Scavenger System: The Sultan of SSS-Class Ruins

Bab 2: Bab 2 - Mengidentifikasi benda aneh yang berdenyut di t...

Pengaturan Membaca

Aroma karat dan pembusukan adalah parfum harian yang sudah meresap ke dalam pori-pori kulit Aris. Di bawah langit Sektor 7 yang selalu tertutup kabut polusi kelabu, ia berlutut di atas gundukan limbah logam yang tajam. Sarung tangan kainnya yang berlubang-lubang hampir tidak memberikan perlindungan saat ia merogoh lebih dalam ke celah reruntuhan gedung yang runtuh satu dekade lalu.

"Ayolah, satu unit pemanas tua atau modul memori rusak pun jadi," gumam Aris, suaranya parau karena debu.

Tangannya menyentuh sesuatu yang keras. Dingin, namun ada sensasi aneh yang menjalar ke ujung jarinyaβ€”sebuah getaran ritmis yang halus. Ia menarik objek itu keluar. Bukan besi tua, bukan pula plastik polimer murahan. Itu adalah sebuah kubus hitam legam dengan permukaan yang sangat halus, seolah-olah cahaya di sekitarnya tersedot ma**k ke dalam benda itu.

Di tengah permukaan kubus, sebuah cahaya ungu temaram berdenyut. *Dug-dug. Dug-dug.* Persis seperti detak jantung.

Aris menyipitkan mata, mengusap debu tebal yang menempel. "Benda apa ini? Tidak ada logo pabrikan, tidak ada nomor seri..."

Tiba-tiba, denyutan itu bertambah cepat. Cahaya ungu yang tadinya redup kini menyambar-nyambar seperti sirkuit listrik yang kelebihan beban. Sebelum Aris sempat melemparkan benda itu, sebuah suara mekanis yang dingin dan jernih bergema langsung di dalam tengkoraknya, mengabaikan indra pendengarannya.

**[Mendeteksi Inang Organik yang Kompatibel.]**

**[Memulai Protokol Inisiasi: Nexus Recycler.]**

"Apa-apaanβ€”" Aris tersentak, mencoba melepaskan cengkeramannya, tetapi kubus itu seolah menempel secara molekuler pada telapak tangannya.

Lalu, rasa sakit itu datang.

Itu bukan rasa sakit biasa. Rasanya seolah-olah seseorang menyiramkan timah panas langsung ke dalam aliran darahnya. Aris tersungkur di atas tumpukan sampah, tubuhnya melengkung kaku. Pemandangannya mulai bergetar, terdistorsi oleh ribuan baris kode digital berwarna biru neon yang meluncur deras di depan matanya.

"Hentikan... akh! Si****, lepaskan!" Aris mengerang, giginya bergeletuk keras. Keringat dingin mengucur deras, membasahi jelaga di wajahnya.

**[Sinkronisasi Saraf: 12%... 24%...]**

Ia merasa otaknya sedang dibedah secara paksa. Setiap kenangan, setiap fungsi motorik, hingga struktur DNA-nya seolah sedang dipindai dan disusun ulang. Aris mencengkeram kepalanya dengan tangan yang bebas, kuku-kukunya menancap di kulit kepala. Rasa panas itu menjalar dari telapak tangan, naik ke bahu, lalu meledak di pangkal otaknya.

Dunia di sekitarnya memudar. Tumpukan sampah, langit kelabu, dan bau busuk Sektor 7 lenyap, digantikan oleh ruang hampa yang dipenuhi oleh jaring-jaring data raksasa.

**[Peringatan: Stabilitas Mental Inang Menurun. Mempercepat Proses Integrasi.]**

"Tidβ€”jangan!" Aris berteriak, namun suaranya tertelan oleh dengungan statis yang m****akkan telinga.

Sensasi menusuk seperti ribuan jarum mikro menghujam saraf-saraf tulang belakangnya. Aris bisa merasakan jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak alami, mengikuti denyutan kubus hitam itu. Setiap sel di tubuhnya berontak, namun sistem itu lebih kuat. Ia merasa jiwanya ditarik paksa ke dalam sebuah lubang hitam teknologis yang tak berdasar.

Detik-detik berlalu seperti jam yang menyiksa. Aris terengah-engah, matanya membelalak, hanya menyisakan bagian putihnya saat gelombang rasa sakit terakhir menghantam pusat kesadarannya.

Lalu, keheningan total.

Aris jatuh tertelungkup ke tumpukan besi tua. Napasnya pendek-pendek dan berat. Tangannya yang memegang kubus tadi kini kosong; benda itu telah melenyap, atau lebih tepatnya, terserap. Di pergelangan tangan kirinya, terdapat sebuah pola garis-garis tipis berwarna perak kebiruan yang menyala redup di bawah kulit, menyerupai tato sirkuit yang rumit.

Perlahan, ia mengangkat kepalanya. Pandangannya tidak lagi sama. Saat ia melihat tumpukan sampah di hadapannya, sebuah jendela transparan muncul melayang, memberikan informasi mendet**l pada setiap objek yang tertangkap matanya.

**[Target: Plat Baja Berkarat (Limbah Kelas E)]**

**[Status: Dapat Didaur Ulang]**

**[Potensi: Rendah]**

Aris memijat pelipisnya yang masih berdenyut kencang. "Nexus... Recycler?" bisiknya dengan suara yang bergetar.

Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, sebuah notifikasi merah berkedip di pojok kanan penglihatannya, jauh lebih besar dan lebih mendesak daripada informasi sampah di sekitarnya.

**[Mendeteksi Artefak Terdistorsi di Radius 5 Meter.]**

**[Klasifikasi Awal: SSS-Class Ruin Fragment.]**

**[Peringatan: Keberadaan Item Ini Menarik Perhatian Entitas Pelacak.]**

Aris membeku. Di kejauhan, di balik kabut polusi, ia mendengar suara desing mesin yang familiarβ€”suara drone pengint** militer yang biasanya hanya berpatroli di zona elit, bukan di pemukiman kumuh pemulung seperti ini. Cahaya lampu sorot mulai menyapu tumpukan sampah dari kejauhan, bergerak cepat ke arah posisinya.

Sesuatu dalam dirinya memberitahu bahwa jika ia tertangkap dengan sistem ini di dalam tubuhnya, kematian akan menjadi pilihan yang jauh lebih baik daripada apa yang akan mereka lakukan padanya.

"Baru saja aku mendapat keberuntungan," umpat Aris sambil memaksakan dirinya berdiri meski kakinya masih gemetar hebat. "Dan sekarang aku sudah diburu."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca