Uap dingin mengepul dari celah pipa yang bocor, menyatu dengan aroma apak dari dinding beton yang berlumut. Aku merapatkan jaket lusuhku, merasakan berat yang tidak biasa dari kantong tersembunyi di balik kainnya. Di sana, sebuah modul sirkuit yang baru saja selesai diproses oleh Nexus Recycler berdenyut pelan, memancarkan kehangatan samar yang terasa seperti detak jantung di telapak tanganku.
Mataku terus melirik ke arah genangan air di aspal yang retak, bukan untuk menghindari basah, melainkan untuk menangkap bayangan di belakangku. Sejak meninggalkan pasar gelap di Sektor 4, perasaan seperti ada sembilu yang menusuk tengkukku tidak kunjung hilang. Seseorang sedang mengikutiku. Dan mereka c**up ahli untuk tetap berada di zona butaku.
"Sial," bisikku pelan. "Baru satu hari aku memegang artefak Grade S, dan lalat-lalat ini sudah mencium baunya."
Aku memutar arah, ma**k ke dalam gang sempit yang diapit oleh dua gedung apartemen bobrok yang nyaris runtuh. Langkah kakiku sengaja kubuat tidak beraturan, meniru ritme langkah para pemabuk atau gelandangan yang biasa memenuhi kawasan ini. Pikiranku berputar cepat, memetakan setiap rongsokan yang kukenal di radius dua kilometer. Aku butuh tempat baru. Kontrakan sempitku di pinggiran rel sudah tidak aman lagi; mereka pasti sudah menandai tempat itu.
Tiba-tiba, layar semi-transparan berwarna biru safir muncul di depan mataku.
**[PERINGATAN: Deteksi Fluktuasi Energi Mana Buatan dalam radius 15 meter.]**
**[Status: Ancaman Terdeteksi. Identifikasi Target: Black Aegis Scout.]**
Jantungku berdegup kencang. Black Aegis. Mereka bukan sekadar preman pasar yang ingin merampas beberapa keping koin. Mereka adalah guild rahasia yang melayani para oligarki, unit pembersih yang biasanya hanya bergerak jika ada artefak tingkat tinggi yang muncul ke permukaan.
Aku mempercepat langkah, namun saat aku mencapai ujung gang yang bermuara di gudang tua bekas pabrik pengalengan, langkahku terhenti.
Tiga pria berdiri di sana. Mereka tidak mengenakan zirah berat yang mencolok, melainkan setelan taktis hitam dengan material yang menyerap cahaya. Di dada mereka, terpampang emblem perisai hitam dengan mata satu di tengahnya—simbol khas Black Aegis.
"Berhenti di situ, Pemulung," suara itu datang dari arah belakang.
Aku berbalik pelan, mengangkat tangan setengah tinggi untuk menunjukkan gestur tidak berbahaya, meski jemariku sudah menyentuh pelatuk 'Pulse Disruptor'—sebuah alat kecil dari rongsokan radio yang telah diubah sistem menjadi senjata pelumpuh Grade A—yang kuselipkan di lengan baju.
Seorang pria dengan bekas luka bakar di rahang bawah melangkah maju. Matanya tajam, memindai tubuhku seolah-olah dia sedang melihat tumpukan uang berjalan. "Aris, kan? Nama yang c**up sederhana untuk seseorang yang baru saja menyebabkan anomali energi tingkat SSS di radar pemantau kami."
"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan," jawabku, suaraku datar meski tenggorokanku terasa kering. "Aku hanya mencari tembaga dan kabel sisa. Kalau kalian mau area ini, silakan. Aku akan pergi."
Pria itu terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Jangan menghina kecerdasan kami. Sampah yang kau pungut di tempat pembuangan minggu lalu... itu bukan sampah biasa. Kami tahu kau memiliki sesuatu yang bisa memurnikan artefak yang sudah mati. Serahkan alat itu, atau kami akan mengambilnya dari mayatmu."
Aku merasakan getaran dingin dari Nexus Recycler di dalam pikiranku. Sistem itu seolah-olah berbisik, memberiku opsi-opsi yang menggiurkan sekaligus mengerikan.
**[Opsi Pertahanan Terdeteksi: Aktifkan 'Junkyard Overload'?]**
**[Persyaratan: Korbankan 1 item Grade B untuk meledakkan area sekitar.]**
Aku menahan diri. Belum saatnya. Jika aku meledakkan tempat ini, seluruh kota akan tahu posisiku. Aku harus menghilang, bukan memulai perang terbuka.
"Aku tidak punya apa-apa," kataku sambil mundur satu langkah, mendekat ke arah tumpukan kont**ner berkarat. "Tapi kalau kalian ingin mencari sesuatu, mungkin kalian harus memeriksa ini."
Dengan gerakan kilat, aku menarik Pulse Disruptor dan menekan pemicunya.
*ZAP!*
Gelombang elektromagnetik biru meledak dari tanganku. Ketiga pria di depanku tersentak saat perangkat taktis mereka mengalami arus pendek, mengeluarkan percikan api kecil. Namun, pemimpin mereka, si pria dengan luka bakar, hanya terhuyung sejenak. Tangannya bercahaya kemerahan—dia adalah seorang *Awakened* tipe penguat fisik.
"Mainan yang bagus," geramnya. Dia menerjang ke depan dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Tinju kanannya mengayun, memecahkan udara dengan suara dentuman.
Aku menjatuhkan diri, berguling di aspal yang kasar, merasakan angin dari serangannya melewati kepalaku. Sial, dia lebih cepat dari yang kuduga. Aku merangkak dengan cepat, menyelinap di antara celah kont**ner yang sempit, tempat yang tidak bisa dima**ki oleh orang dengan tubuh sebesar dia.
"Cari dia! Jangan biarkan tikus ini lari ke pemukiman!" teriak pemimpin itu.
Aku berlari di kegelapan gudang, napasku memburu. Di depanku, ada sebuah pintu lift barang yang sudah mati bertahun-tahun. Dengan sisa tenaga, aku memanggil interface sistem.
"Nexus! Analisis pintu lift itu! Bisakah kau memperbaikinya dalam sepuluh detik?"
**[Analisis Selesai. Pintu Lift Barang: Status Rusak Total.]**
**[Kebutuhan Perbaikan: 50 Material Logam (Tersedia), 1 Inti Energi (Tersedia dalam tas).]**
**[Estimasi Waktu: 3 detik.]**
"Lakukan!"
Cahaya keemasan berpendar dari ujung jariku saat aku menyentuh panel kontrol yang berkarat. Dalam sekejap, kabel-kabel yang terputus seolah-olah hidup kembali, merayap dan menyambung seperti saraf manusia. Suara mesin tua yang menderu memecah kesunyian gudang.
Tepat saat pintu lift terbuka, sebilah pisau lempar menancap di dinding, hanya beberapa sentimeter dari telingaku. Si pria luka bakar sudah berada di ujung lorong, matanya merah karena amarah.
"Kau tidak akan bisa lari, Aris! Seluruh kota ini adalah mata kami!"
Aku melompat ma**k ke dalam lift dan menekan tombol lant** paling bawah—basement yang terhubung dengan saluran pembuangan kota. Saat pintu besi itu tertutup perlahan, aku menatap pria itu dengan senyum miring yang dipaksakan untuk menutupi ketakutanku.
"Kalau begitu, katakan pada bosmu," kataku saat celah pintu semakin menyempit, "untuk berhenti mengirim amatir jika ingin menangkap sultan rongsokan."
Lift itu merosot jatuh dengan sentakan keras, membawaku ke kegelapan di bawah kota. Namun, saat lift itu berhenti di lant** dasar, jantungku seolah berhenti berdetak.
Di depan pintu lift yang terbuka, bukan saluran pembuangan yang kosong yang menantiku. Seseorang sudah berdiri di sana, memegang sebuah tablet digital dengan logo Black Aegis yang jauh lebih besar dan mewah.
"Terima kasih sudah membukakan pintunya, Aris," ucap suara wanita yang tenang namun dingin. "Kami sudah menunggumu di bawah sini."
Aku mengepalkan tinju. Persembunyian baru ini... ternyata adalah jebakan yang jauh lebih besar.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!