Gelas kristal di tanganku terasa dingin, jauh lebih dingin daripada udara malam yang berhembus dari balkon griya tawang di lant** lima puluh ini. Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela yang luas. Jas sutra berwarna arang, jam tangan yang harganya bisa memberi makan satu distrik pemulung selama setahun, dan tatapan mata yang tampak asing.
Hanya dalam hitungan minggu, aku berubah dari tikus selokan menjadi raja barang rongsokan. Semuanya berkat Nexus Recycler.
Aku meletakkan gelas itu di atas meja marmer, lalu memanggil antarmuka sistem yang hanya bisa kulihat. Cahaya biru neon berpendar di depanku, menampilkan daftar inventaris yang sanggup membuat guild mana pun di dunia ini rela membunuh.
[Item: Glacial Heart Core (Grade SSS)]
[Status: Siap untuk Sinkronisasi]
Tanganku gemetar saat menyentuh ikon itu. Inti kristal itu berkilau di atas meja, memancarkan hawa dingin yang mistis. Aku hanya perlu menekan tombol 'Recycle' pada tumpukan komponen mesin kuno yang baru kubeli dari pasar gelap, dan sistem ini akan mengubahnya menjadi artefak dewa.
Namun, saat jariku nyaris menyentuh layar, sebuah distorsi muncul. Bukan distorsi biasa yang menandakan proses pemurnian, melainkan kilatan hitam yang tajam seperti pecahan kaca.
"Apa ini?" bisikku.
Biasanya, Nexus Recycler bekerja dengan senyap dan efisien. Namun kali ini, layar sistem itu berkedip-kedip tidak stabil. Sebuah baris perintah baru muncul dalam warna merah darah, menimpa teks biru yang biasa kulihat.
[PERINGATAN: Erosi Garis Waktu Terdeteksi]
[Sisa Cadangan Masa Depan: 74,2%]
Jantungku berdegup kencang. Aku mencoba menutup layar itu, tetapi sistem menolaknya. Tiba-tiba, suara statis yang menyakitkan telinga berdengung di dalam kepalaku. Pandanganku kabur, dan ruangan mewah di sekitarku seolah memudar, digantikan oleh bayangan buram yang mengerikan.
Aku melihat sebuah kota. Bukan kota metropolis tempatku tinggal sekarang, melainkan sebuah reruntuhan yang tertutup debu abu-abu. Langitnya bukan biru atau hitam, melainkan warna ungu busuk yang dipenuhi retakan cahaya. Di sana, aku melihat ribuan orang berlarian, mengejar sesuatu yang menghilang dari tangan mereka. Teknologi, energi, bahkan udara yang mereka hirup seolah tersedot ke dalam sebuah lubang hitam yang tak terlihat.
Lalu, aku melihatnya. Sebuah benda yang sangat kukenal.
Di tengah reruntuhan itu, seorang wanita memeluk sebuah kotak logam usangβsebuah generator oksigen tipe lama yang sering kupulung di masa lalu. Namun, saat aku mengaktifkan fungsi 'Recycle' di masa kini, generator di tangan wanita itu tiba-tiba memudar, hancur menjadi partikel cahaya, dan menghilang.
Wanita itu jatuh tersungkur, tercekik oleh atmosfer yang beracun, sementara di mejaku, sebuah [Oxygen Ring Grade SS] muncul dengan cahaya yang megah.
Napas seakan tersangkut di tenggorokanku. Aku menarik tanganku seolah-olah layar sistem itu adalah besi panas.
"Tidak... tidak mungkin," gumamku dengan suara serak. Keringat dingin mengucur di pelipis.
Aku memandang ke sekeliling ruangan. Lampu gantung kristal, furnitur dari kayu langka, semua kemewahan ini... apakah semua ini hasil rampokan dari mereka yang belum lahir?
Sistem ini tidak menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Ia tidak memperbaiki barang rusak. Ia adalah sebuah jembatanβsebuah sedotan raksasa yang menyedot eksistensi dari masa depan untuk dibawa ke masa kini. Barang rongsokan yang kupungut bukanlah sampah, melainkan 'jangkar' yang digunakan oleh orang-orang di masa depan untuk mengirimkan sinyal SOS. Dan setiap kali aku menekan tombol 'Upgrade', aku bukan sedang menyelamatkan artefak itu, melainkan melahap harapan mereka demi kenyamananku sendiri.
"Kau bukan sistem," bisikku pada udara kosong, mataku nanar menatap baris kode yang terus berjalan. "Kau parasit."
[Pemberitahuan: Host menyadari fungsi dasar. Efisiensi konversi ditingkatkan ke 110%.]
Sebuah tawa pahit lolos dari bibirku. Efisiensi? Mereka menyebut kehancuran sebuah peradaban sebagai efisiensi?
Aku teringat saat aku kelaparan di pinggiran kota, mengais tempat sampah hanya untuk sepotong roti berjamur. Aku ingat rasa sakit saat dipukuli oleh penjaga keamanan karena mencoba mencuri kabel tembaga. Aku bersumpah tidak akan pernah kembali ke sana. Aku ingin menjadi seseorang. Aku ingin dunia bertekuk lutut padaku.
Tapi, harga yang diminta terlalu tinggi. Jika aku terus menggunakan sistem ini, dunia yang akan kuhuni di masa depan tidak akan ada lagi. Aku akan menjadi raja di atas tumpukan abu.
Tiba-tiba, alarm apartemenku berbunyi. Sensor keamanan di pintu ma**k menyala merah.
"Tuan Aris," suara kecerdasan buatan rumahku bergema. "Ada anomali terdeteksi di koridor luar. Energi tinggi yang tidak teridentifikasi sedang mencoba menembus protokol keamanan."
Aku segera berdiri, mengabaikan rasa mual di perutku. Di layar monitor keamanan, aku melihat tiga sosok berjubah perak berdiri di depan pintu bajaku. Mereka tidak membawa senjata api, melainkan perangkat pemindai energi yang berpendar biru terang.
Guild 'Aegis'. Organisasi yang selama ini mengawasi kemunculan item-item ilegal di pasar. Mereka bukan sekadar polisi; mereka adalah pemburu artefak yang tahu lebih banyak daripada yang mereka tunjukkan.
"Mereka sudah tahu," pikirku cepat.
Pandanganku kembali ke kristal Glacial Heart di atas meja. Jika aku menghancurkannya sekarang, aku mungkin bisa memutus koneksi parasit ini untuk sementara. Tapi itu berarti aku akan kehilangan perlindungan satu-satunya yang kumiliki. Tanpa kekuatan dari sistem, aku hanyalah pemulung tanpa nama yang akan hilang ditelan kegelapan malam ini.
Tanganku melayang di atas kristal itu. Di satu sisi, ada keselamatan dunia yang abstrak dan masa depan yang belum pasti. Di sisi lain, ada nyawaku dan kekuasaan yang baru saja kurasakan nikmatnya.
Pintu apartemenku bergetar hebat. Sebuah retakan mulai muncul pada baja tebal itu, bukan karena ledakan, melainkan karena ruang di sekitarnya mulai melengkungβsama seperti cara sistemku bekerja.
Sistem memberikan notifikasi terakhir yang membuat darahku membeku.
[Misi Darurat Terdeteksi: Pertahankan Host dari 'Pembersih Waktu'. Hadiah: SSS-Class Guardian Weapon. Biaya: Pengorbanan 5% Populasi Masa Depan.]
"Ba******," desisku.
Jariku gemetar. Antara menekan tombol 'Terima' dan bertahan hidup, atau mematikan segalanya dan menghadapi kematian di tangan Aegis. Aku bisa merasakan lapar yang dulu menghantui perutku kembali lagi, rasa takut akan kemiskinan yang mencekik. Tapi di telingaku, suara jeritan wanita dari masa depan itu masih bergema jelas.
Retakan di pintu semakin lebar. Sosok-sosok berjubah itu mulai melangkah ma**k.
Aku memejamkan mata, dan tanganku bergerak menuju layar.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!