Scavenger System: The Sultan of SSS-Class Ruins

Bab 3: Bab 3 - Mencoba fitur 'Recycle' untuk pertama kalinya p...

Pengaturan Membaca

Lant** kayu di gubukku berderit setiap kali aku memindahkan tumpuan berat badan. Bau karat dan lembap yang sudah bertahun-tahun menjadi parfum harianku terasa lebih menusuk malam ini, mungkin karena adrenalin yang berdenyut di bawah kulitku. Di depanku, melayang sebuah layar semi-transparan berwarna biru pucat yang hanya bisa kulihat sendiri.

[Nexus Recycler v1.0 — Status: Ready]

Aku menelan ludah. Tanganku yang kasar dan penuh luka kecil gemetar saat merogoh kantong plastik kusam di sudut ruangan. Aku mengeluarkan satu-satunya barang yang tersisa dari hasil memulung tadi siang: sebuah kaleng minuman soda *Neo-Cola* yang sudah penyok, warnanya sudah memudar dimakan cuaca, dan ada noda tanah yang mengering di pinggirannya.

"Cuma sampah," gumamku, mencoba meyakinkan diri bahwa aku tidak sedang kehilangan akal sehat. "Ini cuma sampah yang harusnya ma**k tempat pembuangan akhir, bukan sesuatu yang bisa mengubah hidup."

Namun, rasa lapar yang melilit perutku dan dinginnya angin malam yang ma**k melalui celah-celah dinding seng memberikan dorongan yang berbeda. Ketakutan akan kemiskinan selalu lebih besar daripada ketakutanku pada hal-hal supranatural.

Aku meletakkan kaleng itu di atas meja kayu yang pincang.

[Target terdeteksi: Sampah Alumunium Terkontaminasi.]

[Analisis: Material ini mengandung residu polutan tingkat rendah.]

[Pilihan: Hancurkan atau Recycle?]

"Recycle," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.

Tiba-tiba, cahaya biru berpendar dari telapak tanganku. Itu bukan cahaya yang menyilaukan seperti ledakan, melainkan aliran partikel-partikel kecil yang tampak seperti kunang-kunang digital. Mereka merayap turun dari ujung jariku, membungkus kaleng penyok itu dalam sebuah kepompong cahaya yang berdenyut.

Aku menahan napas. Suara desis halus seperti gas yang keluar dari tabung bocor memenuhi ruangan yang sempit itu. Aku melihat bagaimana struktur kaleng itu mulai meluruh. Alumuniumnya tidak mencair, melainkan terurai menjadi molekul-molekul kecil yang kemudian disusun kembali oleh tangan-tangan tak terlihat.

[Proses Pengolahan: 15%... 45%... 88%...]

[Peringatan: Mendeteksi jejak waktu dari tahun 2144. Mengonversi data S.O.S menjadi fungsi fungsional.]

Mataku terbelalak. Tahun 2144? Itu lebih dari seratus tahun dari sekarang. Sebelum sempat aku mencerna informasi itu, cahaya biru itu meledak dalam satu denyutan terakhir yang lembut.

Di atas meja, kaleng soda yang kotor itu sudah hilang. Sebagai gantinya, berdiri sebuah botol kecil berbahan kristal bening dengan desain futuristik yang sangat elegan. Di dalamnya, terdapat cairan berwarna hijau zamrud yang berpendar, seolah-olah ada kehidupan yang terperangkap di sana.

[Item Berhasil Diciptakan!]

[Nama: Liquid Life: Essence of 2144]

[Grade: S (High-Level Recovery Potion)]

[Efek: Menyembuhkan luka fisik secara instan dan meregenerasi sel syaraf yang rusak. Menghilangkan efek lelah selama 48 jam.]

[Catatan: "Jangan biarkan mereka mati di masa lalu." — Pengirim Anonim.]

Tanganku terulur, menyentuh permukaan botol yang terasa dingin namun bergetar pelan. "Grade S?" suaraku tercekat di tenggorokan. Di pasar gelap pinggiran kota, ramuan pemulih Grade C saja harganya c**up untuk membiayaku makan selama sebulan. Ramuan Grade S... itu adalah sesuatu yang bahkan para elit Guild tidak bisa miliki dengan mudah.

Namun, kegembiraanku mendadak sirna. Sebuah perasaan tidak enak menusuk tengkukku. Insting yang kutajamkan selama bertahun-tahun hidup di jalanan meneriakkan satu hal: *Bahaya.*

Aku menoleh cepat ke arah jendela kecil yang hanya ditutupi selembar plastik tebal. Di sana, di balik kegelapan lorong kumuh yang lembap, aku melihat sebuah siluet. Seseorang sedang berdiri di balik tumpukan krat kayu, bayangannya memanjang karena terkena lampu jalan yang berkedip-kedip.

Cahaya dari proses 'Recycle' tadi mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tapi di pemukiman yang gelap gulita ini, itu seperti suar di tengah laut.

Aku segera menyambar botol itu dan menyembunyikannya di balik jaket lusuhku. Aku bergerak tanpa suara menuju sudut ruangan, mengambil sebuah besi tajam—alat pemulungku yang paling setia.

"Keluar," kataku, mencoba membuat suaraku terdengar lebih berani daripada yang kurasakan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara tetesan air dari pipa bocor di luar.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru menjauh. Langkah itu ringan, cepat, dan sangat terlatih. Itu bukan langkah kaki pemabuk atau pemulung biasa. Itu adalah langkah kaki seorang pengint**.

Aku memberanikan diri mengintip melalui celah dinding seng. Di kejauhan, aku melihat seorang pria dengan mantel abu-abu gelap sedang menekan sesuatu di telinganya—sebuah alat komunikasi.

"Target terkonfirmasi," pria itu berbisik, suaranya terbawa angin malam yang sunyi. "Ada anomali energi di Sektor 7. Koordinat pemulung itu. Sepertinya dia baru saja melakukan *transmutasi* ilegal."

Jantungku berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari dada. Transmutasi ilegal? Guild rahasia? Aku hanya seorang pemulung yang ingin makan kenyang besok pagi, tapi sepertinya benda yang baru saja kubuat adalah sebuah undangan menuju kematian.

Sistem di depan mataku tiba-tiba berkedip merah.

[Peringatan: Keberadaan pengguna telah terdeteksi oleh 'The Watchers'.]

[Saran: Segera tinggalkan lokasi. Sinyal dari masa depan mulai menarik perhatian yang tidak diinginkan.]

Aku melihat sekeliling kamarku yang menyedihkan. Tidak ada yang berharga di sini kecuali sistem di kepalaku dan botol di dalam jaket ini. Jika aku bertahan di sini, aku akan berakhir di meja interogasi—atau lebih buruk lagi, di dalam lubang pembuangan tanpa nama.

Aku menyambar tas kainku, mema**kkan beberapa potong roti kering, dan bersiap untuk melompat keluar dari pintu belakang. Namun, sebelum tanganku menyentuh gerendel pintu, suara dentuman keras menghantam dinding depan gubukku.

"Aris! Aku tahu kau di dalam!" Sebuah suara serak yang kukenal—Bento, kepala preman pasar bawah—berteriak dari balik pintu. "Serahkan barang yang baru saja bersinar tadi, atau kami akan membakar kotak korek api ini bersamamu di dalamnya!"

Aku mengeratkan pegangan pada botol Grade S di balik jaketku. Aku baru saja mendapatkan tiket keluar dari kemiskinan, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya dariku. Meskipun itu berarti aku harus mengubah seluruh kota ini menjadi medan perang.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca