilatan memori menyeruak. Itu bukan memori tentang kantor. Itu adalah memori tentang bau apek ruang bawah tanah dan suara napas yang memburu di belakang telinganya. Tiwi tersentak, matanya terbuka lebar. Napasnya memburu. Bayangan tangan besar yang kasar merayap di ingatannya, merusak harmoni yang sedang ia bangun.

"Jangan sekarang," geramnya pada dirinya sendiri. Ia menekan jemarinya lebih kuat ke kulitnya hingga meninggalkan bekas merah. "Pergi. Kamu tidak di sini."

Ia mencoba kembali fokus pada ritme musik. Namun, rasa aman yang biasanya menyelimutinya seperti selimut tebal kini terasa tipis dan rapuh. Kamar ini, yang seharusnya menjadi benteng paling kokoh, tiba-tiba terasa sesak. Ia merasa seolah-olah dinding-dinding kamar ini bergerak mendekat, mengimpitnya.

Tiwi berdiri, mencoba mengusir rasa cemas yang merayap di tengkuknya. Ia berjalan menuju jendela yang tertutup rapat oleh gorden beludru hitam. Ia selalu memastikan tidak ada celah sedikit pun bagi dunia luar untuk mengintip. Namun, rasa diawasi itu tidak kunjung hilang. Sebaliknya, rasa itu makin tajam, seolah ada sepasang mata yang menempel di punggungnya, mengikuti setiap lekuk gerakannya dari kegelapan sudut plafon.

Ia mematikan pemutar musik. Keheningan yang tiba-tiba datang justru terasa lebih mengancam daripada kegaduhan di luar sana. Tiwi berdiri mematung di tengah kamar, hanya mengenakan pakaian dalamnya, membiarkan indranya bekerja ekstra tajam.

Detak jantungnya sendiri terdengar seperti perkusi yang berantakan. Ia menyapu pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Rak buku yang tertata rapi, lemari pakaian yang terkunci, sudut-sudut plafon yang bersih dari jaring laba-laba. Semuanya tampak normal. Semuanya berada di bawah kendalinya.

Namun, saat ia berbalik menuju tempat tidur, matanya menangkap sesuatu yang asing. Di sela-sela lubang kecil pada ventilasi udara di atas lemari, ada sebuah pantulan cahaya yang sangat tipis. Hampir tak terlihat jika ia tidak dalam keadaan waspada penuh. Itu bukan pantulan debu, bukan pula pantulan cahaya lampu jalan dari celah gorden.

Itu adalah kilatan kaca yang dingin dan statis.

Tiwi mematung. Dingin yang merayap di kulitnya kini bukan lagi berasal dari AC, melainkan dari dasar sumur ketakutan terdalamnya. Ia melangkah perlahan, mendekat ke arah lemari, matanya tidak lepas dari titik kecil itu. Tangannya meraih kursi, menaikinya dengan gerakan gemetar, dan mendekatkan wajahnya ke lubang ventilasi tersebut.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menyadari apa yang tersembunyi di balik kegelapan lubang kecil itu. Sebuah lensa kamera kecil, sekecil lubang jarum, namun terasa seperti lubang hitam yang siap menelan seluruh hidupnya. Kamera itu menatap tepat ke arah tempat tidurnya—tempat di mana ia baru saja melakukan ritual paling intim dan rahasianya.

Di saat yang bersamaan, ponselnya yang tergeletak di atas ka**r bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal.

Tiwi turun dari kursi dengan kaki yang terasa seperti jeli. Ia meraih ponselnya. Sebuah pesan singkat muncul di layar, membuat sisa-sisa oksigen di paru-parunya seolah terhisap habis:

*“Simfoni yang indah, Tiwi. Tapi kamu tampak lebih cantik saat sedang merasa ketakutan seperti ini.”*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca