Cahaya biru neon dari antarmuka Nexus Recycler memantul di bola mata Aris, memberikan rona pucat yang tidak wajar pada wajahnya yang tegang. Di dalam bengkel bawah tanah yang lembap itu, hanya suara dengung mesin dan tetesan air dari pipa bocor yang memecah keheningan. Aris mengusap keringat dingin di dahi dengan punggung tangan yang masih berlumuran oli.
Di depannya, sebuah jam tangan mekanik kuno—yang baru saja ia ubah menjadi *Chronos Perception Engine* peringkat SSS—bergetar hebat di atas meja kerja. Namun, alih-alih menampilkan statistik kekuatan seperti biasanya, layar holografik sistem justru berkedip-kedip merah. Huruf-huruf aneh yang menyerupai bahasa pemrograman yang rusak mulai bergulir cepat, menutupi pandangannya.
"Sial, bukan sekarang," desis Aris. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menekan tombol *cancel*, tetapi sistem tidak merespons.
Tiba-tiba, deretan kode itu berhenti bergulir. Sebuah jendela notifikasi baru muncul, berwarna hitam pekat dengan garis tepi merah darah.
**[PERINGATAN: Sinyal S.O.S Terdeteksi dalam Struktur Data Artefak]**
**[Mendekripsi Pesan Tersembunyi... 12%... 45%...]**
"Sinyal S.O.S?" Aris bergumam pelan, suaranya serak. Jemarinya gemetar saat ia menyentuh layar udara, mencoba menstabilkan aliran data. "Nexus, jelaskan. Siapa yang mengirim ini?"
Sistem tidak menjawab dengan suara, melainkan dengan serangkaian gambar yang terproyeksi langsung ke dalam benaknya. Aris tersentak, mencengkeram pinggiran meja kayu yang lapuk hingga kuku-kukunya memutih.
Ia melihat sebuah kota yang sangat ia kenal—metropolis tempat ia tinggal—tetapi dalam kondisi yang mengerikan. Langitnya bukan lagi biru atau abu-abu polusi, melainkan ungu gelap yang seolah terkoyak. Gedung-gedung pencakar langit runtuh seperti biskuit yang diremas, dan orang-orang berlarian sebelum tubuh mereka tiba-tiba terurai menjadi debu cahaya.
*“Tolong kami… Hentikan siklus ini…”*
Suara itu bukan berupa bunyi, melainkan gema keputusasaan yang menghujam kesadarannya. Aris memejamkan mata rapat-rapat, namun visual itu tetap ada. Ia melihat dirinya sendiri di masa depan, berdiri di atas tumpukan rongsokan yang mencakup seluruh dunia, memegang Nexus Recycler yang bersinar dengan intensitas yang membutakan.
**[Dekripsi Selesai: 100%]**
**[Isi Pesan: "Setiap ciptaan adalah retakan. Setiap peningkatan adalah kehancuran. Kami adalah sisa-sisa dari apa yang kau lakukan."]**
Aris terengah-engah saat proyeksi itu menghilang. Ia jatuh terduduk di kursi besinya yang berderit. Napasnya memburu, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja disedot keluar. Ia menatap tangannya—tangan yang selama beberapa minggu terakhir ia banggakan karena mampu mengubah sampah menjadi harta karun.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya pada kehampaan. "Aku hanya ingin bertahan hidup. Aku hanya tidak ingin kembali memungut sisa makanan di tempat sampah!"
Ia memaksakan diri untuk berdiri, matanya terpaku pada statistik tersembunyi yang tiba-tiba muncul di sudut bawah antarmuka sistem. Sebuah bar kemajuan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
**[Stabilitas Ruang-Waktu Lokal: 88.42% (Menurun)]**
**[Status: Retakan Mikro Terdeteksi di Koordinat Saat Ini]**
Aris menoleh ke arah *Chronos Perception Engine* yang masih tergeletak di meja. Benda itu sangat indah, dengan gir emas yang berputar mulus dan aura magis yang kuat. Namun, kini Aris melihat sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya. Di sekitar jam tangan itu, udara tampak bergetar, seperti fatamorgana di atas aspal panas. Ada celah-celah hitam sekecil rambut yang muncul dan menghilang di udara sekitarnya.
"Setiap kali aku membuat item... setiap kali aku menggunakan sistem ini..." Aris menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumbat pasir. "Aku sedang merobek dunia ini?"
Pragmatismenya mulai berperang dengan ketakutannya. Jika ia berhenti menggunakan Nexus Recycler, ia akan kembali menjadi Aris si pemulung—sasaran empuk bagi guild-guild besar yang kini mulai mengendus keberadaannya. Tanpa teknologi ini, ia tidak punya kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri. Namun, jika ia melanjutkan, ia sedang membangun singgasananya di atas bom waktu yang akan memusnahkan segalanya.
Tiba-tiba, sensor keamanan yang ia pasang di pintu ma**k bengkel berbunyi nyaring. Layar monitor CCTV kecil di sudut ruangan menyala, menampilkan tiga orang pria berjas taktis hitam dengan lambang sayap perak di lengan mereka.
"Guild Silver Wing," geram Aris. Matanya menyipit. "Bagaimana mereka bisa menemukanku secepat ini?"
Ia melirik kembali ke arah jam tangan SSS-Class itu. Sinyal stabilisasi ruang-waktu di sistemnya mendadak merosot ke angka 88.40% tepat saat ia menyentuh jam tersebut. Setiap detik ia memegang item itu, retakan di udara semakin lebar.
Aris tahu ia harus melarikan diri, tetapi sistemnya tiba-tiba memberikan peringatan baru yang jauh lebih mendesak.
**[Deteksi Anomali: Entitas Masa Depan sedang mencoba melintasi retakan yang baru saja kau buka]**
Suara dentuman keras terdengar dari arah pintu besi bengkelnya. Bukan suara ketukan atau dob**kkan manusia, melainkan suara logam yang dicabik-cabik oleh sesuatu yang jauh lebih kuat. Di tengah ruangan, tepat di atas jam tangan legendaris buatannya, udara benar-benar pecah. Sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku hitam yang panjang mulai merayap keluar dari celah dimensi yang gelap gulita.
Aris mundur selangkah, tangannya meraba pisau karatan di pinggangnya, meski ia tahu itu tidak akan berguna. "Nexus... apa yang baru saja aku lepaskan?"
Sistem hanya menjawab dengan satu baris teks dingin:
**[Siklus Kiamat: Dimulai]**
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!