Lant** enam puluh enam Menara Aegis terasa begitu dingin, seolah-olah pendingin ruangan di sini tidak hanya meniupkan udara, tetapi juga mematikan emosi manusia. Aku melangkah di atas karpet beludru yang begitu tebal hingga derap sepatuku yang mulai aus tak terdengar sama sekali. Di balik dinding kaca raksasa, kota metropolis terbentang luas, lampu-lampunya berkilauan seperti permata yang tumpah di atas kain hitam.
Namun, mataku justru tertuju pada siluet seorang pria yang berdiri memunggungi pintu. Ia memegang gelas kristal berisi cairan amber yang berputar pelan.
"Kau tahu, Aris," suara itu berat dan berwibawa, tanpa perlu berteriak untuk menunjukkan kekuasaan. "Dari ketinggian ini, orang-orang di bawah sana tidak lebih dari semut. Mereka berebut remah-remah, tidak menyadari bahwa dunia yang mereka injak sebenarnya sedang runtuh."
Marcus Thorne, pemimpin Guild Black Aegis, berbalik. Wajahnya tegas dengan garis rahang yang kaku, mengenakan setelan jas yang harganya mungkin c**up untuk memberi makan seluruh distrik pemulung selama setahun. Matanya tajam, menatapku seolah aku adalah sebuah artefak menarik yang baru saja ia temukan di tumpukan sampah.
"Aku bukan semut, Thorne," sahutku, tetap berdiri di dekat pintu. Tanganku di dalam saku jaket mengepal, menyentuh permukaan dingin perangkat Nexus Recycler yang tersembunyi. "Aku yang memungut remah-remah itu agar mereka bisa bertahan hidup."
Thorne terkekeh, suara yang kering tanpa kehangatan. Ia berjalan menuju meja m***ni besar dan meletakkan gelasnya. "Mari kita berhenti berpura-pura. Kita berdua tahu apa yang kau bawa di saku itu. Teknologi yang melampaui logika masa kini. SSS-Class items yang muncul dari tangan seorang pemulung? Itu bukan sekadar keberuntungan. Itu adalah kunci."
Ia menekan sebuah tombol di mejanya. Sebuah proyeksi hologram muncul di tengah ruangan, menampilkan peta dunia dengan titik-titik merah yang berkedip—celah dimensi yang mulai terbuka di berbagai belahan bumi.
"Dunia sedang menuju kiamat, Aris. Sinyal-sinyal dari masa depan yang kau terima melalui barang rongsokan itu adalah peringatan. Tapi bagiku, itu adalah peluang," Thorne mencondongkan tubuhnya ke depan. "Bergabunglah dengan Black Aegis. Aku akan memberimu posisi sebagai Direktur Pengembangan Teknis. Kau akan memiliki akses ke seluruh sumber daya kami, laboratorium terbaik, dan perlindungan absolut. Kau tidak perlu lagi mencium bau sampah. Kau akan menjadi Dewa di antara manusia yang ketakutan."
Aku terdiam. Tawaran itu menghantamku tepat di ulu hati. Bayangan masa kecilku yang kelaparan, saat aku harus berkelahi dengan an**** liar hanya untuk sepotong roti berjamur, berputar di kepalaku. Ketakutan terbesarku—kembali menjadi orang yang tidak dianggap, kembali ke dalam lumpur kemiskinan—berbisik di telingaku, mendesakku untuk menerima. Dengan kekuasaan ini, aku bisa memastikan tidak akan pernah ada yang berani memandang rendah diriku lagi.
"Apa imbalannya?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
Thorne tersenyum tipis, senyum seorang predator yang merasa mangsanya sudah ma**k perangkap. "Sederhana. Serahkan Nexus Recycler padaku. Kami akan menggunakannya untuk memanen energi dari garis waktu masa depan. Ya, mungkin itu akan mempercepat kehancuran masa depan tersebut, tapi siapa yang peduli pada dunia yang sudah hancur? Yang penting adalah kita—elit yang terpilih—bertahan hidup di masa sekarang dengan kekuatan yang tak tertandingi."
Aku menatap hologram itu. Titik-titik merah itu bukan sekadar data. Itu adalah jeritan minta tolong. Setiap item yang aku perbaiki, setiap artefak yang aku pulihkan, membawa memori samar tentang anak-anak yang menangis dan kota-kota yang terbakar di masa depan yang jauh.
Jika aku menerima tawaran Thorne, aku akan menjadi kaya raya. Aku akan menjadi 'Sultan' yang sesungguhnya. Tapi aku akan melakukannya dengan mengkhianati jutaan nyawa yang mengirimkan sinyal S.O.S melalui sampah-sampah itu.
"Kau ingin aku memotong tali penyelamat mereka demi kenyamanan kita di sini?" tanyaku pelan.
"Itu disebut pragmatisme, Aris," Thorne berdiri, berjalan mendekatiku. Ia meletakkan tangannya di bahuku. Tangannya terasa berat, seperti beban dosa yang tak terlihat. "Jangan biarkan moralitas kelas bawah menghambat potensimu. Kau adalah seorang pemulung yang cerdik. Kau tahu nilai sebuah barang. Dan saat ini, harga dirimu ada di puncaknya. Jangan sia-siakan."
Aku memejamkan mata sejenak. Aku bisa mencium aroma parfum mahal Thorne, kontras dengan bau oli dan karat yang biasanya melekat pada kulitku. Di dalam kepalaku, antarmuka Nexus Recycler tiba-tiba berkedip merah.
*[Peringatan: Integritas Garis Waktu Terancam. Jika Protokol Recycler disalahgunakan untuk eksploitasi energi murni, 80% prob***litas kiamat dipercepat menjadi 48 jam dari sekarang.]*
Aku membuka mata. Cahaya biru tipis dari sistem hanya bisa kulihat sendiri. Aku menatap langsung ke mata Thorne, mencari sedikit saja rasa kemanusiaan di sana, tapi yang kutemukan hanyalah ambisi yang dingin dan kosong.
"Kau benar, Thorne," kataku, membuat senyumnya melebar. "Aku memang seorang pemulung. Dan seorang pemulung tahu satu hal yang tidak kau tahu."
Aku menepis tangannya dari bahuku dengan sentakan kasar.
"Apa itu?" desis Thorne, matanya menyipit berbahaya.
"Barang yang paling berharga bukan yang paling berkilau," kataku sambil mundur selangkah, mengaktifkan fungsi defensif pada Nexus Recycler di sakuku. "Tapi yang masih memiliki fungsi untuk menyelamatkan nyawa. Kau bukan ingin menyelamatkan dunia. Kau hanya ingin menjadi raja di atas tumpukan mayat."
Suasana di ruangan itu berubah drastis. Udara terasa berat oleh tekanan mana yang keluar dari tubuh Thorne. Di luar pintu kaca, beberapa agen Black Aegis bersenjata lengkap tampak mulai bergerak mendekat.
"Sayang sekali," Thorne menghela napas, suaranya kini sedingin es. "Aku berharap kau lebih pintar dari ini. Jika kau tidak ingin menjadi bagian dari masa depan yang kubangun, maka kau akan terkubur bersama sampah-sampahmu di masa lalu."
Thorne mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, kaca raksasa di belakangnya pecah berkeping-keping oleh ledakan dari luar. Namun, bukan agennya yang menyerang. Sebuah drone rongsokan yang telah kumodifikasi sebelumnya melesat ma**k dari kegelapan malam, menembakkan peluru pengecoh ke arah lampu ruangan.
Kegelapan menyelimuti ruangan itu dalam sekejap.
"Ini baru permulaan, Thorne," teriakku di tengah kekacauan suara alarm yang mulai meraung.
Saat aku melompat menuju celah jendela yang pecah, memercayakan nyawaku pada perangkat peluncur yang baru saja selesai kuproses dari limbah baja, aku tahu satu hal: aku baru saja menyatakan perang pada organisasi terkuat di dunia. Dan sistem di depan mataku memberikan notifikasi baru yang membuat jantungku berdegup kencang.
*[Misi Utama Diperbarui: Bertahan hidup dari perburuan Black Aegis. Sinyal S.O.S baru terdeteksi di koordinat bawah tanah Distrik 9. Status: Darurat.]*
Aku jatuh bebas ke dalam kegelapan kota, sementara di atap menara, aku bisa mendengar raungan amarah Marcus Thorne yang menjanjikan kematianku. Perang demi masa depan baru saja dimulai, dan kali ini, sampahlah yang akan menentukan siapa yang menang.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!