Uap dingin mengepul dari celah pipa bawah tanah, berbaur dengan aroma logam berkarat dan minyak mesin yang menyengat. Aris menarik tudung jaketnya lebih rendah, menutupi sebagian besar wajahnya yang diterangi cahaya neon redup dari papan reklame "Pasar Gelap Sektor 7" yang berkedip-kedip. Di balik saku jaketnya yang tebal, telapak tangannya berkeringat, terus-menerus meraba sebuah objek berbentuk silinder kecil yang terasa hangat.
Itu adalah *Pulse Capacitor* yang telah ia proses melalui Nexus Recycler semalam. Barang yang tadinya hanya tumpukan sampah sirkuit terbakar, kini telah bermutasi menjadi *Eternal Flux Core* dengan grade S. Di dunianya yang hancur, benda itu adalah jantung bagi mesin-mesin perang atau penyokong daya kota yang sanggup bertahan selama seratus tahun tanpa henti.
"Jangan terlihat mencolok, Aris. Ingat, kau hanya pemulung yang beruntung," bisiknya pada diri sendiri, mengatur napasnya yang memburu.
Ia melangkah ma**k ke dalam sebuah toko bertuliskan "Old Benβs Relics". Lonceng di atas pintu berdenting pelan, memecah kesunyian ruangan yang penuh dengan tumpukan rongsokan robot dan modul memori usang. Di balik meja konter, seorang pria tua dengan mata sibernetik yang terus berputar fokus menatap layar hologram kecil.
"Tutup pintunya, Nak. Udara di luar terlalu asam untuk paru-paruku yang sudah tua ini," suara Ben parau, kering seperti gesekan amplas pada besi.
Aris mendekat tanpa suara. Ia tidak duduk. Matanya menyisir setiap sudut ruangan, memastikan tidak ada kamera tersembunyi yang aktif selain sensor keamanan standar.
"Aku punya sesuatu untuk ditukar," ujar Aris singkat. Ia sengaja merendahkan suaranya agar terdengar lebih berat.
Ben mendongak, mata sibernetiknya berkedip merah saat memindai sosok Aris. "Semua pemulung bilang begitu. Biasanya hanya kabel tembaga atau baterai bekas yang bocor. Aku tidak menerima sampah hari ini."
Tanpa menjawab, Aris merogoh saku dan meletakkan *Eternal Flux Core* di atas bantalan beludru kumal di depan Ben.
Seketika, ruangan itu seolah tersedot ke dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya biru safir yang murni memancar dari sela-sela ukiran mikroskopis pada badan silinder tersebut. Aris bisa melihat pantulan cahaya itu di bola mata mekanis Ben yang kini berhenti berputar, terpaku pada benda itu.
Tangan Ben yang gemetar perlahan meraih alat pemindai genggam. "Ini... ini tidak mungkin."
Saat pemindai itu menyentuh permukaan Flux Core, bunyi *pip* yang panjang dan melengking bergema. Layar hologram di atas meja tiba-tiba memunculkan barisan kode eror berwarna merah, diikuti oleh simbol yang jarang sekali terlihat di pasar bawah tanah: *Grade SSS - Undefined Origin.*
"Si****," Ben memaki pelan, wajahnya memucat di bawah lampu neon. "Nak, kau tahu apa yang kau bawa ini? Ini bukan sekadar suku cadang. Ini adalah teknologi pra-Kiamat yang bahkan tidak ada dalam database pusat. Di mana kau menemukannya?"
Aris mengerutkan kening, insting bertahan hidupnya berteriak. "Aku tidak di sini untuk menjawab pertanyaan. Beri aku harga. Aku butuh modal cair. Sekarang."
Ben menelan ludah, jemarinya dengan cepat mengetik sesuatu di konsolnya. "Sepuluh... tidak, lima puluh ribu Credit. Tidak, itu terlalu rendah. Benda ini bisa membeli satu distrik di kota atas jika dilelang dengan benar."
"Aku butuh seratus ribu Credit sekarang, dan sisa pembayarannya dalam bentuk akses ke material mentah kelas tinggi," Aris memberikan tawaran yang menurutnya ma**k akal.
Namun, sebelum Ben sempat menjawab, sebuah lampu peringatan merah di sudut ruangan mulai berputar tanpa suara. Aris melihat ke arah pintu. Sensor keamanan toko itu tiba-tiba terkunci secara otomatis.
"Ben, apa yang kau lakukan?" Aris melompat mundur, tangannya secara insting mencari pisau pemulung di pinggangnya.
"Bukan aku! Sistem keamananku terhubung dengan jaringan broker pusat!" Ben berteriak panik, tangannya menari di atas keyboard untuk mencoba mematikan alarm. "Nilai barang ini... nilainya terlalu tinggi, Aris! Algoritma pasar otomatis menandai transaksi ini sebagai 'Anomali Level Tinggi'. Kau memicu protokol pengawasan Otoritas Sektor!"
Wajah Aris menegang. Ia telah membuat kesalahan pemula. Ia terlalu meremehkan betapa berharganya barang yang ia ciptakan. Ia mengira ini hanya akan menjadi transaksi cepat di sudut gelap kota, tapi *Nexus Recycler* miliknya telah menciptakan sesuatu yang terlalu suci untuk tempat sekotor ini.
Suara deru mesin *drone* terdengar dari luar toko, diikuti oleh dentuman keras di pintu depan.
"Buka pintu atas nama Departemen Pengawasan Aset!" sebuah suara dingin dan terdistorsi oleh modulasi suara bergema dari luar.
Aris menyambar kembali *Flux Core* dari meja, mema**kkannya ke dalam saku dengan kasar. "Ben, ada jalan keluar lain?"
Ben menunjuk ke arah lubang pembuangan sampah di belakang konter dengan wajah penuh ketakutan. "Lari, Nak! Jika mereka menemukanmu dengan benda itu, kau tidak akan berakhir di penjara. Kau akan berakhir di meja otopsi!"
Aris tidak menunggu instruksi kedua. Ia melompat ke atas konter, namun tepat saat ia hendak terjun ke lubang pembuangan, pintu depan toko itu meledak hancur. Dua sosok dengan armor taktis hitam legam ma**k, memegang senapan penekan denyut nadi yang diarahkan tepat ke dadanya.
Di lengan armor mereka, terdapat logo sebuah sayap yang melingkari bola duniaβlambang dari *Iron Aegis*, guild rahasia yang mengontrol peredaran teknologi di seluruh dunia.
"Subjek teridentifikasi," salah satu dari mereka berbicara ke arah komunikator di helmnya. "Menemukan artefak kelas SSS. Lakukan penyitaan... dan eliminasi saksi."
Aris merasakan jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena sistem di dalam kepalanya tiba-tiba memberikan notifikasi yang berkedip merah di sudut penglihatannya.
**[Peringatan: Ancaman Terdeteksi. Mengaktifkan Mode Pertahanan Darurat.]**
**[Gunakan 'Flux Core' untuk Overload Sistem Sekitar? Y/N]**
Aris menatap para pengejarnya dengan tatapan tajam. Ia menyadari satu hal: mulai hari ini, hidupnya sebagai pemulung yang tenang telah berakhir. Ia baru saja melempar umpan ke kolam penuh hiu, dan sekarang, ia harus belajar bagaimana cara memburu hiu-hiu itu.
Tanpa ragu, jarinya menyentuh tombol 'Y' di layar virtualnya. Aris tersenyum tipis di balik masker wajahnya saat cahaya biru dari sakunya mulai berdenyut liar, siap meledakkan apa pun yang menghalangi jalannya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!