Udara di hadapanku tidak lagi terasa seperti oksigen. Rasanya tajam, berbau ozon dan tembaga terbakar, seolah-olah atmosfer itu sendiri sedang digiling oleh mesin raksasa yang tidak terlihat. Aku melangkah melewati puing-puing beton yang tampak bergetar, terdistorsi seperti bayangan di atas aspal panas. Namun, ini bukan fatamorgana. Ini adalah realitas yang sedang robek.
Di pergelangan tanganku, antarmuka holografis dari Nexus Recycler berkedip liar. Cahaya birunya yang biasanya stabil kini berpendar kemerahan, mengirimkan peringatan yang memenuhi sudut mataku.
[Peringatan: Instabilitas Temporal Terdeteksi (89%)]
[Radius Titik Nol: 200 Meter]
[Saran: Segera lakukan evakuasi atau aktifkan protokol 'Time-Shield Anchor'.]
"Evakuasi bukan pilihan, Nexus," gumamku, suaraku parau karena debu yang menyesakkan tenggorokan. Aku mengetuk layar virtual, mengabaikan peringatan merah itu. "Tunjukkan koordinat tepatnya. Aku tidak datang sejauh ini hanya untuk melihat dunia ini berubah menjadi tumpukan barang rongsokan dari masa depan."
Setiap langkah yang kuambil terasa berat, seolah-olah gravitasi di area ini sedang mempermainkanku. Di sebelah kiriku, sebuah mobil rongsokan yang sudah berkarat tiba-tiba terangkat ke udara, lalu dalam sekejap mata, bentuknya berubah menjadi logam kromium mengkilap yang elegan—teknologi transportasi masa depan—sebelum akhirnya meledak menjadi butiran debu dalam hitungan detik. Paradoks waktu sedang bekerja dengan cara yang sangat kejam di sini.
Tiba-tiba, langit bergemuruh tanpa mendung. Sebuah retakan cahaya putih membelah cakrawala, dan sedetik kemudian, benda-benda mulai berjatuhan dari langit. Itu bukan hujan meteor. Itu adalah sampah.
*B**k!*
Sebuah tabung silinder berukuran raksasa menghantam gedung apartemen di dekatku, meruntuhkan separuh dindingnya. Aku merunduk, menutupi kepala saat puing-puing beton beterbangan. Mataku menyipit melihat tabung itu. Logamnya berpendar dengan cahaya neon redup, dan ada logo yang tidak kukenal terukir di sana: *Sector 7 - Emergency Life Support*.
"Si****," umpatku. Aku berlari mendekat, bukan untuk menolong—karena aku tahu tabung itu kosong—tapi untuk memindainya. "Nexus, analisis."
[Analisis Selesai: Modul Pendukung Kehidupan (Rusak). Grade: A (Masa Depan). Nilai Daur Ulang: Tinggi. Catatan: Mengandung residu radiasi kronon.]
Aku mengepalkan tangan. Benda ini seharusnya belum ada. Ini adalah artefak dari masa depan yang hancur, sebuah pesan S.O.S yang berbentuk materi fisik. Jika aku terus membiarkan benda-benda ini jatuh dan menumpuk, massa dari masa depan akan menindih masa kini hingga segalanya runtuh.
"Sedikit lagi," bisikku pada diri sendiri. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, sebuah campuran antara ketakutan primitif dan adrenalin yang memabukkan. Trauma masa laluku sebagai pemulung yang kelaparan membisikkan satu hal: *Ambil semuanya, atau kau tidak akan punya apa-apa lagi.*
Aku sampai di persimpangan utama distrik hantu ini. Di tengah jalan, ruang itu sendiri tampak melintir. Sebuah lubang hitam kecil—Titik Nol—mengambang sekitar dua meter di atas tanah. Itu tidak gelap, melainkan dipenuhi warna-warna yang tidak ma**k akal, sebuah pusaran yang menyedot realitas di sekitarnya.
Hambatan muncul saat aku mencoba mendekat. Realita di sekitarku mulai 'glitch'. Trotoar di bawah kakiku tiba-tiba berubah menjadi lant** kaca transparan yang memperlihatkan jurang tak berdasar, lalu kembali menjadi semen dalam sekejap. Rasanya seperti berjalan di atas mimpi buruk yang tidak stabil.
"Aris! Berhenti di sana!"
Sebuah suara keras memecah kebisingan dengungan mesin waktu. Aku menoleh dan melihat tiga sosok berpakaian taktis hitam dengan visor bercahaya biru elektrik. Mereka membawa senjata yang memancarkan energi stabil. Guild Global. Mereka akhirnya menemukanku di saat yang paling buruk.
"Serahkan sistem itu, Pemulung," teriak salah satu dari mereka, pemimpinnya, yang melangkah maju dengan angkuh. "Kau tidak tahu apa yang kau hadapi. Kau hanya bermain-main dengan api yang akan membakar seluruh garis waktu."
Aku terkekeh, meski tanganku gemetar. "Kalian bicara seolah-olah kalian peduli pada dunia. Kalian hanya ingin memonopoli teknologi dari masa depan ini agar bisa menjadi dewa di masa sekarang, kan?"
"Kami menjaga keteraturan," balasnya dingin sambil mengangkat senjatanya.
Tepat saat dia hendak menarik pelatuk, sebuah benda jatuh dari langit dengan kecepatan luar biasa. Bukan tabung rongsokan, melainkan sebuah pedang besar yang tertancap tepat di antara aku dan agen guild itu. Bilahnya terbuat dari material transparan yang berdenyut dengan energi ungu.
[Peringatan SSS-Class!]
[Item Terdeteksi: 'Void Reaver' - Senjata Personal Sang Penjaga Terakhir (Tahun 2140).]
Tekanan energi dari pedang itu membuat agen-agen guild terpental ke belakang. Tanah di bawahku mulai retak lebih hebat. Dari dalam celah Titik Nol, sebuah suara statis terdengar, seolah-olah seseorang sedang mencoba berteriak dari balik dinding kaca yang tebal.
Aku melihat ke arah pedang itu, lalu ke arah celah waktu yang semakin membesar. Cahaya dari Titik Nol mulai menelan bangunan-bangunan di sekitarku. Jika aku tidak bertindak sekarang, bukan hanya aku yang akan lenyap, tapi seluruh kota ini akan terhapus dari sejarah.
"Nexus," panggilku, mataku terpaku pada bayangan sesuatu yang mulai merangkak keluar dari lubang waktu itu. Sesuatu yang bukan manusia. "Aktifkan protokol Daur Ulang Paksa. Kita akan menelan seluruh celah ini."
[Peringatan: Risiko kegagalan sistem 70%. Jika gagal, kesadaran pengguna akan tersebar di sepanjang garis waktu.]
"Lakukan saja!" teriakku, tepat saat tangan raksasa berbahan logam cair muncul dari Titik Nol, mencengkeram tepi realitas dan mulai menarik diri keluar ke duniaku.
Aku melompat ke arah pedang legendaris itu, mengabaikan peringatan sistem dan moncong senjata agen guild yang kembali membidikku. Saat jemariku menyentuh gagang pedang, sebuah gelombang memori yang bukan milikku menghantam otakku—gambaran tentang dunia yang terbakar dan seorang pria yang menangis di atas tumpukan emas yang tidak berguna.
Lalu, suara statis itu berubah menjadi kalimat yang sangat jelas di telingaku: *"Jangan biarkan dia lewat."*
Sesuatu sedang menatapku dari balik celah, dan itu bukan lagi sekadar sampah masa depan. Itu adalah awal dari kiamat yang kucoba cegah, dan dia baru saja menyadari keberadaanku.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!