Bau karat dan sisa pembakaran plastik yang menyengat menyambut Aris begitu ia melangkah lebih dalam ke Sektor 7. Tempat ini adalah tumpukan rongsokan yang bernapasβsebuah labirin dari kont**ner berkarat dan gubuk kardus yang saling berhimpitan. Di bawah keremangan lampu merkuri yang berkedip, bayangan orang-orang yang membungkuk terlihat seperti hantu yang sedang mencari sisa-sisa kehidupan.
Aris merapatkan jaketnya, merasakan denyut hangat dari antarmuka 'Nexus Recycler' yang tertanam di pergelangan tangannya. Di dunianya yang baru, ia adalah "Sultan" dari reruntuhan kelas SSS, tapi di sini, di mata orang-orang ini, ia hanyalah Aris si bocah yatim piatu yang beruntung tidak mati kelaparan musim lalu.
"Aris? Kau kembali?" Sebuah suara serak memecah keheningan.
Seorang pria tua dengan satu mata tertutup perban kusam keluar dari balik tumpukan ban bekas. Jiro. Dia adalah orang yang mengajari Aris cara membedakan antara tembaga murni dan kabel plastik murahan sepuluh tahun yang lalu.
"Aku butuh bicara dengan semua orang, Jiro. Kumpulkan mereka di hanggar tua," ucap Aris. Suaranya datar, namun ada nada otoritas yang membuat Jiro tertegun sejenak.
"Untuk apa? Guild Gagak Hitam baru saja lewat dua jam lalu. Mereka memungut 'pajak perlindungan' lagi. Kami tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan, Aris," keluh Jiro, tangannya yang gemetar mengusap bekas luka di lengannya.
"Aku tidak datang untuk meminta. Aku datang untuk memberi," Aris menatap mata Jiro yang tersisa. "Dan untuk mengajari kalian cara menggigit balik."
Satu jam kemudian, sekitar tiga puluh orang berkumpul di dalam hanggar yang atapnya sudah bolong-bolong. Mereka adalah pemulung, teknisi ilegal, dan pelarian yang tidak punya tempat di kota metropolis yang berkilauan di ufuk sana. Wajah-wajah mereka pucat, mata mereka cekung karena kurang tidur dan kelaparan.
"Kalian tahu siapa yang menguasai limbah Sektor 7?" Aris memulai, berdiri di atas peti besi yang reyot.
"Gagak Hitam," teriak seorang pemuda kurus di barisan depan. "Dan mereka punya senapan plasma, Aris! Sedangkan kami? Kami cuma punya kunci inggris karatan!"
Gumam persetujuan yang pahit memenuhi ruangan. Keputusasaan adalah oksigen di tempat ini.
Aris menarik sebuah benda dari tas punggungnya. Itu terlihat seperti tumpukan plat besi yang disambung secara asal-asalan dengan kabel tembaga mencuat di sana-sini. Di mata orang awam, itu adalah sampah. Namun, melalui lensa sistemnya, Aris melihat teks emas mengambang: *[SSS-Class Kinetic Pulse Shield - Disguised Form]*.
"Ini," Aris mengangkat benda itu, "adalah apa yang mereka anggap sampah."
Ia menekan sebuah tombol tersembunyi. Tiba-tiba, dengungan rendah yang bergetar memenuhi hanggar. Gelombang energi transparan memancar keluar, membentuk kubah setinggi dua meter yang memantulkan cahaya merkuri dengan pola geometris yang rumit.
Udara di dalam hanggar mendadak terasa berat, penuh dengan partikel mana yang murni. Orang-orang di sana tersentak mundur, menutupi mata mereka yang silau.
"Gagak Hitam punya senjata? Aku punya teknologi yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan dalam mimpi terliar mereka," Aris merendahkan suaranya, namun setiap kata terasa seperti hantaman palu. "Dunia di luar sana sedang hancur. Sampah yang kita pungut setiap hari... itu bukan sekadar rongsokan. Itu adalah potongan dari masa depan yang gagal, yang dikirim kembali agar kita bisa memperbaikinya."
"Tapi kami bukan prajurit, Aris," Jiro melangkah maju, suaranya gemetar. "Kami hanya pemulung. Jika kami melawan, mereka akan meratakan tempat ini."
Aris melompat turun dari peti, mendarat tepat di depan Jiro. Ia mencengkeram bahu pria tua itu. "Justru karena kita pemulung, Jiro. Kita tahu setiap celah di kota ini. Kita tahu bagaimana mesin bekerja saat orang-orang kaya itu hanya tahu cara menekan tombol. Mereka meremehkan kita, dan itulah senjata terbesar kita."
Aris membuka tasnya lebih lebar, memperlihatkan puluhan modul kecil yang ia ciptakan dari hasil 'Recycle' selama seminggu terakhir. Semuanya terlihat seperti rongsokan, namun memancarkan aura kekuatan yang tak terbendung.
"Aku tidak meminta kalian untuk menjadi pahlawan. Aku meminta kalian untuk bertahan hidup dengan cara yang berbeda," Aris menatap satu per satu wajah di depannya. "Tetaplah menjadi pemulung. Tetaplah terlihat lemah. Tapi mulai besok, setiap gerobak rongsokan kalian akan membawa meriam energi. Setiap rompi kumal kalian akan dilapisi serat baja SSS. Kita akan menjadi hantu yang menghantui mereka dari balik tumpukan sampah."
Keheningan yang mencekam menyelimuti hanggar. Keraguan masih terpancar di mata mereka, namun ada percikan kecil yang mulai menyalaβkemarahan yang selama ini tertimbun oleh rasa takut.
Si pemuda kurus tadi maju perlahan, tangannya yang kotor terulur menyentuh perisai energi milik Aris. "Jika aku mati... aku lebih suka mati sambil memegang leher salah satu dari mereka, daripada mati kelaparan di gang ini."
Satu per satu, mereka mulai mendekat. Keputusasaan perlahan berubah menjadi tekad yang dingin. Aris tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Ia tahu ia sedang menyeret orang-orang ini ke dalam perang yang jauh lebih besar dari sekadar perebutan wilayah kekuasaan guild. Ia sedang mempersiapkan mereka untuk kiamat yang sedang merembes ma**k.
Tiba-tiba, alarm melengking dari sensor yang dipasang Aris di pintu ma**k Sektor 7 berbunyi di telinganya melalui sistem.
"Aris," suara robotik 'Nexus Recycler' bergema di kepalanya. *[Deteksi ancaman terdeteksi. 15 unit infanteri Guild Gagak Hitam mendekat dengan kendaraan tempur ringan. Estimasi kedatangan: 4 menit.]*
Wajah Aris mengeras. Ia menatap kerumunan yang baru saja mulai percaya padanya.
"Waktunya habis," desis Aris, sambil membagikan modul-modul senjata itu dengan cepat. "Ujian pertama kalian datang lebih cepat dari perkiraan. Jiro, matikan semua lampu! Kita akan tunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika mereka mencoba menginjak-injak tumpukan sampah yang salah."
Saat lampu-lampu di hanggar padam satu per satu, hanya mata Aris yang menyala biru redup di kegelapan, memantulkan data sistem yang mulai menghitung koordinat serangan musuh. Perang ini bukan lagi tentang bertahan hidupβini tentang pengambilalihan.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!