Lonceng berkarat di atas pintu kedai "The Rusty Cog" berdenting malas saat aku melangkah ma**k. Bau oli mesin terbakar dan uap alkohol murahan langsung menyerbu indra penciumanku, sebuah aroma yang sangat akrab bagi siapa pun yang tumbuh besar di pinggiran distrik kumuh. Aku menarik tudung jaketku lebih rendah, membiarkan bayang-bayang menutupi sebagian wajahku. Mataku menyapu ruangan yang remang-remang, mencari sosok yang telah mengirimkan koordinat terenkripsi ke terminal pribadiku pagi tadi.
Di sudut paling belakang, jauh dari jangkauan lampu neon yang berkedip-kedip sekarat, seorang wanita duduk sendirian. Ia mengenakan parka kebesaran dengan noda jelaga di lengannya. Di depannya, segelas cairan biru berpendar dibiarkan tak tersentuh.
Aku mendekat, tanganku tetap berada di dalam saku, menggenggam sebuah *multi-tool* yang sudah dimodifikasi oleh Nexus Recycler menjadi belati bergetar frekuensi tinggi. Di dunia ini, paranoia adalah cara terbaik untuk tetap hidup.
"Kau terlambat tiga menit, Aris," ucapnya tanpa mendongak. Suaranya rendah, serak seolah jarang digunakan, namun memiliki ketegasan yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku menarik kursi di hadapannya dan duduk. "Di zona ini, tiga menit adalah waktu yang dibutuhkan seseorang untuk tertembak atau dirampok. Aku hanya memastikan tidak ada yang mengikutiku."
Wanita itu akhirnya mengangkat kepala. Wajahnya pucat, kontras dengan rambut hitam legam yang dipotong pendek berantakan. Namun, yang paling menarik perhatianku adalah matanyaβirisnya berwarna perak metalik, bukan karena implan siber murah, melainkan sesuatu yang tampak jauh lebih organik dan mendalam.
"Namaku Luna," katanya singkat. Ia mendorong sebuah keping data kecil ke arahku.
Aku tidak menyentuhnya. "Aku tidak memintamu bertemu hanya untuk bertukar nama. Kau bilang kau tahu asal-usul 'sampah' yang kubawa minggu lalu ke pasar gelap."
Luna tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang lebih terlihat seperti luka daripada keramahan. "Sampah? Kau menyebut artefak Grade SSS itu sebagai sampah? Nexus Recycler-mu mungkin bisa mengubahnya menjadi senjata legendaris, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa benda itu adalah sebuah jeritan minta tolong."
Jantungku berdegup kencang. Bagaimana dia tahu tentang Nexus Recycler? Sistem itu seharusnya tertanam di dalam kesadaranku, tidak terdeteksi oleh pemindai apa pun. Aku mencondongkan tubuh, tatapanku menajam. "Siapa kau sebenarnya?"
Luna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih botol minumannya, lalu menuangkan sedikit isinya ke atas meja kayu yang bopeng. Dengan ujung jarinya, ia menggambar sebuah simbol melingkar yang rumitβsebuah jam pasir yang retak di tengahnya. Simbol yang sama yang kutemukan terukir pada casing logam 'Reaktor Inti Pulsar' yang kupulung dari tumpukan rongsokan tiga hari lalu.
"Kau memungut sejarah yang belum terjadi, Aris," bisik Luna. Suaranya kini bergetar karena emosi yang tertahan. "Barang-barang yang kau sebut rongsokan itu... itu adalah sisa-sisa dari sebuah peradaban yang akan runtuh lima puluh tahun dari sekarang. Ayahku yang mengirimnya."
Aku tertawa hambar, meski rasa dingin mulai menjalar di punggungku. "Kau bercanda? Perjalanan waktu? Pesan dari masa depan? Itu hanya dongeng pengantar tidur bagi mereka yang terlalu banyak menghirup limbah kimia."
"Lihat keping data itu," desak Luna, matanya kini berkaca-kaca. "Buka filenya dengan sistemmu. Kau akan melihat tanda tangan digital yang sama dengan kode sumber Nexus Recycler-mu."
Dengan ragu, aku meletakkan telapak tanganku di atas keping data tersebut. *[Nexus Recycler: Memindai Data Eksternal...]* Antarmuka transparan muncul di bidang penglihatanku, hanya bisa dilihat olehku.
*[Sinkronisasi Berhasil. Membuka Pesan Terenkripsi: 'Proyek Genesis - Harapan Terakhir'.]*
Mataku membelalak saat ribuan baris kode mengalir melewati kesadaranku. Di sana, di bagian paling dasar dari algoritma sistem yang selama ini kupikir adalah anugerah acak, terdapat sebuah nama pencipta: *Elias Vance.*
"Elias Vance adalah kakek buyutku," kata Luna, suaranya kini hanya berupa bisikan pecah. "Dia menghabiskan seluruh hidupnya membangun gerbang celah waktu untuk mengirim sinyal S.O.S ini kembali ke masa laluβke masa kita sekarang. Dia tahu kiamat sedang datang, dan dia memilihmu sebagai penerimanya karena garis keturunanmu adalah satu-satunya yang mampu mengoperasikan Recycler tanpa hancur menjadi debu."
Aku tertegun. Nexus Recycler bukan sekadar alat untuk menjadi kaya. Ini adalah beban. Sebuah tanggung jawab yang dikirimkan oleh orang-orang yang sudah kalah, berharap aku bisa mengubah hasil akhirnya.
"Kenapa kau baru muncul sekarang?" tanyaku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
"Karena guild rahasia 'The Monolith' sudah menemukan lokasi jatuhnya artefak berikutnya," Luna meraih tanganku, jemarinya terasa sedingin es. "Dan kali ini, yang jatuh bukan sekadar mesin rusak. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang menyeberang, Aris. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah menyentuh tanah di abad ini."
Tiba-tiba, jendela kedai pecah berkeping-keping. Suara dengingan drone tempur kelas militer memenuhi ruangan. Lampu merah peringatan dari sistemku mendadak berkedip liar di depan mataku.
*[PERINGATAN: Anomali Temporal Terdeteksi dalam Radius 50 Meter! Target: SSS-Class Entity 'The Harbinger'.]*
"Mereka di sini," desis Luna sembari menarik pistol laser dari balik parkanya. "Dan mereka tidak datang untuk bernegosiasi."
Aku berdiri, memanggil antarmuka sistemku dengan satu pikiran. Jika apa yang dikatakan Luna benar, maka pemulung sepertiku baru saja menjadi garis pertahanan terakhir dunia. Dan aku sama sekali tidak siap untuk itu.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!