Simfoni Sunyi Kamar Nomor Tujuh

Bab 3: Bab 3 - Menemukan keanehan di kamarnya saat sedang memb...

Pengaturan Membaca

Sabtu pagi di Kamar Nomor Tujuh selalu dimulai dengan aroma disinfektan dan lavender yang tajam. Bagi orang lain, bau itu mungkin mengingatkan pada lorong rumah sakit yang steril, tetapi bagi Tiwi, itu adalah bau kebebasan. Di luar sana, di gedung pencakar langit Sudirman, ia harus memoles senyum profesionalnya, menjabat tangan-tangan yang membuatnya mual, dan membiarkan udara kota yang kotor menempel pada kulitnya. Namun di sini, di ruang empat kali empat meter ini, kendali penuh ada di tangannya.

Tiwi menggulung lengan kemeja sutranya hingga ke siku. Rambutnya diikat kencang, nyaris menarik kulit keningnya, menciptakan ketegangan yang justru ia nikmati. Ia memulai ritual mingguannya dengan ketelitian seorang ahli bedah. Debu adalah musuh; partikel kecil yang berani mengusik keteraturan yang ia bangun dengan susah payah.

Ia menyeka permukaan meja rias dengan kain mikrofiber, memastikan botol-botol perawatan kulitnya berjejer sesuai tinggi dan warna label. Tidak boleh ada sidik jari. Tidak boleh ada noda. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut, mencari ketidaksempurnaan.

"Sepuluh menit untuk meja, lima menit untuk rak buku," gumamnya pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak karena jarang digunakan untuk berbicara pada diri sendiri.

Lant** parket ia pel dua kaliβ€”sekali dengan pembersih beraroma pinus, sekali lagi dengan air hangat. Setelah itu, ia berlutut di samping ranjangnya. Area ini adalah titik paling krusial. Di ranjang inilah ia sering melepaskan topeng "Pratiwi yang Sempurna", meringkuk dalam sunyi, atau melakukan ritual penenangan diri yang tidak boleh diketahui satu jiwa pun di dunia ini.

Saat ia sedang mengelap pinggiran bingkai tempat tidur yang terbuat dari kayu jati, matanya menangkap sesuatu yang tidak selaras.

Tiwi berhenti bergerak. Napasnya tertahan.

Di dinding, tepat di atas nakas dan menghadap lurus ke arah ranjang, terdapat sebuah stopkontak ganda. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan stopkontak itu; ia sudah ada di sana sejak pertama kali Tiwi menyewa kamar ini dua tahun lalu. Namun, pantulan cahaya matahari yang ma**k melalui celah gorden menyinari lubang kecil di tengah sekrup plastik stopkontak tersebut dengan cara yang berbeda pagi ini.

Ada kilatan kecil. Sepersekian detik cahaya ungu kebiruan yang sangat tipis.

Tiwi mendekatkan wajahnya. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan, ritme yang biasanya ia benci karena menandakan hilangnya ketenangan diri. Ia mengedipkan mata, berharap itu hanyalah imajinasinya atau mungkin butiran debu yang terjebak di sana. Namun, kilatan itu ada lagi. Sebuah titik kaca yang sangat kecil, tersembunyi di balik kegelapan lubang sekrup yang tampak alami.

"Hanya debu," bisiknya, mencoba meyakinkan diri. Tangannya yang terbungkus sarung tangan karet tipis sedikit gemetar.

Ia mengambil pinset dari kotak peralatan pembersihnya. Dengan hati-hati, ia menusukkan ujung pinset ke dalam lubang sekrup tersebut. Alih-alih membentur dinding beton yang padat, ia merasakan sesuatu yang sedikit kenyal, seperti karet atau plastik silikon.

Tiwi menarik napas panjang, menahannya di paru-paru sampai dadanya terasa sakit. Ia kemudian berdiri, melangkah cepat menuju laci dapur kecilnya, dan mengambil sebuah obeng minus yang ia simpan untuk keadaan darurat.

Tangannya kini benar-benar dingin. Ruangan yang tadinya terasa seperti pelukan hangat, mendadak berubah menjadi kotak pengap yang menghimpit oksigennya. Ia kembali berlutut di depan stopkontak itu. Dengan gerakan mekanis dan penuh penekanan, ia mulai memutar sekrup tersebut.

*Krek.*

Plastik penutup stopkontak itu terlepas sedikit. Tiwi menyelipkan ujung obeng ke celahnya dan mencongkelnya pelan. Penutup itu jatuh ke lant** parket dengan bunyi denting yang m****akkan telinga dalam kesunyian kamar.

Di balik sana, tidak ada kabel listrik besar yang berantakan seperti seharusnya. Sebagai gantinya, sebuah modul elektronik kecil yang dibalut selotip hitam tertanam rapi di dalam rongga dinding. Di tengah-tengahnya, sebuah lensa kamera seukuran kepala jarum menatapnya balik dengan dingin. Sebuah mata elektronik yang tidak berkedip.

Tiwi tersentak mundur hingga punggungnya menghantam pinggiran ranjang. Dunianya seakan berputar 180 derajat.

Kamera itu. Sudutnya.

Ia menatap lensa kecil itu, lalu beralih menatap ranjangnya. Lensa itu memiliki sudut pandang sempurna untuk merekam setiap inci tubuhnya saat ia tidur. Setiap gerakan yang ia lakukan saat ia merasa paling aman. Setiap momen ketika ia melepaskan pakaiannya, menangis dalam sunyi, atau melakukan ritual intim yang selama ini ia yakini sebagai rahasia terdalamnya.

Oksigen di Kamar Nomor Tujuh tiba-tiba menghilang. Tiwi merasa seperti tenggelam di air yang membeku. Ia memeluk tubuhnya sendiri, tiba-tiba merasa te******* meski ia mengenakan pakaian lengkap. Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya, lebih parah daripada saat ia harus bersentuhan dengan rekan kerja pria di kantor.

Siapa? Sejak kapan?

Pikirannya melesat liar. Ia mengingat wajah-wajah orang yang memiliki akses ke kamarnya. Pak B**m, sang pemilik kos yang selalu tersenyum ramah dan sering memberinya nasihat religius. Penjaga kos yang pendiam. Atau mungkinkah penyewa sebelum dia? Tidak, debu di atas modul itu masih tipis. Ini baru. Ini aktif.

Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas meja rias bergetar. Suara getarannya terasa seperti ledakan di dalam kepalanya.

Tiwi merangkak dengan kaki lemas, meraih ponselnya. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama, hanya rentetan angka.

Ia membuka pesan itu dengan tangan yang kaku. Hanya ada satu baris kalimat pendek, namun c**up untuk menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki pagi itu.

*"Warna laven-der benar-benar cocok dengan kulitmu yang pucat, Tiwi. Terutama saat kau tidak memakai apa-apa."*

Ponsel itu terlepas dari genggamannya, jatuh tepat di samping penutup stopkontak yang baru saja ia bongkar. Tiwi menoleh ke arah kamera tersembunyi itu lagi, menyadari bahwa di suatu tempat, di balik layar yang lain, seseorang sedang menontonnya gemetar ketakutan saat ini juga. Seseorang sedang menikmati kehancuran privasinya secara *real-time*.

Kamar Nomor Tujuh bukan lagi tempat perlindungannya. Kamar ini adalah sebuah panggung, dan ia adalah tontonan utamanya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca