Udara di Sektor 7 tidak pernah terasa benar. Di sini, di balik pagar kawat berduri yang berkarat dan peringatan "Zona Larangan Ma**k" yang memudar, atmosfer berbau seperti logam terbakar dan ozon yang menyengat. Aris menarik masker respirator kumuhnya lebih erat, merasakan saringan udara yang sudah mulai menipis usianya. Di depannya, distrik yang dulunya merupakan pusat teknologi kota kini hanya menjadi tumpukan beton yang membeku dalam waktu.
Layar transparan biru tipis muncul di depan matanya, berpendar redup di tengah kegelapan reruntuhan.
**[Nexus Recycler: Memindai Sinyal Temporal...]**
**[Status: 14% Ketidakstabilan Terdeteksi]**
**[Target: 'Chrono-Core Model Alpha' terdeteksi dalam radius 50 meter.]**
"Hanya lima puluh meter lagi, dan aku bisa keluar dari lubang neraka ini," gumam Aris. Suaranya terdengar parau, teredam oleh masker. Telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit yang sudah mengelupas terasa basah oleh keringat.
Aris melangkah dengan hati-hati, menghindari pecahan kaca yang bisa mengkhianati posisinya. Di dunia ini, suara adalah undangan bagi maut. Di kiri dan kanannya, bayangan gedung-gedung pencakar langit yang hancur tampak seperti nisan raksasa. Yang membuat tempat ini mengerikan bukanlah kehancurannya, melainkan 'glitch' yang terjadi. Di sudut matanya, ia melihat sebuah lampu jalanan yang terus-menerus berkedip, namun bukan karena arus pendek. Lampu itu berkedip antara utuh dan hancur, seolah-olah dua garis waktu sedang berebut ruang yang sama.
Tiba-tiba, sensor pada pergelangan tangannya bergetar hebat. Merah.
**[Peringatan: Anomali Terdeteksi! Entitas Temporal Mendekat!]**
Aris membeku. Ia menahan napas, menempelkan punggungnya pada sisa tembok beton yang kasar. Dari balik kabut tipis di ujung lorong, sesuatu muncul. Bentuknya tidak ma**k akal. Itu menyerupai serigala, namun ukurannya sebesar mobil kecil, dengan tubuh yang seolah-olah terbuat dari data korup. Kulitnya bergetar, meninggalkan jejak bayangan hitam yang tertinggal di udara setiap kali ia bergerak. Bagian-bagian tubuhnya—rahang, kaki, ekor—bergeser posisi dalam hitungan milidetik.
"Void-Stalker," desis Aris. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seperti burung yang terperangkap dalam sangkar.
Monster itu berhenti, hidungnya yang tidak memiliki lubang tetap mengendus udara. Matanya—jika dua lubang cahaya putih yang berkedip itu bisa disebut mata—menoleh ke arah tempat persembunyian Aris.
Tanpa peringatan, makhluk itu melompat. Kecepatannya tidak wajar; ia seolah-olah melakukan *teleportasi* jarak pendek melalui celah waktu.
"Sial!" Aris berguling ke samping, nyaris saja terkena cakar yang meninggalkan bekas hangus di beton tempat ia tadi bersandar.
Aris segera mengakses sistemnya. Dengan gerakan cepat jarinya di udara, ia menarik sebuah item dari inventaris virtualnya. *Sultan’s Scrap Guard—Grade A.* Sebuah perisai yang ia rakit dari lempengan pintu bungker masa depan dua hari yang lalu.
*Dentang!*
Cakar monster itu menghantam perisai Aris, menciptakan percikan api biru. Lengan Aris terasa kebas karena hantaman yang begitu kuat. Ia tahu ia tidak bisa menang dalam adu kekuatan fisik. Makhluk ini adalah anomali; ia ada di sini karena retakan waktu yang ia buat saat menarik barang-barang SSS-Class.
"Kau ingin bermain dengan waktu, ya?" Aris menyeringai di balik maskernya, meski matanya menunjukkan ketegangan yang luar biasa. "Mari kita lihat bagaimana kau menangani ini."
Aris merogoh saku sabuknya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk silinder yang berdenyut dengan cahaya ungu. *Overloaded Flux Capacitor*—barang rongsokan yang ia 'daur ulang' menjadi bom gangguan temporal.
Monster itu meraung, suara yang terdengar seperti ribuan siaran radio yang bertumpuk. Ia menerjang lagi. Kali ini, Aris tidak menghindar. Ia menunggu hingga makhluk itu berada hanya dua meter di depannya.
"Sekarang!"
Aris membanting silinder itu ke tanah.
*BOOM!*
Ledakan itu tidak menghasilkan api, melainkan gelombang kejut berwarna ungu yang membekukan udara di sekitarnya. Monster itu terhenti di tengah udara, tubuhnya terjepit di antara detik yang berhenti. Aris tidak membuang waktu. Ia berlari melewati makhluk yang membeku itu menuju sebuah peti besi di sudut ruangan yang memancarkan cahaya keemasan yang stabil—Chrono-Core.
Tangan Aris gemetar saat ia meraih Core tersebut. Benda itu terasa hangat, berdenyut dengan kehidupan. Begitu jarinya menyentuh permukaan Core, sebuah sensasi dingin merambat ke seluruh sarafnya. Penglihatan Aris mendadak kabur. Ia melihat kilasan kota metropolis yang megah, lalu dalam sekejap, kota itu terbakar oleh api hitam yang turun dari langit.
**[Target Diperoleh: Chrono-Core Model Alpha (Grade: SSS)]**
**[Peringatan: Stabilitas Area Menurun Drastis. Evakuasi Segera!]**
Suara retakan keras terdengar. Efek bom beku waktunya habis. Void-Stalker itu mendarat di tanah dan berbalik dengan amarah yang murni. Namun, kali ini bukan hanya monster itu yang menjadi masalah. Tanah di bawah kaki Aris mulai retak, bukan karena gempa, tapi karena realitas di sekitar mereka mulai runtuh. Potongan-potongan aspal mulai melayang ke langit yang berwarna merah darah.
"Aris! Lari!" Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar di alat komunikasinya, memecah kesunyian yang mencekam.
Aris tersentak. Ia tidak mengenal suara itu, tapi instingnya berteriak untuk patuh. Ia mema**kkan Core ke dalam tasnya dan mulai berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar sektor. Di belakangnya, Void-Stalker itu mengejar, namun perlahan makhluk itu mulai terhisap ma**k ke dalam lubang hitam kecil yang muncul di udara—sebuah *singularity* kecil.
Aris melompat melewati celah pagar tepat saat gelombang kejut terakhir meledak di belakangnya. Ia berguling di tanah yang kotor, debu menutupi seluruh pakaiannya. Napasnya tersengal-sengal, paru-parunya terasa panas.
Saat ia mendongak untuk melihat ke arah Sektor 7, gerbang yang baru saja ia lalui telah menghilang. Bukan hancur, tapi benar-benar hilang, digantikan oleh dinding kosong seolah-olah jalan ma**k itu tidak pernah ada.
Aris merogoh tasnya, memastikan Chrono-Core masih ada di sana. Benda itu aman. Namun, saat ia melihat layar sistemnya, sebuah pesan baru muncul, bukan dari sistem Nexus-nya, melainkan sebuah transmisi teks berwarna merah darah yang menimpa antarmukanya.
**[Berhenti Mencari, Aris. Setiap Core yang kau ambil adalah satu detik lebih cepat bagi Akhir Segalanya. Kami melihatmu.]**
Aris merasakan darahnya membeku. Ia menoleh ke sekeliling, ke arah lorong-lorong gelap pinggiran kota yang sunyi. Ia merasa tidak lagi sendirian. Di kejauhan, lampu sensor sebuah gedung tinggi berkedip merah—seperti mata yang mengawasinya dari kegelapan. Siapa 'Kami'? Dan mengapa masa depan seolah-olah sedang berusaha membunuhnya sebelum ia sempat menyelamatkannya?
Ia mencengkeram Chrono-Core itu erat-erat. Ia baru saja memulai, tapi rasanya dunia sudah siap untuk berakhir.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!