Simfoni Sunyi Kamar Nomor Tujuh

Bab 4: Bab 4 - Mencoba bersikap normal di kantor sambil merenc...

Pengaturan Membaca

Lant** enam puluh dua gedung perkantoran di Sudirman ini biasanya terasa seperti singgasana perak bagi Tiwi. Pagi ini, ia merasa seperti sedang berdiri di atas panggung kaca yang retak, menunggu gravitasi merenggutnya kapan saja.

Tiwi merapikan kerah kemeja putihnya di depan cermin toilet yang dingin. Tidak ada satu helai rambut pun yang keluar dari tatanan sanggulnya yang ketat. Wajahnya adalah mahakarya ketenangan; bedak tipis menutupi kantung mata yang menghitam karena kurang tidur, dan lipstik merah *bold* memberikan ilusi otoritas yang tak tergoyahkan. Namun, saat ia melihat bayangannya sendiri, ia tidak melihat eksekutif muda yang tangguh. Ia melihat sesosok tubuh yang telah dipelajari, direkam, dan dikuliti oleh mata lensa yang tersembunyi di balik lubang ventilasi Kamar Nomor Tujuh.

Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen yang berbau pengharum ruangan lemon mengisi paru-parunya sebelum melangkah keluar menuju area *open office*.

Suara denting tombol kibor yang beradu terdengar seperti rentetan tembakan di telinga Tiwi. Ia berjalan lurus, pandangan tertuju ke depan, memegang iPad-nya seolah itu adalah perisai. Biasanya, ia akan menyapa timnya dengan anggukan singkat yang efisien. Hari ini, setiap kepala yang menoleh ke arahnya terasa seperti ancaman.

"Pagi, Mbak Tiwi. Laporan revisi untuk proyek SCBD sudah saya taruh di meja," suara Sarah, asistennya, terdengar tiba-tiba dari samping.

Tiwi tersentak kecil, jemarinya mencengkeram pinggiran iPad lebih erat. Ia menoleh perlahan, mencoba menjaga ekspresi datarnya. Sarah tersenyumβ€”senyum yang biasa, ramah, dan penuh hormat. Tapi benarkah begitu? Mengapa sudut bibir Sarah tampak sedikit lebih tinggi dari biasanya? Apakah Sarah sedang menahan tawa karena ia sudah melihat apa yang dilakukan Tiwi di balik pintu terkunci?

"Terima kasih, Sarah. Ada jadwal lain sebelum rapat jam sepuluh?" suara Tiwi keluar dengan nada stabil yang ia paksakan.

"Hanya konfirmasi dari Pak Gunawan soal presentasi nanti, Mbak." Sarah memiringkan kepala, matanya menyipit sedikit. "Mbak Tiwi oke? Wajah Mbak agak pucat."

Degup jantung Tiwi berakselerasi. *Pucat? Apakah itu kode? Apakah dia tahu rahasia di balik bedak ini?*

"Hanya kurang kopi. Terima kasih, Sarah," potong Tiwi cepat, lalu bergegas menuju ruangannya sendiri.

Di dalam ruangan kaca pribadinya, Tiwi segera menutup tirai otomatis. Kegelapan sesaat sebelum lampu ruangan menyesuaikan diri memberinya kenyamanan yang ironis. Ia duduk di kursi kulitnya, memejamkan mata, dan berusaha memetakan langkah. Ia harus mencari tahu bagaimana Pak B**m memasang kamera itu. Kapan? Di mana lagi kamera itu bersembunyi? Dan yang terpenting, berapa banyak video yang pria tua itu miliki?

Ponselnya di atas meja bergetar. Tiwi nyaris melompat dari kursinya.

Sebuah notifikasi email ma**k. Bukan dari Pak B**m, melainkan email internal kantor. Judulnya: *Video Highlight Company Gathering Tahun Lalu.*

Tiwi merasa mual. Jemarinya gemetar saat ia mengarahkan kursor untuk membuka email tersebut. Pikirannya berteriak, *Jangan buka, itu pasti jebakan.* Namun, dorongan paranoidnya jauh lebih kuat. Ia harus tahu. Jika Pak B**m sudah menyebarkannya ke server kantor, hidupnya berakhir detik ini juga.

Dengan napas tertahan, ia mengklik tautan tersebut. Video berputar. Suara tawa rekan-rekannya terdengar dari pengeras suara laptop. Rekaman itu menunjukkan momen-momen klise: lomba tarik tambang, makan malam bersama, dan dirinya yang berdiri di podium menerima penghargaan *Employee of the Year*.

Tiwi menyandarkan punggungnya, membiarkan udara keluar dari mulutnya dalam embusan panjang yang gemetar. *Bukan. Bukan video itu.*

Ia harus tetap fokus. Ia tidak boleh membiarkan rasa takut melumpuhkan logikanya. Pak B**m adalah seorang pemilik kos, pria tua yang selama ini ia anggap tak kasat mata. Bagaimana pria seperti itu bisa melakukan pemerasan sehalus ini? Pak B**m tahu bahwa Tiwi memuja reputasinya. Pak B**m tahu bahwa bagi Tiwi, tubuhnya adalah benteng terakhir yang tidak boleh dima**ki siapapun.

Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk.

"Mbak Tiwi? Pak Gunawan memanggil ke ruang rapat sekarang. Katanya ada sesuatu yang 'penting' untuk didiskusikan secara privat sebelum tim lain ma**k." Suara Sarah kembali terdengar dari balik pintu.

Kata 'penting' dan 'privat' berdenging di kepala Tiwi seperti sirene bahaya. Mengapa harus sekarang? Mengapa harus berdua saja? Pak Gunawan adalah salah satu investor di properti milik Pak B**mβ€”sebuah fakta yang baru saja melintas di ingatan Tiwi seperti kilat yang menyambar.

Tiwi berdiri, merapikan blazernya, dan menghapus setitik keringat dingin di pelipisnya. Ia berjalan menuju ruang rapat utama dengan langkah yang dipaksakan tegak. Di sepanjang koridor, ia merasa setiap pasang mata memperhatikannya. Setiap bisikan di kubikel yang ia lewati terdengar seperti namanya yang sedang dicemooh.

Ia mendorong pintu ruang rapat yang berat. Pak Gunawan duduk di ujung meja panjang, membelakanginya, menatap jendela yang menampilkan panorama beton Jakarta. Di atas meja, sebuah laptop dalam keadaan terbuka, layarnya tidak terlihat oleh Tiwi.

"Duduk, Tiwi," ujar Pak Gunawan tanpa menoleh. Suaranya berat dan tidak terbaca.

Tiwi duduk di kursi seberang, tangannya ia sembunyikan di bawah meja agar gemetarnya tidak terlihat. "Ada yang bisa saya bantu, Pak? Mengenai presentasi SCBD?"

Pak Gunawan memutar kursinya perlahan. Ia tidak tersenyum. Matanya menatap Tiwi dengan intensitas yang membuat kulit Tiwi meremang.

"Saya baru saja menerima kiriman anonim pagi ini," kata Pak Gunawan tenang, sambil memutar laptopnya ke arah Tiwi. "Seseorang ingin saya melihat ini. Katanya, ini adalah sisi lain dari manajer terbaik kita yang tidak diketahui publik."

Jantung Tiwi seolah berhenti berdetak. Layar laptop itu masih gelap, namun jempol Pak Gunawan berada di atas tombol *play*. Dunia di sekitar Tiwi melambat, suaranya teredam seolah ia tenggelam di dasar laut yang gelap. Inilah saatnya. Runtuhnya seluruh dunia yang ia bangun dengan darah dan air mata.

"Menurutmu, Tiwi," Pak Gunawan memajukan tubuhnya, "apa yang harus saya lakukan dengan informasi ini?"

Tiwi menatap layar hitam itu, melihat pantulan wajahnya yang ketakutan di sana, sementara jarinya di bawah meja mencengkeram paha sendiri begitu keras hingga kuku-kukunya melukai kulitnya. Pak B**m tidak hanya ingin uang; dia ingin menghancurkan Tiwi dari dalam gedung yang menjadi simbol kekuasaannya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca