Simfoni Sunyi Kamar Nomor Tujuh

Bab 5: Bab 5 - Mendapatkan pesan anonim pertama yang berisi ta...

Pengaturan Membaca

Cahaya neon dari lampu jalanan Jakarta menembus celah gorden tipis di Kamar Nomor Tujuh, membentuk garis-garis pucat yang membelah lant** parket yang dingin. Tiwi duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan kemeja kerja putihnya yang kaku. Jemarinya yang ramping bergerak membuka kancing kerah, satu demi satu, dengan presisi yang hampir mekanis. Di luar sana, ia adalah Pratiwi, manajer operasional yang bicaranya tajam dan logikanya tak terpatahkan. Namun di sini, di bawah kesunyian yang ia ciptakan sendiri, ia hanyalah raga yang mencoba membersihkan sisa-sisa sentuhan dunia luar.

Ia baru saja hendak melangkah menuju kamar mandi ketika ponselnya di atas nakas bergetar. Getaran itu pendek, namun tajam, memutus keheningan kamar seperti silet yang menggores sutra. Tiwi mengabaikannya. Mungkin hanya surel dari direktur pemasaran yang tidak tahu waktu, atau sekadar pesan sampah dari penyedia layanan seluler.

Dua detik kemudian, ponsel itu bergetar lagi. Lalu lagi. Tiga kali berturut-turut.

Rasa tidak nyaman merayap di tengkuknya. Tiwi meraih perangkat tipis itu. Layarnya menyala, menerangi wajahnya yang lelah dengan cahaya biru yang menyakitkan mata. Ada sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada foto profil, hanya deretan angka yang asing.

Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar untuk membuka aplikasi pesan tersebut. Sebuah gambar sedang memuat. Ketika resolusinya menajam, detak jantung Tiwi seolah berhenti seketika. Paru-parunya mendadak kaku, menolak untuk menghirup oksigen.

Itu adalah sebuah tangkapan layar.

Di dalam foto itu, Tiwi melihat dirinya sendiri. Ia sedang duduk di lant** kamar mandi, punggungnya bersandar pada dinding keramik dingin, mata terpejam, dan tangan kanan mendekap bahunya sendiri dengan erat—sebuah pose kerentanan yang hanya ia tunjukkan saat serangan kecemasan melanda di tengah malam. Ia terlihat begitu te*******, meski ia masih mengenakan pakaian lengkap di foto itu. Privasinya, dinding pelindung yang ia bangun dengan keringat dan air mata selama bertahun-tahun, baru saja diledakkan berkeping-keping.

"Tidak... tidak mungkin," bisiknya. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak dan penuh ketakutan.

Ia menoleh ke sekeliling kamar dengan gerakan liar. Matanya menyisir setiap sudut plafon, ventilasi AC, hingga lubang kecil di dekat jam dinding. Kamar yang selama ini menjadi satu-satunya tempat persembunyian yang aman kini terasa seperti kandang kaca. Setiap bayangan di sudut ruangan seolah berubah menjadi mata yang mengint**.

Ponselnya bergetar lagi di genggamannya, membuatnya hampir menjatuhkan benda itu.

*“Sudut yang bagus, bukan? Kau terlihat jauh lebih manusiawi saat sedang hancur, Pratiwi.”*

Pesan teks itu ma**k tepat setelah gambar tadi. Dingin. Mengancam. Dan yang paling mengerikan: pengirimnya tahu namanya. Tiwi merasakan mual yang hebat mengaduk perutnya. Ia merasa seolah ada ribuan serangga yang merayap di bawah kulitnya. Siapa? Bagaimana bisa? Ia selalu mengunci pintu. Ia tidak pernah membawa tamu.

Jemarinya yang dingin mengetik balasan dengan cepat, meski penglihatannya sedikit kabur karena air mata yang mulai menggenang.

*Siapa kamu? Apa maumu? Akan kulaporkan ini ke polisi.*

Balasannya datang kurang dari sepuluh detik.

*“Polisi? Silakan. Tapi sebelum mereka melacak nomor ini, video berdurasi sepuluh menit saat kau 'merawat diri' malam Jumat lalu akan sudah terunggah di situs publik. Bayangkan apa yang akan dikatakan dewan direksi saat melihat sisi lain dari manajer emas mereka.”*

Lutut Tiwi lemas. Ia merosot duduk di lant**, persis seperti posisinya di dalam foto tersebut. Predator ini tahu jadwalnya, tahu kebiasaannya, dan yang terburuk, dia memiliki rekaman ritual paling intim yang Tiwi lakukan untuk mengatasi traumanya. Ritual yang ia pikir adalah rahasia antara dirinya dan Tuhan.

Layar ponsel kembali menyala.

*“Aku tidak butuh uangmu, Tiwi. Aku hanya ingin melihat konsistensi. Jika kau ingin aku menghapus folder berjudul 'Kamar Nomor Tujuh' ini, kau harus mengikuti instruksiku.”*

Napas Tiwi memburu. "Apa..." ia terisak pelan, memeluk lututnya sendiri.

*“Berdirilah. Hadap ke arah jam dinding. Lepaskan dua kancing kemejamu lagi. Sekarang.”*

Tiwi membeku. Instruksi itu begitu spesifik. Jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa mendengarnya di dalam gendang telinganya. Itu berarti kamera itu masih ada di sana. Dan orang itu—si i**** di balik layar ini—sedang menontonnya secara *live*. Saat ini juga.

Ia menatap jam dinding kayu di depannya. Di suatu tempat di sekitar benda itu, sebuah lensa kecil mungkin sedang menangkap setiap butir keringat dingin yang mengucur di pelipisnya. Ia merasa kotor. Ia merasa diperkosa secara visual tanpa sempat melawan.

"Jangan," ratapnya pada kesunyian yang menulikan.

Ponselnya berdering. Bukan pesan teks, melainkan pangg***n suara. Tiwi menatap layar yang berkedip-kedip itu dengan ngeri. Ia ingin membanting ponsel itu, berlari keluar dari kamar ini, dan tidak pernah kembali lagi. Namun, ancaman tentang karier yang ia bangun dengan penuh penderitaan, tentang harga diri yang merupakan satu-satunya hal yang ia miliki, menahannya di tempat.

Dengan tangan yang mati rasa, ia menggeser tombol hijau.

"Halo?" suaranya hampir tidak terdengar.

Tidak ada jawaban di ujung sana, hanya suara napas yang teratur dan berat. Kesunyian itu berlangsung selama lima detik yang terasa seperti keabadian, sebelum sebuah suara yang berat dan dimodifikasi secara digital berbisik tepat ke telinganya.

"Waktumu sepuluh detik, Pratiwi. Atau semua orang akan tahu betapa rusaknya dirimu di balik pintu kamar ini."

Tiwi menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Matanya merah, wajahnya pias. Ia melihat jemarinya sendiri bergerak menuju kancing kemejanya yang kedua. Kontrol atas dirinya sendiri, hal yang paling ia agungkan di dunia ini, baru saja dirampas secara brutal.

Ia mulai menghitung dalam hati, sementara dunia di sekelilingnya mulai runtuh menjadi simfoni sunyi yang mengerikan. Setiap detik yang berlalu adalah langkah lebih dalam menuju lubang hitam yang tidak ia ketahui ujungnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca