Langkah kaki Tiwi menggema di lorong lant** dua yang remang. Aroma kayu lapuk dan pengharum ruangan otomatis yang menyemprotkan bau melati sintetis menyambutnya, namun hari ini, udara itu terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Setiap kali ia melewati pintu-pintu kamar kos lain, Tiwi merasa seperti sedang berjalan di antara deretan peti mati yang menyimpan rahasia masing-masing.
Tangannya yang terbungkus blazer biru dongker yang masih licinβhasil setrikaan uap yang presisiβmerogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan kunci kamar nomor tujuh. Logam dingin itu sempat tertahan di depan lubang kunci. Tiwi menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung yang sejak tadi pagi berpacu tidak beraturan. Sejak potongan video pertama mendarat di ponselnya, setiap jengkal ruang di gedung ini terasa seperti mulut predator yang siap mengatup.
*Cklek.*
Pintu terbuka. Tiwi segera ma**k dan menguncinya kembali dari dalam. Ia bersandar pada pintu kayu tersebut, memejamkan mata, membiarkan keheningan kamar menyelimutinya. Ini adalah ritualnya: tiga menit untuk melepaskan topeng manajer korporat yang dingin dan kembali menjadi Tiwi yang rapuh.
Namun, ada yang salah.
Tiwi membuka matanya. Pupilnya bergerak cepat, memindai setiap sudut ruangan seluas empat kali empat meter itu. Ia adalah penganut paham keteraturan yang ekstrem. Setiap barang memiliki koordinatnya sendiri. Parfum di atas meja rias harus menghadap ke depan dengan jarak dua sentimeter dari pinggir kaca. Kursi kerja harus terselip sempurna di bawah meja dengan sudut sembilan puluh derajat.
Matanya tertuju pada tempat tidur. Sprei berwarna abu-abu muda itu tampak rata, namun ada satu kerutan halus di bagian tengah, seolah-olah seseorang baru saja duduk di sana dan berusaha menghaluskannya kembali dengan terburu-buru.
Tiwi berjalan mendekat dengan langkah yang berat. Jantungnya berdentum di telinga. Ia membungkuk, hidungnya menangkap sesuatu. Bau melati dari pengharum ruangan di luar mulai memudar, digantikan oleh aroma lain yang tipis namun menusuk: bau tembakau cengkih yang tertinggal dan minyak angin yang menyengat.
Bau itu bukan miliknya. Itu adalah bau yang selalu menempel pada kemeja safari Pak B**m setiap kali pria itu datang menagih uang keamanan bulanan.
Rasa mual seketika naik ke kerongkongannya. Tiwi merenggut bantalnya, dan di sanalah ia menemukannya. Sebuah helaian rambut pendek, kaku, dan berwarna abu-abu keputihan tergeletak di atas sarung bantal sutranya yang mahal.
"Ba******," desis Tiwi. Suaranya gemetar, terjepit di antara amarah dan ketakutan yang melumpuhkan.
Ia segera beralih ke lemari pakaiannya. Ia menarik laci paling bawah, tempat ia menyimpan pakaian dalamnya. Semuanya tampak rapi, persis seperti cara ia melipatnya dengan teknik *KonMari*. Namun, saat ia meraba bagian belakang tumpukan b**, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.
Sebuah benda kecil berbentuk bulat: tasbih kayu yang talinya sudah mulai rapuh.
Darah Tiwi seolah membeku. Ia mengenali tasbih itu. Pak B**m selalu memutarnya di tangan kanan sambil tersenyum ramah kepada para penghuni kos, memberikan wejangan agama dengan suara baritonnya yang menenangkan. Tasbih itu kini berada di dalam laci pribadinya, di antara benda-benda paling intim yang ia miliki.
Tiwi menarik laci itu hingga terlepas dari relnya, membiarkan isinya berhamburan di lant**. Ia tidak peduli lagi pada keteraturan. Ia merasa dikuliti. Pikirannya melayang pada fakta yang selama ini ia abaikan karena rasa aman palsu yang ia bangun: Pak B**m adalah pemilik gedung ini. Pak B**m memiliki kunci cadangan untuk setiap kamar. Dan Pak B**m tahu persis jam berapa ia berangkat ke kantor dan jam berapa ia terjebak dalam kemacetan Sudirman.
Ia berlari ke arah pintu, memeriksa lubang kunci. Tidak ada tanda-tanda kerusakan. Tentu saja tidak. Dia ma**k seperti seorang tamu terhormat menggunakan kunci duplikat, berjalan di atas karpetnya, mungkin menyentuh pakaiannya, atau bahkan berbaring di tempat tidurnya sambil membayangkan apa yang ia lihat melalui lensa kamera tersembunyi itu.
Tiwi merasa seolah ada ribuan serangga yang merayap di kulitnya. Ia mulai menggosok lengannya dengan kasar, berusaha menghapus bayangan sentuhan tak kasatmata yang mungkin ditinggalkan pria itu di sana. Kamar nomor tujuh bukan lagi perlindungannya; kamar ini telah berubah menjadi akuarium, dan ia adalah ikan yang sedang diamati sebelum disantap.
Tiba-tiba, ponselnya di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan anonim ma**k.
Tiwi ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya yang destruktif menang. Ia membuka pesan itu. Sebuah foto.
Foto itu diambil dari sudut atasβmungkin dari ventilasi atau detektor asap. Di dalam foto itu, Tiwi sedang berdiri mematung di depan lemari pakaiannya yang terbuka, wajahnya pucat pasi, persis seperti kondisinya lima detik yang lalu.
Pesan di bawah foto itu berbunyi: *"Kamu terlihat cantik saat sedang bingung, Tiwi. Jangan khawatir, tasbih itu adalah berkah agar kamu selalu dilindungi. Kenapa dibuang?"*
Tiwi terkesiap, ponselnya nyaris jatuh. Ia menoleh ke arah jendela yang tertutup gorden rapat, lalu ke arah langit-langit. Dia tidak hanya merekam. Dia sedang menonton. Saat ini juga.
Keheningan kamar itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki yang berat di lorong luar. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu nomor tujuh.
*Ketuk. Ketuk. Ketuk.*
"Mbak Tiwi? Sudah pulang, Nak?" suara Pak B**m terdengar berat dan penuh perhatian dari balik pintu. "Tadi saya lewat dan melihat pintunya kurang rapat. Saya cuma mau memastikan semuanya aman. Boleh Bapak ma**k sebentar?"
Tiwi menatap gagang pintu yang mulai bergerak turun perlahan, seolah-olah orang di luar sana sedang menguji apakah kunci dalamnya sudah terpasang. Ia menahan napas, tangannya meraih gunting tajam di atas meja rias, sementara matanya terpaku pada celah di bawah pintu di mana bayangan sepatu kulit tua Pak B**m terlihat diam mematung.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!