Bau karat dan ozon basi adalah aroma yang sudah mendarah daging di paru-paru Aris. Di bawah langit senja yang berwarna ungu memar akibat polusi, ia merangkak di antara gundukan rongsokan yang menjulang seperti tulang-belulang raksasa purba. Di kejauhan, menara-menara kaca kota Neo-Aethel berkilau sombong, memantulkan cahaya neon yang tak pernah menyentuh tanah berlumpur di Distrik 13.
Aris menyeka keringat yang bercampur jelaga di dahinya dengan punggung tangan yang kasar. Perutnya melilit, sebuah pengingat pedih bahwa sepotong roti sintetis terakhirnya sudah habis dua belas jam yang lalu. Jika ia tidak menemukan sesuatu yang berharga dalam satu jam ke depan, besok pagi ia hanya akan s****an dengan air keran yang berasa logam.
"Ayo, berikan aku sesuatu yang berguna," bisiknya, suaranya parau.
Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit yang sudah robek-robek mengais tumpukan kabel sirkuit yang sudah hangus. Di tempat pembuangan akhir ini, barang berharga adalah mitos, namun bagi Aris, ini adalah medan tempur. Instingnya mengatakan bahwa di bawah tumpukan sasis drone yang hancur ini, ada sesuatu yang luput dari pandangan pemulung lain.
Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan halus. Bukan plastik keras, bukan pula logam berkarat. Ia menariknya perlahan. Sebuah lempengan berbentuk cakram kecil dengan pola geometris yang rumit di permukaannya. Benda itu tidak bersinar, namun entah bagaimana, Aris merasa suhu di sekitarnya turun beberapa derajat saat ia memegangnya.
"Apa ini? Chip kontrol dari seri militer?" gumamnya. Matanya berbinar. Jika ini adalah chip murni, ia bisa menukarnya dengan jatah makan selama seminggu, atau mungkin sebulan jika ia pintar menawar di pasar gelap.
Namun, kegembiraannya hanya bertahan sekejap.
"Yah, lihat siapa yang sedang memegang harta karun," sebuah suara berat dan serak memecah keheningan.
Aris membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma tembakau murah dan keringat asam sudah lebih dulu sampai ke hidungnya. Ia segera mema**kkan lempengan itu ke dalam kantong tersembunyi di balik jaket kumalnya, lalu berbalik dengan ekspresi wajah sedatar mungkin.
Tiga orang pria berdiri di atas gundukan sampah setinggi dua meter, menatap ke arahnya dengan senyum meremehkan. Di tengah adalah Bara, seorang pria bertubuh gempal dengan bekas luka bakar yang melintang di sepanjang rahangnya. Bara adalah pemangsa di puncak rant** makanan pemulung Distrik 13.
"Hanya sampah biasa, Bara. Tidak ada yang perlu kau lihat," ujar Aris tenang, meski jantungnya berdegup kencang melawan tulang rusuknya.
"Sampah biasa tidak membuat matamu berbinar seperti itu, Aris Kecil," Bara melompat turun, mendarat dengan dentum keras di atas tumpukan kaleng. Dua kacung di belakangnya menyusul, mengepung Aris dari sisi kiri dan kanan. "Kau tahu aturannya. Setiap 'temuan istimewa' harus melewati inspeksi pajakku terlebih dahulu."
"Aku sudah membayar jatah mingguanku kemarin," Aris mundur satu langkah, kakinya mencari tumpuan yang stabil di antara tumpukan rongsokan yang licin.
"Itu untuk izin bernapas di wilayahku. Sekarang, tunjukkan apa yang kau sembunyikan di balik jaketmu itu." Bara mengulurkan tangannya yang besar, jari-jarinya bergerak-gerak memberi isyarat agar Aris menyerahkan barangnya.
Aris menimbang pilihannya. Melawan tiga orang dewasa dalam kondisi perut kosong adalah bunuh diri. Namun, menyerahkan cakram itu berarti ia akan terus menjadi pecundang yang merayap di tanah, menunggu mati kelaparan sementara orang-orang seperti Bara kenyang dari hasil keringatnya. Trauma akan kemiskinan yang mencekik selama bertahun-tahun mendadak berubah menjadi percikan amarah yang panas di dadanya.
"Aku tidak punya apa-apa," tegas Aris, matanya menatap tajam ke arah Bara.
Bara tertawa kecil, suara yang lebih mirip geraman an****. "Pilihan yang sulit, ya? Baiklah, kita lakukan dengan cara kasar."
Tanpa peringatan, salah satu kacung Bara menerjang maju. Aris merunduk, menghindari ayunan tangan pria itu, lalu menyikut ulu hati lawannya dengan presisi yang hanya bisa didapat dari bertahun-tahun berkelahi demi sisa makanan. Pria itu tersedak dan jatuh berlutut.
Namun, Bara jauh lebih cepat. Sebuah tendangan mendarat telak di pinggang Aris, membuatnya terlempar ke arah tumpukan puing-puing tajam. Aris meringis kesakitan saat punggungnya menghantam logam tua, rasa perih menjalar di sepanjang tulang belakangnya.
"Kau punya nyali, aku akui itu," Bara berjalan mendekat, mencengkeram kerah jaket Aris dan mengangkatnya hingga kaki pemuda itu menggantung. "Tapi nyali tidak bisa mengisi perutmu, Aris. Hanya kepatuhan yang bisa."
Bara merogoh ke dalam jaket Aris dengan kasar. Tangannya merenggut lempengan cakram itu.
"Si****... benda apa ini?" Bara mengernyit, menatap cakram yang kini mulai bergetar pelan di telapak tangannya. "Ini bahkan tidak terlihat seperti teknologi Neo-Aethel."
"Kembalikan..." desis Aris, darah mulai menetes dari sudut bibirnya.
"Benda ini milikku sekarang. Mungkin aku bisa menjualnya pada kolektor g*** di kota atas," Bara menyeringai. Ia bersiap untuk melayangkan satu pukulan terakhir ke wajah Aris untuk memastikan pemuda itu tidak akan mengejarnya.
Saat kepalan tangan Bara mengayun, cakram di tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya biru elektrik yang menyilaukan. Sebuah gelombang kejut kecil terpancar keluar, melemparkan Bara dan kedua anak buahnya hingga tersungkur beberapa meter ke belakang.
Aris terjatuh ke tanah, terengah-engah. Di depannya, cakram itu kini melayang di udara, berputar dengan kecepatan tinggi. Dunia di sekitar Aris seolah melambat. Suara makian Bara terdengar jauh dan terdistorsi.
Tiba-tiba, sebuah jendela transparan muncul tepat di depan mata Aris, bersinar dengan teks digital yang tajam dan futuristik.
**[Analisis Sinyal S.O.S. Selesai...]**
**[Kecocokan Genetik: 99.9%βKeturunan Penyintas Garis Waktu Omega.]**
**[Menginisialisasi Protokol Penyelamatan...]**
**[Selamat Datang, User Aris. Nexus Recycler Telah Diaktifkan.]**
Aris mengerjapkan mata, mencoba memahami apa yang ia lihat. "Sistem...?"
Di telapak tangannya yang gemetar, cakram itu hancur menjadi debu cahaya dan meresap ke dalam kulitnya. Rasa dingin yang luar biasa menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, menggantikan rasa sakit dari luka-lukanya dengan energi yang meluap-luap.
"Apa yang kau lakukan, si****!" Bara bangkit dengan susah payah, wajahnya merah padam karena amarah dan kebingungan. Ia mencabut sebilah belati karatan dari pinggangnya dan menerjang ke arah Aris.
Aris tidak menghindar. Matanya tertuju pada sebuah rongsokan lengan robotik tua yang tergeletak di dekat kakinya. Di atas barang rongsokan itu, sebuah teks baru muncul:
**[Objek Terdeteksi: Lengan Power-Loader Tipe-C (Rusak Berat)]**
**[Kebutuhan Material: 1x Baterai Lithium Bekas, 2x Kabel Tembaga]**
**[Hasil Rekonstruksi: SSS-Class Kinetic Crusher (Fragment)]**
**[Jalankan Proses Daur Ulang?]**
Aris menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Jalankan."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!