Gedung perkantoran di kawasan Sudirman itu menjulang seperti taring perak yang siap mengoyak langit Jakarta yang keruh. Bagi dunia luar, Pratiwi adalah bagian dari ekosistem ini—tajam, berkilau, dan tak tertembus. Namun, saat melangkah ma**k ke lobi marmer yang dingin, ia merasa seperti seekor hewan buruan yang mencoba bersembunyi di sarang pemangsa lain.
Tangannya meremas tali tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam tas itu, sebuah *flash disk* berisi potongan video yang dikirimkan Pak B**m tersimpan seperti granat yang siap meledak. Ia sudah membuat janji temu dengan sebuah firma konsultan keamanan digital yang mengklaim bisa menangani "masalah privasi tingkat tinggi" dengan diskresi mutlak.
"Ibu Pratiwi? Silakan, Pak Baskara sudah menunggu di dalam," ucap seorang resepsionis dengan senyum simpul yang tampak terlalu mekanis.
Tiwi mengangguk singkat, mengatur napasnya agar tetap stabil. Ia tidak boleh terlihat rapuh. Di dunia korporat, kerapuhan adalah undangan bagi hiu untuk menyerang. Ia mema**ki ruangan kedap suara yang didominasi warna abu-abu arang. Di balik meja kaca, seorang pria berusia empat puluhan dengan kacamata berbingkai tipis menyambutnya.
"Saya menghargai privasi klien saya di atas segalanya, Mbak Tiwi," ujar Baskara tanpa basa-basi setelah mereka duduk. "Anda mengatakan di telepon bahwa ada masalah terkait pelanggaran data pribadi dan pemerasan."
Tiwi menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti disumpal pasir. "Bukan sekadar data. Ini... rekaman. Di ruang pribadi saya. Di dalam kamar kos saya sendiri."
Baskara menyandarkan punggung, ekspresinya tetap datar, profesional yang sudah melihat segala jenis kebusukan di balik layar digital. "Apakah pelakunya sudah mengidentifikasi diri?"
"Pemilik kos saya," suara Tiwi bergetar, sebuah pengkhianatan yang jarang ia izinkan terjadi pada dirinya sendiri. "Dia memasang kamera tersembunyi. Dia mengirimkan potongan-potongan video itu ke ponsel saya secara anonim, tapi saya tahu itu dia. Dia tahu rutinitas saya. Dia tahu... segalanya."
"Kita punya dua jalur," Baskara menjelaskan sembari mengetuk-ngetukkan pena di atas meja. "Jalur hukum formal, atau jalur teknis senyap. Jalur hukum berarti kita melapor ke kepolisian, menggunakan UU ITE. Kita sita semua perangkatnya, kita kunci dia di penjara."
Mendengar kata 'kepolisian', perut Tiwi mual. Ia bisa membayangkan skenarionya: ruang pemeriksaan yang pengap, polisi-polisi pria yang menatapnya dengan tatapan merendahkan saat mereka harus menonton video itu sebagai 'barang bukti', dan kemungkinan kebocoran informasi ke media. Namanya, reputasinya yang ia bangun dengan darah dan air mata selama tujuh tahun di Jakarta, akan hancur dalam satu unggahan akun gosip.
"Jika saya melapor," suara Tiwi nyaris berupa bisikan, "apakah video itu bisa dijamin tidak akan keluar ke publik?"
Baskara menghela napas pendek. "Secara teori, iya. Tapi dalam praktiknya? Begitu video itu ma**k ke dalam sistem hukum, ada banyak tangan yang menyentuhnya. Staf administrasi, penyidik, jaksa. Dan jika ka**s ini naik ke persidangan, meski tertutup, risikonya tetap ada. Apalagi jika si pelaku merasa terdesak dan memilih untuk menyebarkannya sebelum ditangkap sebagai bentuk balas dendam."
Tiwi memejamkan mata. Bayangan wajah Pak B**m yang biasanya tampak alim dan teduh kini berubah menjadi monster yang mengintip dari balik celah lubang kunci. Ia membayangkan video itu diputar di layar monitor kantornya, di depan atasannya, di depan klien-kliennya. Ia bisa merasakan tatapan mereka—rasa kasihan yang menjijikkan atau, lebih buruk lagi, gairah yang melecehkan.
"Lalu jalur teknis?" tanya Tiwi.
"Saya bisa mengirim tim untuk menyisir kamar Anda, menghancurkan semua transmisi sinyal, dan mencoba meretas balik perangkat si pelaku untuk menghapus data secara permanen," kata Baskara. "Tapi itu tidak menjamin dia tidak punya salinan fisik di tempat lain. Dan secara hukum, tindakan kita ini abu-abu."
Tiwi merasa terjepit di antara dua dinding yang perlahan merapat. Melapor berarti mempertaruhkan kehormatannya pada sistem yang sering kali gagal melindungi korban. Diam berarti membiarkan Pak B**m terus memegang kendali atas hidupnya, membiarkan pria itu 'menyentuhnya' setiap detik melalui lensa kamera itu.
Ponsel di dalam tasnya bergetar. Satu notifikasi ma**k.
Tiwi ragu sejenak, lalu mengambil ponselnya. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia membuka pesan itu di bawah meja.
Hanya sebuah tangkapan layar. Foto Tiwi yang sedang duduk di dalam ruangan Baskara saat ini.
Darah Tiwi seolah membeku. Ia menoleh dengan cepat ke arah jendela besar yang menghadap ke gedung di seberang jalan, lalu ke sudut langit-langit ruangan. Tidak ada kamera di sini, Baskara menjamin itu. Namun, foto itu diambil dari sudut yang sangat presisi—dari arah lobi bawah saat ia baru saja ma**k.
*“Konsultan keamanan tidak akan bisa menghapus apa yang sudah ada di kepala saya, Tiwi. Pulanglah. Kita perlu bicara soal ‘biaya’ sewa bulan ini yang belum kau bayar dengan... sikap manismu.”*
Napas Tiwi memburu. Ruangan yang tadinya terasa dingin kini mendadak terasa menyesakkan. Pak B**m tidak hanya merekamnya di kamar. Pak B**m menguntitnya. Pria itu ada di luar sana, di suatu tempat di antara kerumunan orang di Sudirman, mengawasinya dengan mata predator yang tak pernah berkedip.
"Mbak Tiwi? Anda baik-baik saja?" suara Baskara terdengar jauh.
Tiwi berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya berderit nyaring di atas lant**. Ia menyambar tasnya, mengabaikan tatapan bingung Baskara.
"Saya... saya harus pergi," cetusnya pendek.
Ia nyaris lari keluar dari ruangan itu. Di dalam lift yang bergerak turun, Tiwi menatap pantulan dirinya di dinding logam yang meng***p. Ia tampak sempurna—pakaian mahal, riasan wajah yang rapi, ekspresi yang terkontrol. Namun di dalam, ia merasa seperti cermin yang sudah retak seribu, hanya menunggu satu sentuhan lagi untuk hancur berkeping-keping.
Saat pintu lift terbuka di lobi, Tiwi tidak berani keluar. Ia berdiri mematung, menatap pintu terbuka yang memperlihatkan kerumunan orang yang berlalu-lalang. Siapa pun di antara mereka bisa saja Pak B**m. Siapa pun bisa saja sedang menatapnya melalui layar ponsel mereka, menonton rahasia paling kelamnya.
Ia menyadari satu hal yang mengerikan: di kota sebesar ini, tidak ada satu sudut pun yang benar-benar sunyi bagi seseorang yang privasinya telah dirampas. Dan Pak B**m baru saja menunjukkan bahwa mencari bantuan adalah kesalahan yang akan dibayar mahal.
Tangannya merogoh saku, meraba kunci kamar nomor tujuh yang kini terasa seperti kunci sel penjaranya sendiri. Ia harus pulang, bukan karena ia ingin, tapi karena predatornya telah menarik tali kekang itu, dan Tiwi tidak punya pilihan selain mengikuti arah tarikannya—setidaknya untuk saat ini.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!