Ujung jemari Tiwi terasa sedingin es, meskipun udara Jakarta yang pengap merembes ma**k melalui ventilasi lorong kosan yang sempit. Ia berdiri mematung di balik pintu Kamar Nomor Tujuh, napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan bunyi. Di tangannya, selembar obeng kecil dan sepotong kawat penjepit kertas terasa seperti senjata yang asing sekaligus rapuh.
Dunia di luar sana menganggapnya sebagai Pratiwi sang 'Ice Queen'—manajer operasional yang mampu membedah laporan keuangan serumit apa pun tanpa mengedipkan mata. Namun di sini, di lorong temaram yang hanya diterangi lampu neon berkedip, ia merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri. Bukan, lebih buruk lagi. Ia adalah korban yang sedang mencoba mencuri kembali privasinya yang telah dirampok.
Tiwi melangkah keluar. Lant** semen yang dingin menyentuh telapak kakinya yang tanpa alas—ia sengaja tidak memakai sandal agar langkahnya senyap. Tujuannya adalah ruang utilitas di ujung lorong lant** dua, sebuah ruangan kecil di bawah tangga menuju loteng tempat toren air dan pusat sirkuit listrik gedung ini berada. Jika Pak B**m memasang kamera tersembunyi di kamarnya, transmisi datanya pasti bermuara di suatu tempat. Sebuah router tambahan, DVR tersembunyi, atau setidaknya jalur kabel yang tidak wajar.
Bau deterjen murah dari area jemuran menyerang indra penciumannya saat ia mendekati pintu kayu yang catnya sudah mengelupas itu. Pintu itu biasanya digembok. Tiwi berlutut, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia teringat potongan video yang dikirimkan Pak B**m pagi tadi melalui nomor anonim: bayangan dirinya di depan cermin, momen paling privat yang ia yakini terkunci rapat, kini menjadi konsumsi mata predator itu.
Rasa mual naik ke kerongkongannya, tapi ia menelannya bulat-bulat. Amarah adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap tegak.
Dengan tangan gemetar, ia mema**kkan kawat ke lubang kunci. *Satu klik. Dua klik.* Ia bukan ahli kunci, tapi ia adalah pengamat yang teliti. Ia sering memperhatikan bagaimana Pak B**m menggoyangkan kunci itu setiap kali ma**k untuk mengecek meteran listrik. *Ceklek.*
Pintu terbuka sedikit. Tiwi menyelinap ma**k ke dalam ruangan yang hanya seluas bilik telepon itu. Bau apek debu dan panas dari mesin pompa air menyambutnya. Di sudut ruangan, di balik tumpukan kardus bekas kaleng cat, ia melihat sesuatu yang ganjil. Ada sebuah kotak plastik hitam kecil yang terhubung langsung ke router utama kosan menggunakan kabel LAN yang masih tampak baru.
"Dapat," bisiknya, suaranya parau.
Ia mendekat, jantungnya berdentum keras menghantam tulang rusuk. Ia merogoh saku celana kainnya, mencari ponsel untuk memotret bukti itu. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh layar ponsel, suara langkah kaki yang berat terdengar dari tangga kayu di atasnya.
*Deg.*
Langkah itu berirama, lambat, dan penuh keyakinan. Itu bukan langkah penghuni kos lain yang biasanya terburu-buru. Tiwi mengenali pola itu. Itu adalah langkah Pak B**m.
Tiwi panik. Ruangan itu terlalu kecil untuk bersembunyi. Satu-satunya penghalang hanya tumpukan kardus dan sebuah lemari besi tua yang berkarat di sudut gelap. Tanpa berpikir panjang, ia merunduk dan menyelipkan tubuh rampingnya di celah sempit antara lemari dan dinding yang lembap. Debu tebal memenuhi hidungnya, memicu insting untuk bersin yang mati-matian ia tahan dengan menekan pangkal hidungnya kuat-kual.
Pintu terbuka lebar. Cahaya dari lorong ma**k, membelah kegelapan ruang utilitas.
"Tiwi? Kamu di sana?"
Suara itu lembut, terlalu lembut hingga terdengar menjijikkan. Pak B**m berdiri di ambang pintu. Tiwi bisa melihat ujung sandal kulit pria itu dari celah lemari. Jarak mereka tak lebih dari dua meter.
"Saya tahu kamu tidak pergi ke kantor hari ini, Wi. Sakit, ya?" Pak B**m melangkah ma**k. Suara gesekan sandalnya di lant** semen terdengar seperti amplas yang mengikis saraf Tiwi.
Tiwi memejamkan mata rapat-rapat. Ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu mendekat ke arah kotak hitam di atas kardus. Di dalam kegelapan, Tiwi menggigit bibir bawahnya hingga terasa anyir darah. Pikirannya berputar liar. Bagaimana jika pria itu menemukannya? Bagaimana jika ia ditarik keluar dari sana? Sentuhan. Pikiran tentang tangan Pak B**m yang kasar menyentuh kulitnya membuat seluruh tubuh Tiwi bergetar hebat.
Pak B**m berhenti tepat di depan lemari tempat Tiwi bersembunyi. Pria itu terdiam sejenak, seolah sedang mendengarkan detak jantung Tiwi yang kian tak beraturan.
"Kamar Nomor Tujuh itu istimewa," gumam Pak B**m, lebih kepada dirinya sendiri. "Penghuninya selalu punya rahasia yang indah untuk disimpan."
Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah ketegangan. Bukan ponsel Tiwi—ia sudah mengaturnya ke mode hening—melainkan ponsel Pak B**m.
"Ya? Oh, Siska. Ada apa?" Pak B**m menjawab telepon itu. "Air di lant** tiga mati? Ya, ya, saya cek sekarang. Sebentar."
Langkah kaki itu menjauh. Pak B**m keluar dari ruangan, tapi ia tidak mengunci pintunya kembali. Ia membiarkannya sedikit terbuka, sebuah undangan atau mungkin sebuah jebakan.
Tiwi menunggu hingga lima menit penuh sebelum ia berani merangkak keluar dari celah lemari. Paru-parunya terasa terbakar saat ia akhirnya bisa menghirup oksigen dengan bebas. Ia segera mengeluarkan ponselnya, memotret perangkat hitam itu berkali-kali dari berbagai sudut. Ia tidak berani mencabutnya sekarang—itu akan memberi tahu Pak B**m bahwa ia tahu.
Ia harus pergi. Sekarang.
Saat Tiwi menyelinap keluar dan kembali ke kamarnya dengan langkah cepat, ia merasa seolah ribuan mata menatap punggungnya dari balik dinding-dinding kosan yang kusam. Ia segera mengunci pintu kamar Nomor Tujuh dan bersandar di sana, mencoba menenangkan badai di dadanya.
Ponselnya bergetar di genggaman. Sebuah notifikasi pesan ma**k.
Bukan dari nomor anonim kali ini. Itu dari nomor pribadi Pak B**m.
*“Tadi di ruang utilitas udaranya agak pengap ya, Wi? Lain kali kalau mau ma**k, bilang saja. Saya punya kuncinya.”*
Darah Tiwi seolah berhenti mengalir. Ia menatap ke arah ventilasi di atas pintu kamarnya, lalu ke arah sudut plafon yang gelap. Ia baru menyadari satu hal yang mengerikan: Pak B**m tidak hanya merekam aktivitasnya di dalam kamar.
Pria itu sedang menontonnya secara *real-time*, saat ini juga.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!