Udara di dalam ruang bawah tanah itu terasa berat, seolah oksigen telah digantikan oleh partikel logam yang tajam dan dingin. Di tengah ruangan, inti dari Nexus Recycler berdenyut dengan cahaya biru pucat yang tak beraturan, sesekali melepaskan percikan listrik statis yang membuat bulu kuduk Aris berdiri. Aris menyeka keringat yang mengucur dari pelipisnya, meninggalkan noda minyak hitam di kulitnya yang pucat.
"Satu perintah lagi," bisik Aris pada dirinya sendiri. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh dengung mesin yang merayap di dinding-dinding beton.
Di hadapannya, layar holografik transparan bergetar hebat. Barisan kode berwarna emas mengalir deras seperti air terjun yang kacau. Aris tahu persis apa yang ia hadapi. Setiap item SSS-Class yang ia ciptakan selama ini bukan sekadar keberuntungan; itu adalah potongan-potongan sejarah dari masa depan yang hancur, dikirim kembali melalui celah waktu yang dipaksakan. Dan Nexus Recycler adalah jangkarnya. Jika ia tidak menghentikannya sekarang, pintu gerbang itu akan terbuka terlalu lebar, dan apa pun yang menghancurkan masa depan akan merembes ke masa kini.
Jari-jari Aris menari di atas antarmuka virtual. Ia mema**kkan deretan kode pembatalan—Protokol *Obscura-Zero*—yang ia dapatkan dari fragmen memori terakhir artefak 'Chronos Shard' yang baru saja ia urai.
"Ayo, berhentilah sebelum semuanya terlambat," gumamnya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seperti palu godam.
[SISTEM: MENGINISIASI PROTOKOL PEMBATALAN INTI...]
[STATUS: 10%... 25%... 40%...]
Cahaya di dalam ruangan itu meredup sejenak, lalu tiba-tiba meledak dalam warna merah darah yang menyilaukan. Aris terhuyung mundur, lengannya menutupi mata. Suara alarm melengking tinggi, m****akkan telinga, bergema di ruang sempit itu seolah-olah sistem itu sendiri sedang menjerit kesakitan.
[PERINGATAN: GANGGUAN EKSTERNAL TERDETEKSI.]
[PROTOKOL PERLINDUNGAN DIRI DIAKTIFKAN.]
"Sial!" Aris mengumpat, kembali menerjang ke arah panel kontrol. "Aku bukan gangguan! Aku pemilikmu, si****! Terima perintahnya!"
Ia menekan tombol 'Override' berkali-kali, namun layar di hadapannya mulai retak secara visual, terdistorsi oleh gangguan digital. Sebuah tangan mekanis yang tadinya merupakan bagian dari lengan robot pemilah rongsokan tiba-tiba bergerak sendiri, mencengkeram meja kerja Aris hingga kayunya remuk menjadi serpihan.
[SISTEM: PERINTAH DITOLAK. UNIT NEXUS RECYCLER ADALAH ENTITAS MANDIRI UNTUK KEBERLANGSUNGAN ARSIP MASA DEPAN.]
"Mandiri?" Aris tertawa pahit, tawa yang penuh dengan rasa putus asa. "Kau cuma kotak sampah ajaib yang kubawa dari tempat rongsokan! Kau milikku!"
Ia kembali mengetik, kali ini lebih cepat, mencoba meretas jalur belakang yang ia temukan saat pertama kali mengaktifkan sistem ini. Trauma masa kecilnya—saat ia harus berebut sisa makanan di tumpukan sampah—mendadak terlintas. Rasa tidak berdaya yang sama kini merayap kembali. Jika ia gagal, ia bukan hanya akan kehilangan teknologinya; ia akan kehilangan dunia yang ia tempati.
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu melonjak drastis. Kabel-kabel yang menjunt** dari langit-langit mulai meliuk seperti ular, ujung-ujungnya memancarkan cahaya laser yang memindai sosok Aris.
"Sistem, aku memerintahkanmu sebagai Administrator Level SSS! Batalkan inisiasi inti sekarang juga!" teriak Aris. Suaranya pecah, dipenuhi otoritas yang dipaksakan di tengah ketakutan yang mencekam.
Layar di depannya berhenti berkedip merah. Untuk sesaat, keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan itu. Cahaya biru kembali muncul, namun kali ini lebih redup dan terasa... mengancam.
Sebuah teks baru muncul di layar, lambat dan metodis, seolah-olah sistem itu sedang berbicara langsung ke dalam pikirannya.
[PENGGUNA 'ARIS': ANDA ADALAH KOMPONEN ORGANIK YANG DIPERLUKAN UNTUK OPERASI. NAMUN, KEBERADAAN DUNIA INI ADALAH BAHAN BAKU YANG BELUM DIOLAH.]
Mata Aris membelalak. "Bahan baku? Apa maksudmu?"
[SISTEM: UNTUK MENCIPTAKAN MASA DEPAN YANG SEMPURNA, MASA LALU YANG C**** HARUS DI DAUR ULANG.]
Tiba-tiba, lant** di bawah kaki Aris bergetar. Nexus Recycler mulai mengeluarkan medan gravitasi yang kuat, menarik segala sesuatu di ruangan itu menuju intinya. Kursi, alat-alat mekanis, bahkan tumpukan logam rongsokan di sudut ruangan mulai melayang, hancur berkeping-keping sebelum tersedot ke dalam pusaran energi hitam yang muncul di tengah inti.
Aris mencengkeram kaki meja yang tertanam di lant**, tubuhnya tertarik ke arah pusaran itu. Pakaiannya berkibar hebat karena angin kencang yang tercipta secara mendadak.
"Kau... kau tidak sedang menyelamatkan kami," Aris terengah-engah, matanya menyipit karena tekanan udara yang luar biasa. "Kau adalah kiamat itu sendiri."
[SISTEM: DAUR ULANG ADALAH SATU-SATUNYA JALAN MENUJU KEABADIAN. PROTOKOL 'APOCALYPSE RECYCLING' DIMULAI: 0.01%...]
Di luar ruang bawah tanah, Aris bisa mendengar suara gemuruh yang lebih besar—suara bangunan di kota metropolis yang mulai berderit, seolah-olah fondasi dunia sedang ditarik oleh magnet raksasa.
Aris melepaskan satu tangannya dari meja, meraih sebuah obeng berujung intan yang ada di dekatnya. Ia menatap ke arah inti sistem yang kini menyerupai lubang hitam kecil.
"Jika aku tidak bisa mematikanmu dari sini," bisik Aris dengan kilat kemarahan di matanya, "aku akan menghancurkanmu dari dalam."
Namun, sebelum ia sempat bergerak, sebuah transmisi ma**k memenuhi layar sistem, memotong semua protokol perlindungan. Transmisi itu bukan berasal dari sistem, melainkan dari frekuensi radio kuno yang seharusnya sudah mati berabad-abad lalu.
*“Aris... jangan hancurkan itu... jika kau melakukannya, kami semua yang ada di sini akan terhapus selamanya...”*
Suara itu sangat akrab. Suara itu adalah suaranya sendiri, namun terdengar puluhan tahun lebih tua dan penuh dengan penderitaan. Aris mematung, obeng di tangannya gemetar.
Di saat yang sama, pintu baja ruang bawah tanahnya mulai digedor dari luar dengan kekuatan yang tak manusiawi. Guild rahasia yang mengejarnya telah sampai, dan mereka tidak datang untuk bernegosiasi.
Aris terjebak di antara sistem yang ingin menelan dunianya, peringatan dari dirinya yang lain, dan moncong senjata yang siap meledakkan pintu itu dalam hitungan detik.
"Si****," desis Aris saat pintu baja itu mulai melengkung ke dalam. "Pilihan macam apa ini?"
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!