Cermin di atas meja rias biasanya menjadi sekutu terbaikku. Di sana, aku memastikan tidak ada sehelai rambut pun yang keluar dari tatanannya, atau noda lipstik yang berani melewati garis bibir. Namun pagi ini, pantulan di depanku terasa asing. Di balik sapuan *foundation* yang tebal, aku melihat seorang wanita yang hancur. Mataku sedikit sembab, meski sudah kukompres dengan es selama lima belas menit.
Kamar Nomor Tujuh bukan lagi rahim yang melindungiku dari bisingnya Jakarta. Tempat ini telah berubah menjadi tenggorokan monster yang perlahan menelanku bulat-bulat.
Aku berdiri di tengah ruangan, mematung, mencoba memetakan setiap sudut dengan kacamata seorang analis. Lubang kecil di balik jeruji ventilasi udara ituβtempat lensa laknat itu bersarangβkini tertutup isolasi hitam yang kupasang tadi malam. Tapi keberadaannya tetap berdenyut di kepalaku, seolah-olah ia masih bisa melihatku menembus dinding.
Siapa? Pertanyaan itu menghantam dinding lambungku setiap kali aku menarik napas.
Aku mendekati lemari pakaian, jemariku gemetar saat menyentuh daun pintunya yang terbuat dari kayu jati tua. Aku berjongkok, memeriksa bagian bawah lemari, lalu beralih ke sudut langit-langit yang dipenuhi ukiran gipsum. Aku butuh bukti. Aku butuh tahu sejak kapan privasiku dilelang dalam bentuk bit dan piksel.
Tanganku meraba bingkai foto keluargaku yang sengaja kuletakkan tertelungkup. Tidak ada kabel di sana. Aku beralih ke sakelar lampu, membongkar penutup plastiknya dengan kuku hingga ujung jemariku perih. Kosong. Hanya ada kabel-kabel tembaga yang bisu.
Instingku berteriak bahwa orang ini bukan amatir. Posisinya di ventilasi adalah titik buta paling strategis untuk menangkap seluruh area tempat tidur dan meja rias. Tempat aku biasanya... melepaskan segalanya.
"Fokus, Tiwi. Berpikir logis," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar parau, memantul di dinding kamar yang tiba-tiba terasa menyempit.
Hanya ada dua orang yang punya kunci cadangan: penjaga kos yang merangkap tukang bersih-bersih, dan pemiliknya. Mas Ujang sedang pulang kampung sejak tiga hari lalu. Itu menyisakan satu nama.
Aku menyambar tas kerja kulitku, memastikan postur tubuhku tegak sempurna seperti biasanya. Topeng Pratiwi, sang manajer investasi yang dingin, harus terpasang rapat sebelum aku melangkah keluar. Aku tidak boleh terlihat seperti korban. Korban adalah posisi bagi mereka yang lemah, dan aku sudah bersumpah tidak akan pernah menjadi lemah lagi.
Saat aku membuka pintu kamar, aroma kretek yang pekat langsung menyambut indra penciumanku. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah hendak melompat keluar dari rongga dada.
Di ujung selasar, di dekat deretan pot kuping gajah yang rimbun, Pak B**m sedang berdiri. Ia mengenakan sarung kotak-kotak dan kaos dalam putih yang tampak bersihβcitra bapak-bapak alim yang selalu memamerkan senyum teduh kepada para penghuni kos. Di tangannya, sebuah gunting tanaman kecil sedang sibuk memotong daun-daun kering.
"Eh, Mbak Tiwi. Pagi benar berangkatnya hari ini," sapanya tanpa menoleh, suaranya berat dan serak, ciri khas perokok berat.
Aku memaksakan sebuah senyuman formal, jenis senyuman yang biasa kugunakan untuk menghadapi klien yang menjengkelkan. "Banyak laporan yang harus diselesaikan di kantor, Pak."
Aku melangkah melewati koridor sempit itu, mencoba menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Namun, Pak B**m justru melangkah maju, memotong jalanku dengan dalih merapikan dahan yang melintang ke tengah selasar.
"Mbak Tiwi terlihat kurang sehat," ujarnya. Kali ini dia menatapku. Matanya yang sedikit menguning di bagian putihnya tampak memindai wajahku dengan intensitas yang tidak wajar. "Ada masalah di kamar? Mungkin AC-nya berisik? Atau ada tikus yang ma**k lewat plafon?"
Pertanyaan itu terasa seperti umpan. Aku merasakan keringat dingin mulai merembes di balik kemeja sutraku yang kaku. Apakah dia sedang mengujiku? Apakah dia tahu aku sudah menemukan kameranya?
"Semua baik-baik saja, Pak. Hanya kurang tidur," jawabku singkat, mencoba melangkah melewatinya.
Namun, Pak B**m tidak bergerak. Ia justru mendekat selangkah lagi. Bau tembakau dan minyak rambut melati yang menyengat dari tubuhnya menyerang penciumanku, membuat perutku mual.
"Kamar Nomor Tujuh itu kamar paling tenang di sini, Mbak. Saya sengaja desain ventilasinya supaya sirkulasi udaranya bagus, supaya penghuninya... betah. Mbak Tiwi sering kan, menari-nari sendiri kalau sedang suntuk? Musiknya kadang terdengar sampai ke bawah. Sangat merdu."
Duniaku mendadak senyap. Darah seolah berhenti mengalir ke ujung-ujung jariku. Aku tidak pernah menyetel musik dengan keras. Aku selalu menggunakan *earphone*. Dan gerakan-gerakan tubuh yang ia sebut 'menari' itu... itu adalah ritual pribadiku, saat aku mencoba melepaskan trauma yang merambat di kulitku, saat aku merasa aman karena mengira tidak ada mata yang melihat.
Pak B**m tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang menghitam karena nikotin. Itu bukan senyuman ramah seorang bapak kos. Itu adalah seringai seorang pemilik yang baru saja mengingatkan propertinya tentang siapa yang memegang kendali.
"Indah sekali gerakannya, Mbak. Seperti simfoni yang sunyi," tambahnya, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku mengepalkan tangan di samping tubuh, kuku-kukuku menancap dalam ke telapak tangan hingga meninggalkan bekas bulan sabit yang kemerahan. Aku ingin berteriak, ingin menampar wajah tuanya yang menjijikkan itu, tapi akal sehatku menahan setiap ototku. Jika aku meledak sekarang, dia menang. Dia akan menyebarkan potongan video itu sebelum aku sempat menghancurkannya.
"Saya harus pergi, Pak. Sopir saya sudah menunggu," kataku dengan suara yang kuusahakan tetap datar, meski getarannya sulit disembunyikan.
"Tentu, Mbak Tiwi. Silakan. Hati-hati di jalan," ucapnya sambil kembali fokus pada tanaman di depannya. "Jangan lupa, kalau ada 'sesuatu' yang rusak di kamar, langsung lapor saya. Saya punya kunci cadangan untuk semuanya. Saya bisa memperbaiki... apa pun."
Aku berjalan setengah berlari menuju gerbang depan, tidak berani menoleh ke belakang. Aku bisa merasakan tatapannya masih menempel di punggungku, menusuk menembus kain baju, seolah dia sedang menonton layar monitor di dalam kepalanya.
Begitu sampai di dalam taksi, aku segera mengunci pintunya. Napas yang sedari tadi kutahan keluar dalam satu embusan panjang yang menyakitkan. Ponsel di dalam tas tanganku bergetar. Satu notifikasi ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
Hanya ada sebuah pesan singkat tanpa teks, melainkan sebuah lampiran file video berdurasi lima detik. Dengan tangan gemetar, aku membukanya.
Di layar ponsel yang kecil, aku melihat diriku sendiri. Di dalam Kamar Nomor Tujuh, lima belas menit yang lalu. Rekaman itu menunjukkan momen saat aku baru saja melepas isolasi hitam di ventilasi dan menatap langsung ke arah kamera dengan wajah penuh ketakutan.
Di bawah video itu, sebuah pesan teks menyusul: *Isolasi hitam itu merusak pemandangan, Tiwi. Jangan coba-coba menutupi kecantikanmu dariku.*
Udara di dalam taksi mendadak hilang. Aku terperangkap. Kamera itu bukan hanya satu. Dan dia masih melihatku, bahkan saat aku pikir aku sudah menang.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!